Bedah Klip Video: Detail Keindahan Semesta

Menonton Klip Syair Manunggal (foto oleh Adi Tamtomo)
Menonton Klip Syair Manunggal (foto oleh Adi Tamtomo)

Tema Syair Manunggal yang sangat kental bernafaskan spiritual Islam bukanlah arah musik Cupumanik di masa depan. Itu hanyalah bagian kecil dari keseluruhan dimensi musik dan karya artistik mereka. Sebaliknya, aransemen Syair Manunggal justru merupakan gaya lama mereka, saat Rama (gitaris) masih jadi bagian dari Cupumanik. Demikian penjelasan resmi Eski dan Che menjawab pertanyaan saya selaku moderator dalam acara bedah klip video yang digelar di Paviliun 28, Jakarta, pada hari Minggu (27/11) lalu.

Dalam kesempatan itu, semua anggota Cupumanik juga bergantian memaparkan dinamika kreatif mereka saat ini. Tinggal di 3 kota berbeda (Jakarta, Bogor, dan Bandung), Cupumanik kini mengandalkan teknologi komunikasi semacam e-mail dan WhatsApp untuk berkirim sket lagu. Dalam proses kreatif mereka, Che, Doni, dan Iyak terbilang cukup sering jamming bersama. Sementara Eski yang tinggal di Bandung biasanya baru gabung saat sosok lagu sudah benar-benar rampung.

Bedah klip dan diskusi sore itu dihadiri sekitar 50-an Cupumaniak yang berasal dari Jakarta, Depok, Bekasi, Bandung, Cirebon, dan Surabaya. Mereka terlihat sangat menikmati suguhan klip di layar bioskop kecil yang memang membuat Syair Manunggal semakin terasa nuansa kemegahan alamnya.

Soal arah musik, selintas Eski menyebutkan “semesta rakyat” sebagai tema besar yang akan diangkat dalam album ketiga Cupumanik. Lebih jauh, dia menjelaskan bahwa tema itu berkisar seputar people power dan jati diri orang Indonesia dalam pergumulan mereka untuk meraih hidup yang lebih baik.

Ketika dikonfirmasi soal tema tersebut, anggota Cupumanik lainnya malah bilang bahwa ini kali pertama mereka dengar konsep itu disampaikan Eski. Nah, lho?

Adi dan Chicco, duo-sutradara yang menggarap klip video Syair Manunggal, didaulat untuk menjelaskan proses di balik layar. Bermodalkan stok foto yang diproyeksikan ke layar bioskop kecil, mereka memaparkan bagaimana klip tersebut disusun, mulai dari brainstorming, survey, pengambilan gambar, hingga proses editing. Sesi yang sangat menyenangkan.

Ketika ditanya apa filosofi utama di balik klip video tersebut (yang sangat banyak menampilkan keindahan alam secara detail menggunakan macro shot), Adi menjelaskan bahwa dirinya sengaja melakukan itu. Tuhan menciptakan keindahan yang detail, demikian dia menjelaskan. Klip video itu ingin mengajak penontonnya kembali memahami itu. Menjadi peka terhadap anugerah. Betapa detail keindahan alam yang sudah diciptakan Tuhan untuk kita, manusia.

Cupumanik di Paviliun 28
Cupumanik di Paviliun 28

Bedah klip video kemudian dilanjutkan dengan sesi akustik. Lokasi acara berpindah dari bioskop kecil ke ruang utama kedai. Mobikin asal Jakarta, Tajam asal Bandung, Artificial Sun (yang digawangi Adi) yang sedang menyiapkan album perdana, dan Cupumanik jadi penampil. Bergantian mereka membawakan lagu demi lagu, mulai dari The Beatles, Deep Purple, Pearl Jam, hingga lagu-lagu karangan mereka sendiri.

Sambil duduk di balkon, saya menikmati itu semua bersama Rudi dan Topang. Selain sudut pandangnya unik, posisi itu membuat saya leluasa menghindar dari sergapan asap rokok.

Cupumanik membawakan 9 lagu, termasuk lagu yang membuat saya pertama kali jatuh cinta pada mereka, Perkenankan Aku Mencintainya. Semua dibawakan dalam versi akustik. Semua terdengar apik. Cupumanik, dalam nuansa bunyi yang lebih sunyi dibanding biasanya, terasa sangat kontemplatif dan dalam.

Diskusi musik yang asyik, dilanjutkan sesi akustik. Ah, betapa saya merindukan acara berkelas semacam itu. Mengupas dimensi lain dari musik. Dimensi yang, menurut saya, terasa sangat akademis. Mencerahkan!

