Category Archives: Music

See The Sun by ZIO

Ketika petang menjelang dan lelah menghantam, solo album perdana Zio jadi pilihan pelarian. Penat dan letih sejenak jadi tertanggungkan. Alunan lagu-lagunya yang lembut dan elegan terasa hangat di telinga. Juga di jiwa.

Tentu saja warna musik di album bertajuk See The Sun itu jauh berbeda dari warna musik Dialog Dini Hari, band tempat Zio menjadi basis. Sangat jauh berbeda.

See The Sun yang dipilih jadi nomor pembuka, Terindah, dan Love from Above adalah lagu-lagu yang terdengar mahal. Ada groove yang asyik di sana. Ada juga harmoni yang tersusun rapi. Yang tidak ada adalah pameran skill bermain bas. Bagus juga. Kalau ada, barangkali album itu akan tergelincir jadi ajang pamer ego yang, saya rasa, sama sekali tidak diperlukan bagi Zio.

Hampir terdengar seperti album lounge jazz, See The Sun menyuguhkan 8 nomor yang semuanya empuk di telinga. Rasanya tidak mungkin mendengarkan album ini tanpa membayangkan segelas wine dingin yang enak, sebuah buku yang bagus, dan sofa empuk untuk rebahan. Bagi saya, di album ini Zio seperti meminta pendengarnya melupakan semua ketegangan. Rileks. Menikmati waktu yang menggelinding perlahan.

Dan ketika akhirnya matahari sempurna menghilang di balik gedung-gedung tinggi Jakarta, lantunan apik dari album itu tersisa di telinga. Nada-nada itu berbisik merdu. Dan mesra. Istirahatlah.

Candu Baru dari Zat Kimia

Ada rasa sepi yang memaksamu berkelana jauh ke alam pikiran. Seperti rindu yang nyaris terlupakan, namun ternyata masih ada di sana. Laksana kenangan masa remaja yang mendadak menyentak. Candu Baru, album perdana Zat Kimia yang dirilis pada pengujung Agustus 2017 ini, saya rasa adalah gabungan semua yang kita rindukan dari musik rock Indonesia.

Ketukan yang terkadang ganjil berkelindan dengan liarnya raungan gitar yang, anehnya, terdengar harmonis. Teriakan vokal yang kerap nyaris meleset nadanya jatuh sempurna di antara gebukan drum dan bas yang berdentum, sebuah pagar suara yang memastikan agar petualangan bunyi yang terentang dalam 10 lagu itu berakhir baik-baik saja.

Feromon, yang diletakkan di urutan ketiga, itulah dia. Kenangan manis yang menyentak. Struktur lagunya terdengar klise namun sekaligus segar. Sebuah lagu cinta yang sepenuhnya bicara cinta, namun dalam rangkaian narasi suara yang juga sepenuhnya terasa baru.

Sejak lagu pertama, Reaktan, Zat Kimia sudah menyeret kita ke dalam sebuah petualangan. Tidak terdengar nada-nada yang dipaksakan. Mereka tidak berusaha menjadi rock. Tidak kepingin vintage, tidak juga modern. Tikungan bunyi, sergapan tema, hingga kegeraman vokal yang bergetar menggulung tiada henti. Dengarkanlah Ennui, maka kalian akan mengerti.

Bagi kumpulan rock asal Bali bernama Zat Kimia, rupanya tidak tersedia kotak musik. Bagi mereka, musik adalah perjalanan bunyi yang membebaskan semua orang untuk mengambil arahnya sendiri.

Tentu saja ada Aku, yang akhirnya didaulat menjadi pamungkas, penutup album dahsyat ini. Sebuah narasi lirih tentang manusia yang angkuh. Sebuah cermin bagi kita yang barangkali sudah kelewat sibuk untuk sekadar sejenak berhenti dan bertanya tentang arti hidup.

Sejak kali pertama mendengarkan album penuhnya malam ini, bagi saya Zat Kimia benar-benar telah jadi sebuah candu baru.

Acoustic Tribute to Chris Cornell

Ini hasil jepretan siapa? Let me know! Thx.

Setelah tiga botol bir dingin, segelas arak Bali, dan lebih dari 20 lagu berlalu, tidak banyak yang bisa saya ingat. Yang jelas, malam itu kami tak henti bernyanyi. Nomor-nomor dari Soundgarden, Audioslave, proyek solo, hingga cover songs yang pernah dibawakan Chris Cornell sepanjang karirnya disuguhkan. Paviliun 28, malam itu (23/5), berubah menjadi altar pemujaan bagi dewa grunge yang tutup usia sepekan lalu.

Dandi Ukulele

Tribut akustik dibuka oleh Dandi Ukulele sekitar jam 21.30. Sesuai namanya, dia memainkan lagu-lagu gubahan Cornell dalam aransemen ukulele.

Dracill

Berikutnya adalah Dracill. Separuh mabuk, dia menyuguhkan sesuatu yang tak terduga. Empat lagu yang dia mainkan dengan gitar kopong malam itu bernuansa Britrock. Oasis dan Beatles.

Ini adalah kali kedua saya melihat Dracill tampil solo di panggung. Dibanding penampilan pertamanya dua tahun lalu di bedah lagu Jiwa Yang Berani di Studio Sang Akar, Tebet, penampilannya malam itu terasa lebih jujur dan rileks. Bir dingin memang membantu.

Hot Rod (Nito-Andi) feat Amank

Sesi ketiga adalah salah satu yang ditunggu. Nito, Andi, Hendra, dan Amank bersatu menyuguhkan nomor-nomor legendaris macam Fell On Black Days, Be Yourself, Hunger Strike, hingga River of Deceit. Dengan gitar kopong hitamnya, Nito menunjukkan dengan sangat ciamik betapa tinggi teknik dan cita rasa permainan gitar dalam lagu-lagu gubahan Cornell.

Nito. The best, dah!

Tidak diduga, setidaknya oleh saya, Fadly Padi menggabungkan diri. Bersama Amank dia membawakan Can’t Change Me dengan apik. Sejurus kemudian, Che sumbang suara di nomor Black Hole Sun.

Che-Amank-Fadly-Nito

Sudah sejak tadi audiens turut bernyanyi. Ketika kemudian The Weekend Rockstar menutup malam dengan rendisi luar biasa dahsyat dari Like A Stone, You Know My Name, dan Sunshower, semua merasa lepas. Lega. Kesedihan biarlah tanggal dari hati dan kita kubur jadi kenangan saja.

The Weekend Rockstar

Amar yang malam itu kelewat banyak menenggak Arak, memaksa setlist melampaui rencana semula. Asyik memainkan gitar sambil duduk, dia memaksa yang lain memainkan The Day I Tried to Live, Say Hello to Heaven, Spoonman, dan entah apa lagi. Semua tidak ada dalam rencana sebelumnya. Saya sendiri sudah agak kebanyakan minum bir sehingga sulit mengingat urutan lagu.

Amar sudah mabuk arak Bali

Nyaris jam dua belas malam dan keriangan itu pun usai. Dalam hati tentu masih terasa perih. Ditinggal mati musisi yang mengisi hari-hari remaja hingga dewasa seperti sekarang ini, tidak semua orang bisa mengerti. Biar saja. Saya dan kamu, kita semua tahu. Cornell adalah pahlawan kita. Dulu, sekarang, dan selamanya.