Pohon Tua di Indofest 2019

Menikmati Pohon Tua mendendangkan lagu-lagu bertemakan keselarasan jiwa manusia dan alam memang nikmat. Terlebih kalau itu digelar di tengah audiens yang memproklamirkan diri sebagai para penikmat alam (karena sebutan pecinta alam, menurut saya, terlalu berat beban moralnya), di sebuah acara pameran perlengkapan kegiatan outdoor berskala nasional bertajuk Indofest 2019. Ah, tiada duanya!

Seperti biasa, Pohon Tua selalu membuka solo set-nya dengan gugup. Sekian ratus panggug – besar dan kecil, mewah dan butut – sudah dia arungi, namun rupanya perasaan gugup seorang seniman tak pernah sungguh-sungguh sirna. Barangkali itu adalah bagian tak terpisahkan dari keinginan kuatnya untuk selalu memberikan yang terbaik bagi audiensnya.

Saya sendiri sudah lupa, malam tadi kali keberapa saya menghadiri aksi Pohon Tua. Kalau penampilannya bersama Navicula, Dialog Dini Hari, dan A Conscious Coup dimasukkan dalam hitungan, saya yakin angkanya sudah melebihi 60.

Enam puluh kali. Dem! Apa tidak bosan? Tentu tidak!

Tidak ada yang membosankan dalam diri Pohon Tua. Mulai dari rambut gimbalnya, lirik-liriknya yang seperti puisi dalam kitab suci, permainan gitarnya yang bernuansa magis, hingga celoteh gugupnya di atas panggung yang kerap terdengar garing, semua enak untuk dinikmati. Bagi saya, saat ini rasanya tidak ada musisi lokal yang sedemikian berani melabrak dan menerjang batas-batas musik seperti dirinya. Tidak percaya? Tunggu saja rilisan terbaru Dialog Dini Hari nanti, hihihi…

Oh, ya. Beberapa waktu lalu, saya sempat mendengarkan bocoran album baru mereka. Dengan rayuan maut penulis buku indie dan sebotol whiskey, saya dan Rudi (desainer buku-buku saya di Tim Edraflo) berhasil membuat Pohon Tua memperdengarkan keseluruhan album barunya melalui tata suara di dalam mobil. Tentu saja saya tidak boleh membocorkan satu pun lagu tersebut, baik bunyi, tema lirik, maupun nuansanya. Biarlah dunia nanti mendengarkan pada saat yang tepat saja, sesuai yang sudah direncakan Dialog Dini Hari dan tim manajemen mereka.

Syit! Jadi melantur.

Malam tadi tidak berjalan mulus. Listrik di panggung sempat mati sekitar sepuluh menit lamanya, tepat saat Pohon Tua memainkan lagu ketujuh, Renovasi Otak. Setelah narasi pengantar yang berbau politik, lagu itu tadinya akan menancap di kepala karena sangat kontekstual dengan keributan pilpres yang memuakkan belakangan ini. Apa lacur, genset berkehendak lain. Jadilah Pohon Tua dan semua audiens yang duduk manis di lantai tersenyum kecut.

Ketika listrik akhirnya kembali menyala, Pohon Tua terpaksa langsung menutup penampilannya dengan Tentang Rumahku. Biasa. Masalah durasi.

Bumiku Buruk Rupa, Bisik Laut, Kita dan Dunia, Hey Ya (Kubu Carik), Pelangi, Ku Kan Pulang, Renovasi Otak, dan Tentang Rumahku adalah 8 lagu yang sempat dia bawakan malam tadi. Dua lagu yang batal menggelinding adalah Matahari Terbit dan Kancil. Sungguh celaka! KZL!

Di sela-sela permainan gitarnya, Pohon Tua sempat bercerita tentang buku bertajuk Dua Senja Pohon Tua (yang saya tulis, tentu saja, hahaha!) dan bagaimana proses penulisan buku itu kemudian mendorongnya membuat album solo perdananya: Kubu Carik. Dia juga mengumumkan bahwa baru saja merilis sebuah single berjudul Mendulang Cinta. Lagu yang dia tulis khusus berdasarkan naskah buku I’m All Ears yang menceritakan sepak terjang duo musisi yang sekaligus adalah suami istri, Endah dan Rhesa. Buku itu, tentu saja, adalah juga saya penulisnya, hahaha!

