All posts by wustuk

Review Film: The Post

Banyak sekali dialog yang saya ingat dari film The Post. Salah satu yang paling menancap di kalbu adalah “The press was to serve the governed, not the governors”. Alangkah relevannya dengan kondisi Indonesia saat ini!

Karena saya sehari-harinya cari makan di industri media massa, The Post jadi terasa sangat menyentuh hati. Keteguhan Katharine Graham – pemilik The Post yang dengan sangat ciamik diperankan oleh Meryl Streep – untuk tetap menyuarakan kebenaran bagi rakyat AS di bawah tekanan politik dan finansial yang luar biasa berat, sungguh mengharukan. Siapa pun yang masih bekerja di media massa dengan hati yang tulus, dengan ide menyuarakan kebenaran dan membela kepentingan rakyat menyala di dalam kepalanya, pasti bakal tepuk tangan.

Selama dua jam lebih sedikit, The Post menyuguhkan drama dan liku kehidupan insan pers. Betapa memberitakan fakta adalah urusan mahaserius bagi mereka yang bekerja di sana. Narasumber dicek berulang kali dan dilindungi. Dampak pemberitaan ditimbang hingga detik-detik terakhir sebelum diterbikan. Tidak ada satu pun yang bekerja sembarang, apalagi dengan niat mengibuli publik. Orang Indonesia, terlebih yang belakangan ini mabuk social media dan dengan penuh semangat menyebar hoaks saban hari, kemungkinan besar tidak akan mengerti.

Well, The Post jelas bukan film untuk semua orang.

Saya sejujurnya tidak begitu peduli dengan  kecenderungan orang Indonesia untuk secara berlebihan mengonsumsi dan menghadirkan diri mereka di social media. Toh, itu hidup mereka sendiri yang sedang mereka sia-siakan. Saya tidak bakal banyak komentar soal itu.

The Post, bagi saya, menumbuhkan satu kesadaran baru yang melegakan. Film ini memang tentang kondisi media massa di AS selama periode perang Vietnam tiga dekade lalu. Namun, film ini dibuat sekarang. Dibuat oleh orang-orang masa kini. Hadirnya The Post menunjukkan betapa semakin banyak orang yang menyadari (kembali) pentingnya media massa yang sepenuhnya dapat dipercaya. Untuk apa? Untuk menyuarakan kebenaran demi rakyat.

Rasanya bukan kebetulan semata kalau saat ini saya bekerja di media massa yang mantra utamanya adalah Amanat Hati Nurani Rakyat.

Well, that’s sweet.

See The Sun by ZIO

Ketika petang menjelang dan lelah menghantam, solo album perdana Zio jadi pilihan pelarian. Penat dan letih sejenak jadi tertanggungkan. Alunan lagu-lagunya yang lembut dan elegan terasa hangat di telinga. Juga di jiwa.

Tentu saja warna musik di album bertajuk See The Sun itu jauh berbeda dari warna musik Dialog Dini Hari, band tempat Zio menjadi basis. Sangat jauh berbeda.

See The Sun yang dipilih jadi nomor pembuka, Terindah, dan Love from Above adalah lagu-lagu yang terdengar mahal. Ada groove yang asyik di sana. Ada juga harmoni yang tersusun rapi. Yang tidak ada adalah pameran skill bermain bas. Bagus juga. Kalau ada, barangkali album itu akan tergelincir jadi ajang pamer ego yang, saya rasa, sama sekali tidak diperlukan bagi Zio.

Hampir terdengar seperti album lounge jazz, See The Sun menyuguhkan 8 nomor yang semuanya empuk di telinga. Rasanya tidak mungkin mendengarkan album ini tanpa membayangkan segelas wine dingin yang enak, sebuah buku yang bagus, dan sofa empuk untuk rebahan. Bagi saya, di album ini Zio seperti meminta pendengarnya melupakan semua ketegangan. Rileks. Menikmati waktu yang menggelinding perlahan.

Dan ketika akhirnya matahari sempurna menghilang di balik gedung-gedung tinggi Jakarta, lantunan apik dari album itu tersisa di telinga. Nada-nada itu berbisik merdu. Dan mesra. Istirahatlah.

Candu Baru dari Zat Kimia

Ada rasa sepi yang memaksamu berkelana jauh ke alam pikiran. Seperti rindu yang nyaris terlupakan, namun ternyata masih ada di sana. Laksana kenangan masa remaja yang mendadak menyentak. Candu Baru, album perdana Zat Kimia yang dirilis pada pengujung Agustus 2017 ini, saya rasa adalah gabungan semua yang kita rindukan dari musik rock Indonesia.

Ketukan yang terkadang ganjil berkelindan dengan liarnya raungan gitar yang, anehnya, terdengar harmonis. Teriakan vokal yang kerap nyaris meleset nadanya jatuh sempurna di antara gebukan drum dan bas yang berdentum, sebuah pagar suara yang memastikan agar petualangan bunyi yang terentang dalam 10 lagu itu berakhir baik-baik saja.

Feromon, yang diletakkan di urutan ketiga, itulah dia. Kenangan manis yang menyentak. Struktur lagunya terdengar klise namun sekaligus segar. Sebuah lagu cinta yang sepenuhnya bicara cinta, namun dalam rangkaian narasi suara yang juga sepenuhnya terasa baru.

Sejak lagu pertama, Reaktan, Zat Kimia sudah menyeret kita ke dalam sebuah petualangan. Tidak terdengar nada-nada yang dipaksakan. Mereka tidak berusaha menjadi rock. Tidak kepingin vintage, tidak juga modern. Tikungan bunyi, sergapan tema, hingga kegeraman vokal yang bergetar menggulung tiada henti. Dengarkanlah Ennui, maka kalian akan mengerti.

Bagi kumpulan rock asal Bali bernama Zat Kimia, rupanya tidak tersedia kotak musik. Bagi mereka, musik adalah perjalanan bunyi yang membebaskan semua orang untuk mengambil arahnya sendiri.

Tentu saja ada Aku, yang akhirnya didaulat menjadi pamungkas, penutup album dahsyat ini. Sebuah narasi lirih tentang manusia yang angkuh. Sebuah cermin bagi kita yang barangkali sudah kelewat sibuk untuk sekadar sejenak berhenti dan bertanya tentang arti hidup.

Sejak kali pertama mendengarkan album penuhnya malam ini, bagi saya Zat Kimia benar-benar telah jadi sebuah candu baru.