Zat Kimia – Aku (live At Nabeshima Creative Space) – SoundCloud

Listen to Zat Kimia – Aku (live At Nabeshima Creative Space) by zatkimia #np on #SoundCloud

Dalam suaranya ada kekalutan yang indah. Juga dorongan kuat untuk memberontak pada keadaan. Namun di atas segalanya, Aku milik Zat Kimia adalah kepedihan yang tidak termaafkan.

Ian bicara soal manusia pada umumnya. Meski demikian, selalu terbuka kemungkinan bahwa dia tengah mengutuki dirinya sendiri.

Tengah malam, saat lelah menghantam selepas jam kerja, adalah waktu paling tepat untuk mendengarkan lagu ini.

Dan kemudian hanyut dalam kekalutan manusia fana yang sungguh tanpa daya. Namun, anehnya, sekligus terasa indah.

Quality Audience

Kita hidup pada era ketika hampir semua hal gratis. Setidaknya, sangat murah. Ambil contoh social media. Dengan beragam fiturnya yang bagus, Facebook, Twitter, dan platform lainnya disodorkan kepada kita tanpa memungut biaya.

Tentu saja kita tahu, tidak ada barang gratis di dunia ini. Uang tidak tumbuh di pohon. Kalau ada produk gratis, itu artinya kitalah – para penggunanya – produk yang dijual. Mereka menjual kita.

Produk gratis melahirkan kelompok pengguna gratisan. Iya. Memang ada kelompok yang berkualitas. Orang-orang yang menggunakan produk itu dengan intens dan rela membayar. Tapi selama produk itu gratis, sebagian besar penggunanya pastilah bermental gratisan. Coba saja tebak, seandainya untuk mengakses Facebook kita harus bayar Rp10.000 per bulan, apa masih ada yang mau?

Produk gratis selalu mampu menghasilkan pengguna gratisan yang jumlahnya besar. Sangat besar. Maka kemudian datanglah pengiklan. Dengan naif, para pengiklan berkantung tebal itu kemudian menggelontorkan iklan dan berharap pengguna produk gratis tersebut melirik iklan mereka. Syukur-syukur membeli apa yang ditawarkan.

Pengguna produk gratis yang memang bermental gratisan, apa iya mau beli barang dan jasa yang ditawarkan dalam iklan? Entahlah.

Bapak Kepada Anaknya

Mulutku sampah. Aku tahu. Aku gemar memaki, baik orang lain maupun diriku sendiri.

Namun begitu, kepada anakku – bahkan saat sedang keki sekali pun – aku selalu mendoakan kebaikan. Saat itulah, hanya pada saat itu, aku sepenuhnya meyakini keberadaan Tuhan. Dan kemahabaikan-Nya.

Kalau aku yang brengsek saja begitu, tentu yang santun akan lebih mumpuni. Maka dengan demikian aku meyakini, naluri orangtua adalah memang mendoakan yang baik untuk anak-anaknya.

Naluri itu, aku duga, tidak hadir dalam diri kebanyakan politisi, dosen, pemuka agama, pemilik pabrik, pelaksana negara, dan sosok-sosok berkuasa lainnya. Barangkali mereka memang enggan menjadi orangtua bagi rakyat jelata macam kita. Itulah mengapa tak ada kebaikan yang mereka harapkan terjadi atas diri kita, rakyat Indonesia.

Lalu, mau apa?