Batal berangkat ke Jepang bersama Navicula karena kaki Robi masih belum pulih setelah telapak kakinya dipasangi pen, Pohon Tua dan Dialog Dini Hari dijadwalkan tampil di Bintaro Exchange pada Jumat, 22 Maret 2019. Ah, dekat sekali dengan rumah. Sungguh saya berharap mereka akan memainkan bocoran album terbarunya yang luar biasa itu. Berangkat!

PJID Kembali Sederhana

Nito Kesurupan (foto oleh Hilman)

Nyaris dua dekade dan tidak ada yang berubah. Sebagian bertambah gendut, tentu. Tapi tidak melemah. Sama sekali tidak! Semalam, setelah dua tahun lebih tidak kumpul dalam acara resmi komunitas, Pearl Jam Indonesia (PJID) kembali menggelar ritualnya: Pearl Jam Nite. Seperti biasa, semua berteriak keras, baik dari atas maupun bibir panggung. Melolong seperti anjing hutan. Melepaskan semua yang perlu dilepas.

Omong-omong, semalam adalah gelaran Pearl Jam Nite kesebelas sejak pertama kali perkumpulan fans garis keras itu mengibarkan bendera pada 2005. Sebelas gig digagas dan kemudian dieksekusi oleh dan untuk sebuah komunitas kecil dalam rentang waktu belasan tahun. Wagelaseh!

Ketika Dedot cs. membawakan I Got Shit, siapa pun yang hadir malam itu mestilah langsung paham, ini bukan sembarang acara. Bukan sebuah perayaan cover song yang hanya membawakan lagu hits sejuta umat. Nope! Pearl Jam Nite memang sepertinya tidak pernah dirancang untuk jadi gelaran seperti itu.

Apalagi ketika Jessy, dari atas panggung, mengumumkan bahwa sudah tiba waktunya “PJ dan kawan-kawan”. Itu adalah kode keras. Sejak detik itu, jangan harap ada lagu “normal”. Alih-alih nomor megahit macam Jeremy, yang menggelinding justru Crown of Thorns, Comfortably Numb, Baba O’Riley, sampai Under Pressure. Gila, kan? Gak juga, sih. Biasa aja. Ini PJID, tempatnya orang gila musik berkumpul untuk merayakan keragaman genre.

Tentu saja ada bintang tamu, kalau Nugie yang sejak mula memang sudah tergabung dalam PJID mau dikasih predikat seperti itu. Dan tentu saja dia boleh memainkan lagu-lagunya sendiri. Tidak ada larangan untuk itu. Pearl Jam Nite bukan acara keramat yang mengharamkan lagu selain milik Eddie Vedder cs. berkumandang. Jadilah kemudian trio Nugie, Nito, dan Kuple membawakan dua hits lawas: Pembuat Teh dan Pelukis Malam.

Wah, mereka bertiga sepanggung dan bawakan tembang lawas. Apa tidak tergugah untuk reuni dan menulis materi baru?

Ada masanya ketika PJID menjadi terlalu mainstream. Seingat saya, itu terjadi setelah ada liputan khusus tentang komunitas itu di harian Kompas. Satu atau dua tahun setelah liputan itu, PJID seolah terbebani untuk menampung banyak orang dan mengibarkan bendera perjuangan bertajuk “Bring PJ to Indonesia”.

Masa itu adalah yang paling gemerlap karena banyak sekali musisi lokal menyodorkan diri menjadi bintang tamu. Namun ironisnya, itu juga adalah masa yang paling terasa penuh tekanan, karena kegembiraan membicarakan band yang digilai tercampur dengan kewajiban berdakwah, mengajak sebanyak mungkin orang untuk ikut menggilai. Betapa buang-buang waktu dan energi.

Semua itu pada akhirnya masuk ke comberan. Menjadi bagian masa silam yang separuh jadi bahan tertawaan. Dan saya merasa bersyukur bahwa dari comberan itu kemudian malah muncul jiwa-jiwa keras kepala yang memang sejak dulu menyukai Pearl Jam tampa embel-embel. Tidak perlu bintang ini itu. Tidak butuh liputan media anu. Semua dikembalikan ke khitahnya: menikmati Pearl Jam.  Itu saja.

