Konser Dialog Dini Hari di Rossi Fatmawati

DDH di Rossi Fatmawati (foto oleh Topang)

Tidak ada lagu Dialog Dini Hari (DDH) yang lebih menyayat hati ketimbang Kuingin Lihat Wajahmu. Sejak kali pertama mendengar lagu itu melalui YouTube (karena rilis perdana memang melalui kanal tersebut) dini hari beberapa bulan lalu, hati serasa tercabik. Dalam nada-nadanya termuat kerinduan yang mahadalam. Dalam liriknya, kepedihan hidup. Dalam keutuhannya, Kuingin Lihat Wajahmu seperti duri yang melukai. Meracuni.

Dan ketika akhirnya lagu tersebut dimainkan secara live dalam konser Parahidup yang digelar di Rossi, Jakarta, Kamis malam tadi (22/8), hati seperti runtuh. Kekalutan hidup berkelindan. Membuncah dalam dada. Masa lalu yang terasa jauh, bergumul dengan masa depan yang tak pasti. Cinta yang lama memudar, ditindih cinta baru. Semua acak, jadi satu. DDH, yang sepanjang malam tampil memukau dengan musikalitas dari dunia lainnya, menggemuruh dalam pikiran.

Dadang – saya berani taruhan bahwa dia sengaja memilih untuk membawakan lagu itu – membuka penampilan DDH dengan rendisi uniknya atas Yamko Rambe Yamko. Satir. Kita semua paham sepekan belakangan ini isu rasisme melanda Papua. Alangkah celakanya. Bangsa kita begitu tega menghina bangsanya sendiri!

Selanjutnya, 15 lagu menggelinding nyaris tanpa cela. Pralaya, Pohon Tua Bersandar, Peran Terakhir, Dalam Kedangkalan, Cahaya Perkasa, Kuingin Lihat Wajahmu, Kawanku, Pelangi, Hyena, Tikus, Sediakala, Jerit Sisa, Oksigen, Tentang Rumahku, dan Hidup.

Ah, Jerit Sisa. Sejujurnya, dari album terbaru mereka, saya tidak bisa memilih mana yang lebih saya cintai: Kuingin Lihat Wajahmu atau Jerit Sisa. Dalam perbedaan nuansa musiknya, kedua lagu itu memuat demikian banyak kesamaan: kerinduan yang perih. Harapan yang mengerikan. Dan, anehnya, kerelaan untuk melepaskan. Bagi saya, Kuingin Lihat Wajahmu dan Jerit Sisa adalah rangkuman hidup yang disuling dengan demikian indah. Begitu indah sampai terasa perih di hati.

Dadang, seperti biasa, selalu aneh kalau bicara serius. Menurut saya, sebaiknya dia bermain gitar dan menyanyi saja. Brozio, dengan perangkat musiknya yang kian rumit, terlihat sangat keren. Denny Surya, jangan ditanya. Bahasa tubuhnya yang kalem berbanding terbalik dengan permainan drum-nya. Luar biasa mumpuni. Dan, menurut sebagian perempuan yang hadir malam itu, dia sangat ganteng.

Satu-satunya sesi omong Dadang yang membuat saya terpukau, lebih tepatnya terhenyak, adalah ketika dia menceritakan kisah di balik lagu Kawanku. Ternyata lagu tersebut berkisah tentang kematian Made (basis Navicula) dan Aray Daulay. Dua sahabat dekatnya dalam dunia musik. Lirik lagu itu diselesaikan Dadang dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama Denny. Sejak menyaksikan lagu itu dimainkan secara live tadi malam, Kawanku jadi terasa berbeda. Seperti kenangan yang jauh. Kesedihan samar yang menggelayut di sudut. Tidak menonjol ia, namun kita tahu bahwa kesedihan itu akan selalu ada di sana.