Navicula Kali Ketiga Puluh Sembilan

Konser Navicula di Noname Bar
Konser Navicula di Noname Bar

Noname Bar di Poins Square, Lebak Bulus, semalam (1/11) full house. Ratusan fans Navicula memadati lokasi gig, dari pintu masuk hingga ke bibir panggung. Sebagian – yang sepertinya semua berprofesi sebagai fotografer lepas – malah duduk di area panggung.

Siapa pun yang hadir malam itu, terlebih kalau memang doyan Navicula, pasti bersyukur. Gembira luar biasa. Bagaimana tidak? Robi memenuhi janjinya di social media untuk menyuguhkan long set. Malam itu, long set Navicula terdiri dari 20 lagu. Beberapa adalah lagu langka yang jarang mereka bawakan lagi dan beberapa dibawakan bersama bintang tamu yang tidak terduga.

Amar, tentu saja, bisa kita duga. Setelah potong rambut dan kehilangan beberapa kilo berat badan, dia benar-benar terlihat seperti pedagang kain dari India. Setidaknya, itulah opini Robi yang disampaikannya sambil terpingkal di panggung.

Amar Besok Bubar (Menghitung Mundur)
Amar Besok Bubar (Menghitung Mundur)

Meminjam gitar Robi, Amar dengan fasih kemudian jamming bersama Navicula, membawakan salah satu lagu paling sakti mereka, Menghitung Mundur. Robi yang kemudian bernyanyi sambil jalan ke sana ke mari, akhirnya menerjukan diri ke kerumunan penonton. Dia crowd surfing!

Tentu saja penonton menggila. Dan gelas pecah. Sejak lagu ketiga, Like A Motorbike, penonton sudah sinting dan bergantian crowd surfing. Benar, kan? Lagu langka.

Bintang tamu kedua, sungguh tidak terduga. Endah dari folks duo Endah N’ Rhesa. Really? Dan kalian tahu lagu apa yang dipilih Endah untuk dibawakan bersama Navicula? Aku Bukan Mesin! Fuck!

Bermodalkan gitar pinjaman dari Dankie, Endah menyikat bersih Aku Bukan Mesin, dari intro hingga solo guitar. Siapa pun yang hanya mengenalnya dari lagu-lagu folks lembut yang kebanyakan bertema cinta pasti menganga. OMG. Aku Bukan Endah!

Endah (Aku Bukan Mesin)
Endah (Aku Bukan Mesin)

Malam itu, secara berurutan Navicula membawakan Intro (saya tidak tahu judul lagu instrumental ini), Everyone Goes to Heaven, Like A Motorbike, Kali Mati, Orangutan, Love Bomb, Menghitung Mundur (feat Amar Besok Bubar), Busur Hujan, Alive (Pearl Jam), Aku Bukan Mesin (feat Endah), Tomcat, Di Rimba, All Apologies (Nirvana), Spoonman (hanya intro), Mafia Hukum (seharusnya dibawakan bersama Iga Barasuara, tapi batal karena yang bersangkutan sakit), Harimau! Harimau!, Mawar dan Melati, Televishit, Saat Semua Semakin Cepat Bali Berani Berhenti, lagu reggae (saya tidak tahu judulnya, dimainkan Robi untuk menghormati band pembuka yang memang beraliran reggae, Magic Seaweed), dan Metropolutan.

Bagi saya, konser ke-39 Navicula yang saya tonton semalam adalah salah satu yang terbaik. Energi mereka meledak di ruang sempit. Seperti biasa, Navicula bermain layaknya rock band kelas dunia. Tight, super fueled, and fucking kick ass. Menonton mereka, kalau standar performanya seperti itu, rasanya tidak mungkin bosan. 100 kali lagi juga saya masih bersedia. Barangkali saya akan mempertimbangkan untuk pindah ke Bali.

Dankie dua kali ganti gitar. Dan di pengujung Televishit dia ugal-ugalan. Mencabik gitar sembari crowd surfing. Dem!

Sialnya, saya tidak melihat aksinya itu sampai dia diturunkan di bibir panggung, karena saya menikmati raungan gitarnya sambil memejamkam mata. Asap rokok, celakalah kalian semua, memaksa saya kerap memejamkan mata, bahkan mencucinya dengan air mineral di meja.

Di tengah lagu Mawar dan Melati, Made unjuk skill dengan memainkan solo bass. Gembul, jangan ditanya. Dari awal hingga akhir, gebukannya menghantam seperti peluru. Keras dan cepat. Tanpa ampun. Di akhir lagu Metropolutan, yang sekaligus menjadi lagu pamungkas Navicula malam itu, dia menggila. Rusuh!

