Category Archives: Coffee

Google Trends: Orang Jakarta Makin Gemar Minum Kopi

Pencarian Kata "Minum Kopi"

Orang Jakarta makin gemar minum kopi. Ini fakta, bukan opini. Kita bisa lihat betapa banyak kedai kopi muncul di kota ini. Di mal, ruko, atau pinggir jalan. Dan jika kamu masih tidak percaya, mari kita lihat data dari Google Trends berikut ini.

Gambar di awal artikel ini dicuplik dari data Google Trends. Garis biru menunjukkan trend pencarian kata “minum kopi” di mesin pencari Google yang dilakukan oleh orang yang berdomisili di Jakarta. Atau setidaknya, menggunakan IP Address yang diidentifikasi oleh Google beralamat di Jakarta.

Dibanding tahun 2010, jumlah pencarian kata “minum kopi” pada awal 2014 meningkat sebanyak 52%.  Angka ini boleh dibilang sangat signifikan. Bandingkan saja dengan, misalnya, pencarian kata “beli musik” yang dalam rentang waktu yang sama malah menurun sebesar 67,5%.

Meningkatnya pencarian kata “minum kopi” selaras dengan meningkatnya jumlah kedai kopi di Jakarta. Pada saat bersamaan, menurunnya pencarian kata “beli musik” juga selaras dengan tutupnya beberapa toko musik besar di Jakarta. Maka bolehlah kita sebut bahwa insight yang terangkum dalam Google Trends cukup akurat adanya.

Pertanyaan iseng selanjutnya, dari 3 tipe sajian kopi yang paling umum ini, mana yang paling populer? Espresso, latte, atau cappuccino?

Data yang sama menunjukkan bahwa yang paling populer adalah latte (garis merah), diikuti dengan espresso (garis kuning) dan kemudian cappuccino (garis hijau). Namun, sejak 2013, hanya latte yang popularitasnya tetap bertahan dan bahkan sedikit meningkat. Espresso dan cappuccino, berdasarkan trend pencarian kata, mengalami penurunan popularitas.

Para pemilik kedai kopi di kawasan Jakarta, bersiaplah menyambut konsumen yang semakin banyak dan pastikan kalian punya menu latte andalan!

Kedai Kopi: 1/15 Coffee

one fifteen

Dari semua kedai kopi modern yang pernah saya singgahi, espresso di 1/15 Coffee yang berlokasi di Jl. Gandaria 1 No 63, Jakarta, adalah yang paling segar! Demikian segarnya sehingga saya tidak berhenti di cappuccino, melainkan lanjut memesan affogato. Untuk ukuran lidah kampungan saya, kedua menu itu punya cita rasa yang luar biasa!

Seperti biasa, saya selalu bertanya pada barista, kopi apa yang spesial di kedainya?

Sore itu, sang barista cukup bijak dengan mengatakan bahwa dirinya menyukai nuansa rasa asam, dan jika saya setuju, dia menyarankan saya mencoba cappuccino yang menggunakan kopi Bali Inten Dewata sebagai espresso-nya. Tanpa pikir panjang, saya setuju.

Dan sungguh saya tidak menyesal mengikuti sarannya!

Cappuccino panas itu terjasi apik, lengkap dengan latte art generik yang rapi bentuknya. Nuansa asam dan kesegaran Bali Inten Dewata menyeruak dari gurih dan lengketnya susu. Rasa itu menyatu dengan halus di rongga mulut. Enak!

Tidak seperti cappuccino yang biasa saya nikmati, racikan yang satu ini tidak meninggalkan rasa pahit setelah disesap. Ada sedikit pahit memang, tapi tak bertahan lama dan sangat pudar rasanya. Saya suka. Namun bagi yang menyukai cappuccino yang lebih penuh, pekat, dan tegas rasa pahitnya, racikan ini mungkin tidak memenuhi harapan kamu.

Menu selanjutnya adalah affogato. Bagi saya yang sesungguhnya pecinta kopi tubruk, menu ini terasa kelewat unyu. Tapi saya selalu terbuka pada nuansa rasa baru, maka jadilah saya pesan satu.

Dua bongkah es krim vanila dan seporsi espresso pekat datang. Jujur saja, saya tidak paham bagaimana cara terbaik menikmati affogato. Jadi, berdasarkan intuisi, saya tuangkan saja espresso itu ke bongkahan es krim dan kemudian mengaduknya sedikit.

Dengan sendok kecil saya menciduk sedikit es krim dan membasahinya dengan espresso. Slurp! Alamak! Enak bangeeettt!!! Ciamik, gan!!!