Sekali lagi, semua menjadi sederhana. Terang. Dan sangat menyenangkan.

Seperti malam tadi. Saat masih ada tangan-tangan kokoh yang berkenan mengangkat tubuh tambun ini ber-crowd surfing. Saya sudah kelewat mabuk untuk ingat di lagu apa itu semua terjadi. Namun yang saya ingat, itu sungguh teramat sangat menyenangkan.

Review Buku: Filosofi Teras

Saya sudah empat puluh. Jelas bukan milenial. Tapi buku Filosofi Teras yang sepertinya ditulis oleh Henry Manampiring khusus bagi generasi milenial ini ternyata bisa masuk juga ke hati saya. Pada usia yang tidak lagi peduli apakah membaca buku tertentu membuat saya kelihatan keren atau malah bodoh, saya berani bilang bahwa buku ini menampar kesadaran dengan menyenangkan.

Seperti kebanyakan buku dalam negeri lainnya, saya merasa sebenarnya buku ini bisa dipangkas jadi dua pertiganya saja. Banyak sekali contoh dan penjelasan yang terasa mengulang. Barangkali itu metode menyampaikan pesan yang memang cocok bagi generasi milenial, dengan pengulangan, persis seperti lagu-lagu kesukaan mereka yang liriknya hanya beberapa potong saja itu. Saya tidak paham soal itu. Namun demikian, ide soal filosofi “woles” dalam buku ini disampaikan dengan baik sekali. Pelan dan tersusun rapi. Hampir terasa seperti buku memasak. Satu per satu bahannya dikupas, disatukan, dan kemudian disuguhkan jadi menu yang sedap. Yang membuka mata hati.

Sebenarnya saya memang tidak pernah terlalu memusingkan hal-hal di luar kendali. Opini orang terhadap saya adalah urusan mereka sendiri. Kalau mereka kebetulan tidak menyukai saya, well, I’m sorry but that’s their problem. Not mine. Dalam buku ini, pemikiran seperti itu ternyata adalah salah satu fondasi penting dari konsep yang disebut dikotomi kendali. Saya mendadak seperti mendapat pembenaran. Suck it up, haters!

Dua hal terbaik yang saya peroleh dari buku ini ada di sesi awal tentang dikotomi kendali itu dan di sesi akhir tentang parenting. Tidak usah berpanjang lebar. Saya tidak pernah kuliah filsafat dan tidak mau mendadak sok filosofis. Intinya, dikotomi kendali membagi dua kejadian buruk dalam hidup yang menimpa kita sebagai hal yang dapat kita kendalikan atau tidak. Kalau dapat kita kendalikan, perbaiki. Sebaliknya, kalau tidak bisa dikendalikan, ya biarkan saja. Jalani. Tidak perlu banyak drama. Apalagi sampai memendam dendam segala.

Hal terbaik kedua adalah soal parenting. Betapa gamblang dan sederhana. Orangtua tidak perlu ngotot menuntut ini itu dari anaknya. Anak adalah individu merdeka. Hanya karena kitalah yang melahirkan dan kemudian membesarkannya, tidak serta merta anak tersebut jadi berutang segala sesuatunya pada kita. Saya berani taruhan ide ini tidak akan begitu saja diterima di Indonesia.

Atas dua pemikiran itu, saya sepenuhnya setuju. Hidup memang kerap menyakitkan. Ya, biar saja. Barangkali memang itulah definisi paling tepat dari hidup, yaitu menyuling kesakitan dan kemudian mereguk kebahagiaan yang lahir darinya.

Dan kepada anak saya, jadilah kamu anak yang berbahagia saja. Tidak perlu lagi repot-repot jadi anak soleh, berbakti pada orangtua, berguna bagi bangsa, dan segala macam omong kosong parenting yang umum kita kumandangkan. Masa kanak-kanak hanya sekali. Nikmatilah sebagai bocah. Dan saya akan menikmati peran sebagai orangtua yang terus belajar. Kamu dan saya, kita sama-sama belajar.

Terima kasih, Filosofi Teras.