Review Buku: Filosofi Teras

Saya sudah empat puluh. Jelas bukan milenial. Tapi buku Filosofi Teras yang sepertinya ditulis oleh Henry Manampiring khusus bagi generasi milenial ini ternyata bisa masuk juga ke hati saya. Pada usia yang tidak lagi peduli apakah membaca buku tertentu membuat saya kelihatan keren atau malah bodoh, saya berani bilang bahwa buku ini menampar kesadaran dengan menyenangkan.

Seperti kebanyakan buku dalam negeri lainnya, saya merasa sebenarnya buku ini bisa dipangkas jadi dua pertiganya saja. Banyak sekali contoh dan penjelasan yang terasa mengulang. Barangkali itu metode menyampaikan pesan yang memang cocok bagi generasi milenial, dengan pengulangan, persis seperti lagu-lagu kesukaan mereka yang liriknya hanya beberapa potong saja itu. Saya tidak paham soal itu. Namun demikian, ide soal filosofi “woles” dalam buku ini disampaikan dengan baik sekali. Pelan dan tersusun rapi. Hampir terasa seperti buku memasak. Satu per satu bahannya dikupas, disatukan, dan kemudian disuguhkan jadi menu yang sedap. Yang membuka mata hati.

Sebenarnya saya memang tidak pernah terlalu memusingkan hal-hal di luar kendali. Opini orang terhadap saya adalah urusan mereka sendiri. Kalau mereka kebetulan tidak menyukai saya, well, I’m sorry but that’s their problem. Not mine. Dalam buku ini, pemikiran seperti itu ternyata adalah salah satu fondasi penting dari konsep yang disebut dikotomi kendali. Saya mendadak seperti mendapat pembenaran. Suck it up, haters!

Dua hal terbaik yang saya peroleh dari buku ini ada di sesi awal tentang dikotomi kendali itu dan di sesi akhir tentang parenting. Tidak usah berpanjang lebar. Saya tidak pernah kuliah filsafat dan tidak mau mendadak sok filosofis. Intinya, dikotomi kendali membagi dua kejadian buruk dalam hidup yang menimpa kita sebagai hal yang dapat kita kendalikan atau tidak. Kalau dapat kita kendalikan, perbaiki. Sebaliknya, kalau tidak bisa dikendalikan, ya biarkan saja. Jalani. Tidak perlu banyak drama. Apalagi sampai memendam dendam segala.

Hal terbaik kedua adalah soal parenting. Betapa gamblang dan sederhana. Orangtua tidak perlu ngotot menuntut ini itu dari anaknya. Anak adalah individu merdeka. Hanya karena kitalah yang melahirkan dan kemudian membesarkannya, tidak serta merta anak tersebut jadi berutang segala sesuatunya pada kita. Saya berani taruhan ide ini tidak akan begitu saja diterima di Indonesia.

Atas dua pemikiran itu, saya sepenuhnya setuju. Hidup memang kerap menyakitkan. Ya, biar saja. Barangkali memang itulah definisi paling tepat dari hidup, yaitu menyuling kesakitan dan kemudian mereguk kebahagiaan yang lahir darinya.

Dan kepada anak saya, jadilah kamu anak yang berbahagia saja. Tidak perlu lagi repot-repot jadi anak soleh, berbakti pada orangtua, berguna bagi bangsa, dan segala macam omong kosong parenting yang umum kita kumandangkan. Masa kanak-kanak hanya sekali. Nikmatilah sebagai bocah. Dan saya akan menikmati peran sebagai orangtua yang terus belajar. Kamu dan saya, kita sama-sama belajar.

Terima kasih, Filosofi Teras.

Kado Ultah Terindah: Dialog Dini Hari!

Adakah yang lebih indah dari semua ini? Rumah mungil dan cerita cinta yang megah…

Lirik lagu Tentang Rumahku milik Dialog Dini Hari (DDH) itu sungguh tepat untuk menggambarkan harian Kompas yang hari itu merayakan ulang tahun ke-53. Tempat saya cari makan dalam 14 tahun terakhir itu memang kecil dan sarat cerita. Sebagian indah, sebagian menjengkelkan, tapi hampir semuanya membanggakan. Itulah kiranya harian Kompas bagi saya.

