Regenerate: Album Baru Endah N Rhesa (2019)

Meskipun saya memang sudah selesai menulis naskah buku tentang perjalanan kreatif Endah N Rhesa (EAR), saya tidak pantas disebut sebagai fans terbesar mereka. Sejujurnya, saya tidak mengikuti sepak terjang mereka di dunia musik indie Indonesia sejak awal. Baru setelah serius menulis buku mereka sajalah – dan lumayan sering ngobrol hingga tengah malam bahkan dini hari bersama keduanya – saya mulai banyak menyimak lagu-lagu dan penampilan panggung suami istri yang unik itu. Goddamn serious couple.

Dari semua album yang pernah mereka rilis, album kelima yang diberi tajuk Regenerate ini, menurut kuping awam saya, adalah yang paling santai. Terdengar sangat modern, ceria namun lembut. Tidak meledak-ledak. Nyaris tidak ada kepedihan yang manis di sana. Semua tersaji rapi dan solid. Sangat mudah untuk dicintai.

Album ini sepertinya cocok sekali jadi musik latar road trip segerombolan perempuan muda berjiwa merdeka. Mengendarai mobil menembus jalan-jalan di pelosok negeri, menunggang angin dan mengumpulkan kenangan. What a great trip it would be!

Entah di Indonesia ada atau tidak gerombolan seperti itu, mengingat belakangan semua orang bergegas kepengin masuk surga sehingga sangat abai pada keindahanan kehidupan kita di dunia. Dan perempuan, dalam kerangka pikir seperti itu, tentu saja jadi kaum yang paling dikekang. Dan disalahkan. So sad.

Well, kalau gerombolan perempuan muda seperti itu benar-benar ada di Indonesia, maka berkatilah jiwa muda dan merdeka mereka. Sesungguhnya kita butuh lebih banyak yang semacam itu.

Jangan tanya mana lagu yang paling enak. Bagi saya, Regenerate terdengar seperti seharusnya sebuah album penuh. Kita bisa mendengarnya berulang-ulang tanpa sadar mana lagu pertama dan terakhir. Enak. Enak.

Album Terbaru Dialog Dini Hari: Parahidup (2019)

Manusia terlahir dengan segala ketidaksiapan. Dalam perjalanan hidup, kita menemukan apa yang kemudian kita suka, cinta, dan kuasai. Juga yang kemudian hilang dan kita rindukan. Menikmati Dialog Dini Hari (DDH), rasanya tidak ada yang lebih dekat dibanding perasaan seperti itu. Perasaan yang demikian dekat, seperti melihat diri sendiri: lahir, tumbuh, dan berkembang.

Bicara soal perkembangan musik mereka, sudahi sajalah. Sejak Lengkung Langit yang kemudian diikuti Tentang Rumahku, DDH seperti tak terhentikan. Menikung mereka, menanjak, bahkan terkadang seperti terbang bebas. Bebas lepas dalam berkarya. Tak henti menyentak dan memberi rasa hangat di dalam hati. Perasaan nyaman yang seperti berbisik lekat di telinga, “Tenang, mas. Di sini, di negeri yang semakin kering keberanian berkarya ini, masih ada kami.”

Rasanya saya bakal pensiun dini menulis opini soal lagu-lagu mereka. Sudahlah. Nikmati saja. Hidup, Peran Terakhir, Jerit Sisa, Kuingin Lihat Wajahmu dan semuanya. Dan semuanya. Ini melampaui semua yang pernah ada.

Single Anyar Endah N Rhesa: Done Anyway

Endah N Rhesa (EAR) yang tampil mesra dan santai di panggung, sungguh berbeda dengan yang saya jumpai di markas mereka Earhouse, Pamulang. Terlebih saat bicara soal musik dan arah kreatif. Keduanya sama bersemangat. Dan sangat serius.

Maka ketika – di sela wawancara materi buku mereka – saya berkesempatan mendengarkan beberapa lagu yang akan masuk ke album teranyar EAR (saat itu saya belum diberi tahu apa judul albumnya), diskusinya berkutat di seputar isu: apakah warna baru yang mereka pilih akan berbuah manis atau sebaliknya, bikin celaka. Sebuah diskusi yang kelewat serius dan jelas bukan bidang keahlian saya. Apa pun, itu diskusi yang sangat menarik. Terlebih karena kopinya malam itu enak.

Tapi bukan itu yang kepengin saya bicarakan di sini. Bukan. Saya kepengin bicara soal single ketiga mereka yang berjudul Done Anyway.

Pertama kali dengar, yang muncul di kepala adalah Macy Gray. Dan ternyata nama itu tidak muncul di kepala saya saja, melainkan di banyak kepala. Cara Endah mengambil nada dan bernyanyi di lagu itu, entah memang demikian atau ini hanya kesan dari kuping awam saja, serak namun bertenaga. Alih-alih terdengar lelah, dia malah terdengar nyaris ceria. Benar-benar terdengar seperti Macy Gray.

Musiknya, lagi-lagi bagi kuping awam saya, semacam perpaduan ciamik antara John Mayer dan Jack Johnson. Jenis musik yang membuat kita kepengin angkat koper dan pergi berlibur. Leyeh-leyeh di tepi pantai sambil menyeruput bir dingin.

Anehnya, dan ini benar-benar tidak bisa saya cerna hingga hari ini, tema lagu itu ternyata tentang bubaran. Bukan bubaran toko tentu saja (itu lebih cocok untuk jadi tema lagu bagi Sawung Jabo atau Iwan Fals), melainkan bubarnya sebuah hubungan asmara. Lha, kok bisa?

Entahlah. Tanya saja Endah.

Dan saya memang benar-benar bertanya ke dia. Dengan bangga kemudian dia menunjukkan rilis pers yang ditulisnya sendiri, yang menjelaskan lagu itu sebagai sebuah perayaan perpisahan. What the fuck? Whatever.

Sampai hari ini, saya menolak tema lagu itu. Di kepala saya, lagu itu adalah ajakan berenang ke pantai. Dan, dengan setengah botol wine yang baru saja saya habiskan saat saya mulai menulis post ini, biarlah kita sepakat bahwa lagu itu memang nyanyian liburan.

Hey ho, let’s go!!!