Sudah lewat tengah malam dan saya ngantuk berat. Mata perih karena asap rokok dan mulut asam akibat menyesap sopi kepala. Itu, kalau kalian mau tahu, adalah minuman alkohol yang diproduksi oleh masyarakat di pulau Pura, Alor. Saatnya pulang. Dan tertidur lelap. Dan mimpi indah. Karena Navicula, sekali lagi, telah menerbangkan saya ke langit melalui suguhan konser rock penuh energinya.

Menemukan Tuhan Semesta Alam


Lahirnya klip video Cupumanik berjudul Syair Manunggal yang menampilkan keindahan alam membuat saya berpikir. Lebih tepatnya, mengenang masa lalu, ketika saya masih kuliah dan mendaki gunung jadi menu mingguan.

Saya kuliah di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia. Sudah merupakan rahasia umum kalau pada era ‘90-an akhir kampus itu jadi markasnya gerakan remaja berbasis keagamaan. Mahasiswa, terutama yang baru, digiring ke dalam sesi-sesi kajian keagamaan yang, menurut saya, tidak banyak gunanya bagi kehidupan sehari-hari. Juga bagi kemakmuran masyarakat pada umumnya.

Dalam sebuah sesi kajian di sore hari – ya, saya kadang suka iseng ikut sesi seperti itu bersama teman-teman pendaki gunung, demi cari makan gratis – sang mentor membahas kegemaran kami mendaki gunung. Dia bicara sesuatu seperti ini: kenapa pendaki gunung yang mencintai alam tidak meneruskan penelurusan batinnya hingga menemukan Tuhan Yang Menciptakan Alam?

Mentor itu, yang entah kini sudah jadi politisi PKS atau barangkali malah anggota DPR (saya tidak begitu peduli dia jadi apa saat ini, karena pada dasarnya saya tidak tertarik pada orang yang bahkan di usia mudanya sudah doyan menghakimi orang lain), benar sekali. Mendaki gunung setiap akhir pekan, menikmati kesunyian alam, dan mengagumi kemegahannya, rasanya mustahil tidak bermuara pada cinta pada Sang Pencipta.

Pada saat bersamaan, dia juga salah. Kenapa dia menyimpulkan bahwa kami – setidaknya saya – pada saat itu tidak menemukan Tuhan? Apakah pendaki gunung berambut gondrong dengan mulut yang senantiasa mengepulkan asap rokok dan kadang berbau alkohol tidak bisa menemukan Tuhan? Apakah Tuhan milik dia sendiri? So typical.

Saya, melalui pendakian-pendakian gunung itu, menemukan Tuhan. Saya mencintai Dia. Hanya saja, Tuhan yang saya temui, yang saya cintai sepenuh hati, sepertinya berbeda dengan Tuhan dalam kerangka pikir dan doktrin agama milik sang mentor ini. Selamanya akan berbeda.

Kembali ke klip video Syair Manunggal milik Cupumanik.

Pemilihan pemandangan alam – dengan banyak sekali extreme close-up shot di dalamnya – dalam sebuah klip video musik jelas aneh. Setidaknya, bagi sebuah rock band yang menyatakan diri grunge. Daun, semut, burung, rusa, danau, sungai, kabut, dan beragam komponen keindahan alam pegunungan lainnya disajikan dari awal hingga akhir. Suguhan itu rasanya lebih masuk akal kalau dirilis oleh National Geographic atau Discovery Channel ketimbang Cupumanik.

Tentu saja saya mengerti. Lebih tepatnya, belagak mengerti.

Che, melalui bacaan buku dan doktrin-doktrin yang diikutinya, jelas bicara tentang Tuhan dari sudut pandang agama Islam. Dalam Syair Manunggal, dia menuliskan kerinduannya pada Tuhan yang, anehnya, tidak mampu diperoleh melalui pemahaman doktrin semata. Buku, secara tersirat dalam lirik-lirik itu, telah gagal membawanya kepada kesadaran tertinggi sebagai manusia.

Kali ini, Che dipaksa meninggalkan buku-bukunya. Akhirnya semua dikembalikan ke alam. Kepada kepekaan hati untuk merasakan kehidupan di sekitar. Untuk meresapi dan menghargai karunia Sang Pencipta.

Bermodalkan pendekatan seperti itulah, saya rasa, Cupumanik kemudian menemukan Tuhan mereka.

Klip video Syair Manunggal, di mata saya, adalah ajakan untuk menemukan Tuhan yang universal. Bebas dari doktrin agama mana pun. Karena di sana tersirat pernyataan bahwa untuk menemukan Tuhan, yang kita butuhkan bukanlah kitab dan doktrin-doktrin melangit, melainkan kepekaan nurani. Itu saja.

Melalui klip video ini, barangkali, Cupumanik telah mengambil tikungan artistik dan filosofis terbesar dalam karir musik mereka yang semakin dewasa.