Ketika DDH mengomando ratusan fans-nya untuk bernyanyi bersama di pelataran Bentara Budaya Jakarta semalam (28/6), saya larut dalam kenangan. Lagu itu – yang saya cintai sejak pertama kali sketnya dimainkan Dankie pada siang yang panas di sebuah rumah di bilangan Ulujami, Jakarta sebelum malamnya dia manggung dalam pagelaran Pearl Jam Nite V di MU Café tahun 2010 – mendadak punya makna yang semakin dalam. Sebuah kado ulang tahun yang sangat berkesan.

Dankie memulai set DDH dengan sedikit kikuk. Barangkali dia grogi. Tampil di hadapan puluhan penulis cerpen papan atas dalam acara resmi yang digelar oleh institusi berita paling berpengaruh di Indonesia mungkin membuat rambut gimbalnya mengkerut. Bisa dimaklumi.

Bukan Dankie namanya kalau tidak bisa keluar dari tekanan. Setelah unjuk kepiawaian gitar di lagu keempat, Temui Diri, dia memberi “kata sambutan” yang – di luar kebiasaan – terdengar sangat mengesankan sebelum kemudian memainkan Aku adalah Kamu. Sedikit sentilan soal pilkada dan keyakinannya pada keberagaman. Ratusan orang pun serentak mengamini dan bertepuk tangan ketika dia, dengan cool, menyatakan, “Tak apa kita berbeda agama, yang penting satu iman.”

Dankie. You boleh!

Malam itu DDH membawakan 10 lagu. Pohon Tua Bersandar yang gelap, Lengkung Langit yang cerah, Pelangi yang menyentuh, Temui Diri yang terasa jazzy, Satu Cinta yang penuh perasaan, Sediakala yang luar biasa fresh, Aku adalah Kamu yang menyulut kor massal, Oksigen (disambung lagu dari album solo Zio) yang penuh atraksi, Pagi yang sarat kenangan manis, dan Tentang Rumahku yang membuat rindu jatuh ke pelukan malam. Satu jam penuh yang sungguh meneduhkan.

Tentu saja besoknya DDH tidak bisa pulang langsung ke Bali karena gunung Agung meletus dan semua penerbangan ke Bali dihentikan. Jadilah mereka kemudian terbang ke Surabaya dan meneruskan perjalanan menggunakan transportasi darat.

Itulah kiranya hidup. Penuh kejutan. Seperti juga hidupnya harian Kompas yang kini berada di tikungan tajam. Apa yang menunggu di depan, kita hanya bisa menduga-duga saja.

Single Baru Navicula: Ibu (2018)

Ibu – Apple Music

Tak akan ada Ibu Bumi kedua… Bila Ibu Bumi telah tiada… Kujaga dia, kujaga selamanya… Kar’na kutahu dia pun jaga kita… Ini jelas khas Navicula. Keras, harmonis, penuh tenaga, dan sarat cinta.

Bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, Navicula merilis single teranyar yang mereka beri judul Ibu. Bukan tentang ibunya Robi atau Dankie. Bukan juga tentang ibumu, melainkan ibu kita semua. Bumi.

Single ini adalah bagian dari album yang kabarnya sudah rampung direkam beberapa waktu sebelum Made meninggal dalam kecelakan mobil tunggal di daerah Sukawati sepulang dari konser di Ubud, Bali. Rest in peace, Brother.

Chorus lagu ini benar-benar enak dinyanyikan bersama. Sangat melodius tanpa sedikit pun kehilangan tenaganya. Saya bisa membayangkan serunya berteriak sampai suara parau, bersatu dalam keringat bersama penonton yang berdesakan di bibir panggung, sementara Robi memberi aba-aba dengan kibasan rambut gondrongnya. Akan terasa nyaris seperti ritual di rumah-rumah ibadah. Bedanya, tidak ada doktrin “us vs. them”. Yang ada hanyalah mantra “we are one” dan ajakan untuk mencintai Ibu Bumi.

Cara Robi bernyanyi sungguh aduhai. Nada-nada yang dipilihnya anggun menyatu dengan liku gitar Dankie yang kadang beriak, kadang menggelora, dan dalam beberapa kesempatan menggulung. Meraung.

Siapa pun yang bertanggung jawab meracik lagu ini boleh berpuas diri. Semua energi liar itu bisa dibuat menyatu dalam sebuah lagu keras yang demikian harmonis sampai nyaris terdengar manis. You did one hell of a great job, Sir!