Pahit dan segarnya espresso membungkus rasa dingin, gurih, manis, dan wangi es krim. Ketika masuk ke mulut, kombinasi itu langsung meleleh di lidah dan menerjang masuk ke tenggorokan. Ah, minuman unyu ini, jika disajikan dengan cara seperti ini, ternyata enak sekali.

Saya tidak tahu bagaimana menu kopi lainnya di 1/15 Coffee. Namun berdasarkan kualitas 2 menu yang saya cicipi sore itu, saya berani bertaruh bahwa menu-menu kopi lainnya akan sama nikmatnya.

Yang mengherankan adalah suasana sepi di kedai ini. Dengan tata ruang yang apik dan nuansa yang sangat nyaman, saya tidak mendengar ledakan obrolan dari pengunjung. Padahal sore itu hampir semua meja terisi.

Apakah pengunjung 1/15 Coffee adalah tipe orang-orang yang senang mengobrol sambil berbisik-bisik? Atau memang ada aturan khusus di kedai ini yang tidak saya ketahui?

Bagi saya, kopi adalah salah satu resep terbaik dalam sebuah obrolan seru. Jika minum kopi berarti harus berhenti bicara atau mengobrol dengan jaim dan penuh aturan, lebih baik saya menenggak vodka saja!

Bagaimanapun, akhirnya saya punya satu kedai kopi modern yang bisa dijadikan tempat nongkrong favorit, hehehehe…

Kopi Java Preanger

Preanger, Priangan dan Parahyangan. Tiga nama, satu arti. Rumahnya para dewa. Ya, betul. Ketiga nama tersebut juga mengacu pada satu tempat saja. Wilayah pegunungan di Jawa Barat.

 

 

Wilayah ini bukan saja sejuk, indah dan kaya akan perempuan-perempuan cantik, melainkan juga kopi. Dan kopinya, enak sekali!

Dari wilayah ini dunia mengenal apa yang kini disebut sebagai kopi Java Preanger. Jenis kopi bagus yang hanya bisa tumbuh dengan baik di ketinggian 1.400-1.600 mdpl. Adalah Belanda yang pertama kali menanam kopi ini di Indonesia, dengan membuka ladang kopi Arabika pertamanya pada abad ke-16 di kota Garut.

Hari ini saya dapat kiriman 100 gram kopi Java Preanger dari seorang teman. Paketnya bagus. Tertera juga di bungkusnya jenis kopi, ketinggian lokasi tanam, cara roasting, aroma, keasaman dan cita rasa dari kopi ini. Semua lengkap. Benar-benar paket yang baik bagi penikmat kopi amatir seperti saya, yang memang butuh panduan cita rasa agar tidak bingung menikmati beragam rasa kopi yang ada.

Tertulis di bungkus paket itu bahwa aroma kopi Java Preanger adalah gula-madu bakar dan umbi-umbian. Tingkat keasaman medium. Sementara cita rasa adalah segar dengan tekstur yang lembut.

Itu adalah hasil dari lidah dan hidung para ahli kopi. Tentu saja itu benar. Mereka adalah orang-orang yang diberkati dengan bakat khusus dan mendapatkan pelatihan khusus juga. Tapi saya selalu suka mendeksripsikan rasa kopi dengan cara saya sendiri. Berdasarkan lidah, hidung dan pengalaman selama ini. Meski biasanya, hasilnya beda, hahaha!

Setelah diseduh dalam bentuk kopi tubruk (tanpa disaring dan tidak diberi gula), kopi ini menghasilkan warna coklat keemasan yang terang. Sama sekali tidak pekat.

Menurut penciuman saya, Java Preanger memiliki aroma manis seperti gula terbakar (hampir seperti bau karamel tapi jauh lebih lembut) dan rempah-rempah yang lumayan tajam. Sesap sedikit dan lidah saya merasakan sensasi sedikit berminyak, kopi yang segar, encer, agak asam dan spicy. Setelah diteguk, kerongkongan terasa baik-baik saja. Tidak ada rasa pekat yang tertinggal di sana. Ciamik!

Saya memang suka kopi yang lembut. Tidak pekat dan keras seperti layaknya sajian espresso di kedai-kedai ibu kota. Sebagian besar kopi yang saya minum diseduh menggunakan French press, pour-over atau syphon. Kecuali, tentu saja, es kopi Vietnam yang pekat, keras dan manis untuk hari-hari yang panas.

Java Preanger, seperti namanya, memang kopi yang layak disajikan di kediaman para dewa.