DDH Rilis Lagu Terkait Korona Berjudul “KULMINASI II”

Sejak kali pertama mendengar langsung dari mulut Dadang cerita sesungguhnya di balik lagu “Pohon Tua Bersandar”, saya paham bahwa Dialog Dini Hari (DDH) memang punya cara unik yang sakti untuk mengubah kisah pahit hidup menjadi lagu yang indah. Di tangan mereka, nasib buruk tidak lahir menjadi dendam, melainkan doa.

Kali ini pun sama saja. Ketika wabah korona melanda Indonesia dan sudah mencabut tak kurang dari 113.000 nyawa manusia di seluruh dunia, mereka merilis single anyar berjudul “Kulminasi II”. Tidak mungkin salah dipahami, lagu itu bercerita tentang hidup kita yang mendadak berubah gara-gara korona. Langit jadi biru, jalanan mencekam, jendela terbuka, rumah ibadah ditutup. Sebuah gambaran mengerikan betapa kehidupan berbelok ke arah yang kita tidak tahu ujungnya.

Tapi coba tengok liriknya. Dadang, dengan nada megah menyanyikan “manusia bernyanyi menghibur lainnya/ manusia bersujud berdoa ‘tuk lainnya”. Alangkah indahnya! Bait itu dengan tepat menangkap kekuatan kemanusiaan yang memang hanya bangkit saat tertekan keadaan.

Yang membuat saya terkejut gembira, di single anyarnya ini, DDH menyuguhkan porsi gitar listrik. Ya, betul! Tidak ada lagi batas kaku folk/blues yang mengharuskan aransemen gitar akustik. DDH, seperti juga kita semua yang sedang berjuang menghadapi wabah korona, seperti membebaskan dirinya dari keterbatasan. Dari kekangan. Menuju arah bunyi yang sama sekali baru.

Kalau “Kulminasi II” ini ternyata merupakan cetak biru album baru DDH, saya pribadi akan menyambutnya dengan gembira. Sangat gembira. Mengikuti perjalan musik mereka sama nikmatnya seperti mengikuti kehidupan itu sendiri. Mengalir tak terduga. Berbelok dengan berani. Namun tetap setia pada inti dari semua, bahwa tujuan seni adalah menggetarkan jiwa. Bahwa dalam setiap lagu termuat doa.

Dan tepatlah kiranya bait ini jadi penutup lagu “hari ini kita paham tentang kematian/ tapi cinta terus tumbuh kembali di kehidupan”.

Merdeka 100%, 100% Menyegarkan

Apa yang dapat dilakukan lelaki yang sedang patah hatinya? Memainkan blues. Apa yang dapat dilakukan rakyat jelata yang terhimpit hidupnya? Menertawakan kenyataan. Lalu apa yang dapat dilakukan lelaki melarat yang sedang limbung kehilangan cinta? Mendengarkan Made Mawut!

Ya. Betul sekali. Mendengarkan lagu-lagu Made Mawut di album “Merdeka 100%” seperti sebuah perjalanan bunyi yang menyadarkan bahwa hidup seratus persen bisa dan memang perlu ditertawai. Nasib sial memang terasa pahit, namun itu tidak perlu sampai menghanguskan keberanian untuk terus berjalan. Yang sengsara dan patah hatinya boleh tetap hidup. Bahkan tersenyum. Meski kecut.

Dengan suara gitar yang seperti berasal dari tahun 50-an, lirik-lirik Made Mawut terbang bebas. Terdengar lucu tanpa bermaksud melawak. Terasa perih tanpa keinginan meminta belas kasihan.

Dalam Lingkaran Setan, ia menyoroti payahnya pendidikan formal di negeri ini. Dari zaman dulu sampai sekarang, metode pendidikan kita ya gitu-gitu aja. Sama sekali tidak menginspirasi. Simak petikan liriknya ini: Tangan terlipat di atas meja… Mata ke depan seperti kuda… Hati berdebar-debar… Karena gurunya seram…

Betapa gambaran itu sangat relevan bahkan sampai sekarang. Proses belajar di sekolah meletakkan siswa sebagai objek penderita. Sama sekali jauh dari menyenangkan!

Simak juga Blues Kamar Mandi yang bicara soal air. Barang sepele di negeri yang curah hujannya demikian tinggi seperti Indonesia. Namun nyatanya, karena air sekarang dikuasai pengusaha dan jadi barang yang mahal, Made Mawut secara hiperbola menceritakan bahwa dirinya sampai tidak bisa mandi. Bukan karena malas, melainkan karena airnya tidak tersedia.

Air kini hari, barang yang mahal… Air bersih, barang yang lekang… Air dikuasai para pengusaha…

Blues, di ujung jari dan pita suara Made, terdengar menghibur. Jauh dari usaha berlebihan untuk menjadi serius. Namun sama sekali tidak kehilangan bobotnya. Di era yang sudah kelewat sesak dengan lagu-lagu indie yang mengasihani diri sendiri, “Merdeka 100%” terasa menyegarkan. Sangat menyegarkan.

Saman dan Larung Bikin Patah Hati

Baca Saman dan Larung, dua novel karya Ayu Utami yang mahalegendaris itu, bikin saya patah hati. Sakit hati. Sungguh keji.

Ya, saya tahu. Saya terlambat dua puluh tahun baca novel itu. Sangat terlambat. Tapi seperti karya sastra lainnya, tidak ada yang lekang dari Saman maupun Larung. Keduanya punya kisah yang sama nyatanya. Tanpa ampun menghantam perasaan terdalam.

Saya suka Saman. Saya kenal orang seperti Saman. Yang rela melempar hidupnya sendiri ke tungku berapi untuk membela hidup orang lain. Sosok yang biasanya jadi korban. Dan memang begitulah. Saman pada akhirnya memang jadi korban.

Saya juga suka Larung. Saya juga kenal orang seperti Larung. Yang memandang hidup dengan kehampaan. Tanpa prasangka berlebihan. Juga tanpa harapan berlebihan. Hampa. Sosok yang biasanya telah demikian lama menjalani hidup yang penuh luka dengan berani. Sampai mati. Dan benarlah. Larung akhirnya memang mati.

Sengkarut relasi manusia menjadi menu utama. Penuh cinta, kecewa, dan juga gairah. Dibumbui kondisi politik Indonesia yang kacau. Kekerasan dan pemaksaan. Bahkan pembunuhan. Saman, Larung, Sihar, Laila, Yasmin, Cok, dan Shakuntala. Mereka mengaduk perasaan saya. Mengacak-ngacak keyakinan saya soal hidup, Tuhan, relasi manusia, hubungan seks, dan pemahaman akan diri sendiri. Ayu Utami, sungguh terlalu!

Saya harus akui, tidak banyak karya sastra Indonesia yang saya baca. Bukan sombong. Melainkan memang kurang berbudaya. Wawasan saya sempit. Maka ketika saya memutuskan untuk membaca, saya terperangah. Begitu indah. Begitu pilu. Kemegahan hidup yang gagah berani dan rasa kehilangan yang sepi serta kekalahan yang sulit ditelan menyatu tanpa bisa dipisah lagi.

Hidup, dari novel Saman dan Larung, ya memang kejadian demi kejadian demi kejadian yang sengkarut tak tentu juntrungan. Dan saya suka. Soalnya, hidup saya penuh sengkarut.