DDH: Jakarta, Jagalah Rumah Kalian

DDH di Record Store Day Jakarta (foto oleh Topang)

Rasanya tidak ada ajakan mengarungi bahtera hidup dalam kasih yang lebih indah dari apa yang dinyanyikan Dialog Dini Hari (DDH) dalam konsernya di Record Store Day di Kuningan City, Jakarta, Jumat (21/4) malam. Dengan suara paraunya yang hangat, Pohon Tua melantunkan bait ini: Perempuanku, genggam tanganku… Lalu menyusurlah bersamaku… Jika suaramu tak terdengar… Ku ‘kan berteriak bersamamu…

Setelah dibuka oleh Zio yang membawakan tiga lagu dari solo album-nya yang bakal segera rilis, DDH menyejukkan gerahnya udara malam dengan delapan lagu. Berurutan mereka membawakan Pohon Tua Bersandar, Temui Diri, Kita dan Dunia, Jalan dalam Diam, Pelangi, Renovasi Otak, Aku Adalah Kamu, dan Tentang Rumahku.

Semalam adalah konser Pohon Tua (tunggal atau bersama DDH) ke-28 yang saya tonton. Dan, anehnya, baru semalam saya akhirnya benar-benar sadar, DDH bukanlah sekadar band bagus dengan lagu-lagu dan live performance bagus, melainkan sebuah band hebat yang mengusung pesan-pesan penting dalam karya dan keseluruhan kehadirannya. Mereka adalah permata Indonesia. Sebagai fans, saya merasa bangga.

Pohon Tua boleh saja tinggal di Bali. Sosoknya pun seperti enggan bicara soal ide-ide hebat nan melangit layaknya banyak musisi lain. Namun dia sama sekali tidak buta politik. Sebaliknya, dia sangat melek. Dan punya pandangan yang luar biasa jernih tentang itu.

Sambil terkekeh, dia menggoda penonton sebelum membawakan Jalan dalam Diam. “Senang sekali. Malam ini wajah kalian ceria semua. Sumringah. Mungkin karena mau dapat rumah baru, ya?” Kontan semua tertawa dan kemudian bersatu menyanyikan keseluruhan lagu itu. Sebenarnya, kami semua yang hadir di situ bernyanyi bersama dari awal konser hingga usai. Delapan lagu penuh. Sepenuh jiwa.

Tentu saja DDH bukanlah band politik. Lagu-lagu mereka rasanya tidak ada yang bicara terbuka soal itu. Di setiap gelombang nada, lekuk lirik, dan penjuru tikungan harmoni lagu-lagu mereka kita bisa menemukan kekuatan hidup. Bukan kekerasan. Apalagi kebencian.

Susana politik Jakarta yang beberapa bulan terakhir direkayasa oleh beberapa pihak sedemikian rupa hingga memunculkan perpecahan antar-umat beragama, di mata DDH, adalah hal yang sangat disayangkan. Namun demikian, bukan sesuatu yang harus dibenci, melainkan bersama diperbaiki.

Dengan semangat itu, DDH kemudian membawakan satu lagu lama tentang kebersamaan. Tentang kenyataan yang sering kita lupakan, bahwa umat manusia sesungguhnya adalah satu, bahwa ketika saya menyakitimu, sebenarnya saya sedang menyakiti diri sendiri. Aku adalah Kamu.

Gamblang dan jelas, juga dengan sangat lembut seperti biasanya, Pohon Tua menyampaikan pesan kasihnya itu sebelum menutup konser dengan Tentang Rumahku. Dalam suaranya tidak ada paksaan untuk setuju. Untuk satu suara. Yang terdengar hanyalah ajakan untuk kembali mendengarkan suara hati dan menjalani hidup dalam harmoni.

“Jakarta,” begitu katanya. “Jagalah rumah kalian.”

Review Film: LOGAN (2017)

Tentu saja ada beberapa orang yang membawa anak di bawah umur dan bahkan balita untuk menonton Logan. Meski kode umur film jelas tertera di tiket dan banyak himbauan beredar di social media, orang Indonesia memang sepertinya terlahir pandir.

Well, Indonesian. Tidak perlulah berharap terlalu banyak pada mereka. Lihat saja kelakukan kampungan mereka dalam Pilgub DKI Jakarta.

Sebagai fans DC, kali ini saya terpaksa mengakui Marvel sukses menghadirkan film superhero layak tonton bagi kelompok umur dewasa. Logan, tidak seperti film keluaran Marvel lainnya yang umumnya penuh humor dan ringan, terasa berat, serius, dan sangat gelap.

Gelap dalam artian bagus. Sangat bagus.

Soal anak-anak di bawah umur dan balita tadi, film ini memang penuh adegan keras dan sadis. Darah muncrat sejak menit pertama dan tidak berhenti muncrat sampai film berakhir. Kecuali kamu mau saya golongkan dalam kelompok orang Indonesia pandir, sebaiknya jangan bawa anak dan balitamu.