Entah karena kesedihan cerita yang kemudian dilanjutkan dengan membawakan Kawanku secara live, Dadang kemudian terpeleset saat menuruni panggung yang memang gelap. Sejauh yang saya tahu, dia tidak terluka. Namun nasib gitarnya berbeda. Gitar yang kerap dia bangga-banggakan itu pecah. Nyaris terbelah. Ah…

Jamming session di lagu Oksigen yang luar biasa bebas, koor audiens di nomor Tentang Rumahku yang disisipi pesan-pesan soal perlunya kita berkarya, dan Hidup yang tegas berdegup jadi sesi penutup. Sungguh konser rilis album yang jauh dari kepura-puraan. DDH, dengan bekal album baru dan musikalitas panggungnya yang terasa kian luas dan matang, dapat dipastikan akan terus menggelinding dengan gagah ke masa depan.

Regenerate: Album Baru Endah N Rhesa (2019)

Meskipun saya memang sudah selesai menulis naskah buku tentang perjalanan kreatif Endah N Rhesa (EAR), saya tidak pantas disebut sebagai fans terbesar mereka. Sejujurnya, saya tidak mengikuti sepak terjang mereka di dunia musik indie Indonesia sejak awal. Baru setelah serius menulis buku mereka sajalah – dan lumayan sering ngobrol hingga tengah malam bahkan dini hari bersama keduanya – saya mulai banyak menyimak lagu-lagu dan penampilan panggung suami istri yang unik itu. Goddamn serious couple.

Dari semua album yang pernah mereka rilis, album kelima yang diberi tajuk Regenerate ini, menurut kuping awam saya, adalah yang paling santai. Terdengar sangat modern, ceria namun lembut. Tidak meledak-ledak. Nyaris tidak ada kepedihan yang manis di sana. Semua tersaji rapi dan solid. Sangat mudah untuk dicintai.

Album ini sepertinya cocok sekali jadi musik latar road trip segerombolan perempuan muda berjiwa merdeka. Mengendarai mobil menembus jalan-jalan di pelosok negeri, menunggang angin dan mengumpulkan kenangan. What a great trip it would be!

Entah di Indonesia ada atau tidak gerombolan seperti itu, mengingat belakangan semua orang bergegas kepengin masuk surga sehingga sangat abai pada keindahanan kehidupan kita di dunia. Dan perempuan, dalam kerangka pikir seperti itu, tentu saja jadi kaum yang paling dikekang. Dan disalahkan. So sad.

Well, kalau gerombolan perempuan muda seperti itu benar-benar ada di Indonesia, maka berkatilah jiwa muda dan merdeka mereka. Sesungguhnya kita butuh lebih banyak yang semacam itu.

Jangan tanya mana lagu yang paling enak. Bagi saya, Regenerate terdengar seperti seharusnya sebuah album penuh. Kita bisa mendengarnya berulang-ulang tanpa sadar mana lagu pertama dan terakhir. Enak. Enak.

Album Terbaru Dialog Dini Hari: Parahidup (2019)

Manusia terlahir dengan segala ketidaksiapan. Dalam perjalanan hidup, kita menemukan apa yang kemudian kita suka, cinta, dan kuasai. Juga yang kemudian hilang dan kita rindukan. Menikmati Dialog Dini Hari (DDH), rasanya tidak ada yang lebih dekat dibanding perasaan seperti itu. Perasaan yang demikian dekat, seperti melihat diri sendiri: lahir, tumbuh, dan berkembang.

Bicara soal perkembangan musik mereka, sudahi sajalah. Sejak Lengkung Langit yang kemudian diikuti Tentang Rumahku, DDH seperti tak terhentikan. Menikung mereka, menanjak, bahkan terkadang seperti terbang bebas. Bebas lepas dalam berkarya. Tak henti menyentak dan memberi rasa hangat di dalam hati. Perasaan nyaman yang seperti berbisik lekat di telinga, “Tenang, mas. Di sini, di negeri yang semakin kering keberanian berkarya ini, masih ada kami.”

Rasanya saya bakal pensiun dini menulis opini soal lagu-lagu mereka. Sudahlah. Nikmati saja. Hidup, Peran Terakhir, Jerit Sisa, Kuingin Lihat Wajahmu dan semuanya. Dan semuanya. Ini melampaui semua yang pernah ada.