Sosok Logan (atau Wolverine, kalau kamu lebih suka itu) tampil utuh di film ini. Secara fisik dan emosional. Pergulatan batinnya menyeret kita untuk sesekali terpaksa berpikir tentang hidup kita sendiri. Tentang nasib sial yang menimpa dan keputusan-keputusan yang kita ambil. Tentang penyesalan dan godaan untuk menyerah kalah.

Tidak perlulah berpanjang lebar cerita soal Logan. Film ini sangat bagus bahkan di mata fans DC seperti saya yang selalu keki melihat keberhasilan Marvel.

Bedah Klip Video: Detail Keindahan Semesta

Menonton Klip Syair Manunggal (foto oleh Adi Tamtomo)
Menonton Klip Syair Manunggal (foto oleh Adi Tamtomo)

Tema Syair Manunggal yang sangat kental bernafaskan spiritual Islam bukanlah arah musik Cupumanik di masa depan. Itu hanyalah bagian kecil dari keseluruhan dimensi musik dan karya artistik mereka. Sebaliknya, aransemen Syair Manunggal justru merupakan gaya lama mereka, saat Rama (gitaris) masih jadi bagian dari Cupumanik. Demikian penjelasan resmi Eski dan Che menjawab pertanyaan saya selaku moderator dalam acara bedah klip video yang digelar di Paviliun 28, Jakarta, pada hari Minggu (27/11) lalu.

Dalam kesempatan itu, semua anggota Cupumanik juga bergantian memaparkan dinamika kreatif mereka saat ini. Tinggal di 3 kota berbeda (Jakarta, Bogor, dan Bandung), Cupumanik kini mengandalkan teknologi komunikasi semacam e-mail dan WhatsApp untuk berkirim sket lagu. Dalam proses kreatif mereka, Che, Doni, dan Iyak terbilang cukup sering jamming bersama. Sementara Eski yang tinggal di Bandung biasanya baru gabung saat sosok lagu sudah benar-benar rampung.

Bedah klip dan diskusi sore itu dihadiri sekitar 50-an Cupumaniak yang berasal dari Jakarta, Depok, Bekasi, Bandung, Cirebon, dan Surabaya. Mereka terlihat sangat menikmati suguhan klip di layar bioskop kecil yang memang membuat Syair Manunggal semakin terasa nuansa kemegahan alamnya.

Soal arah musik, selintas Eski menyebutkan “semesta rakyat” sebagai tema besar yang akan diangkat dalam album ketiga Cupumanik. Lebih jauh, dia menjelaskan bahwa tema itu berkisar seputar people power dan jati diri orang Indonesia dalam pergumulan mereka untuk meraih hidup yang lebih baik.

Ketika dikonfirmasi soal tema tersebut, anggota Cupumanik lainnya malah bilang bahwa ini kali pertama mereka dengar konsep itu disampaikan Eski. Nah, lho?

Adi dan Chicco, duo-sutradara yang menggarap klip video Syair Manunggal, didaulat untuk menjelaskan proses di balik layar. Bermodalkan stok foto yang diproyeksikan ke layar bioskop kecil, mereka memaparkan bagaimana klip tersebut disusun, mulai dari brainstorming, survey, pengambilan gambar, hingga proses editing. Sesi yang sangat menyenangkan.

Ketika ditanya apa filosofi utama di balik klip video tersebut (yang sangat banyak menampilkan keindahan alam secara detail menggunakan macro shot), Adi menjelaskan bahwa dirinya sengaja melakukan itu. Tuhan menciptakan keindahan yang detail, demikian dia menjelaskan. Klip video itu ingin mengajak penontonnya kembali memahami itu. Menjadi peka terhadap anugerah. Betapa detail keindahan alam yang sudah diciptakan Tuhan untuk kita, manusia.

Cupumanik di Paviliun 28
Cupumanik di Paviliun 28

Bedah klip video kemudian dilanjutkan dengan sesi akustik. Lokasi acara berpindah dari bioskop kecil ke ruang utama kedai. Mobikin asal Jakarta, Tajam asal Bandung, Artificial Sun (yang digawangi Adi) yang sedang menyiapkan album perdana, dan Cupumanik jadi penampil. Bergantian mereka membawakan lagu demi lagu, mulai dari The Beatles, Deep Purple, Pearl Jam, hingga lagu-lagu karangan mereka sendiri.

Sambil duduk di balkon, saya menikmati itu semua bersama Rudi dan Topang. Selain sudut pandangnya unik, posisi itu membuat saya leluasa menghindar dari sergapan asap rokok.

Cupumanik membawakan 9 lagu, termasuk lagu yang membuat saya pertama kali jatuh cinta pada mereka, Perkenankan Aku Mencintainya. Semua dibawakan dalam versi akustik. Semua terdengar apik. Cupumanik, dalam nuansa bunyi yang lebih sunyi dibanding biasanya, terasa sangat kontemplatif dan dalam.

Diskusi musik yang asyik, dilanjutkan sesi akustik. Ah, betapa saya merindukan acara berkelas semacam itu. Mengupas dimensi lain dari musik. Dimensi yang, menurut saya, terasa sangat akademis. Mencerahkan!