Category Archives: Music

Merdeka 100%, 100% Menyegarkan

Apa yang dapat dilakukan lelaki yang sedang patah hatinya? Memainkan blues. Apa yang dapat dilakukan rakyat jelata yang terhimpit hidupnya? Menertawakan kenyataan. Lalu apa yang dapat dilakukan lelaki melarat yang sedang limbung kehilangan cinta? Mendengarkan Made Mawut!

Ya. Betul sekali. Mendengarkan lagu-lagu Made Mawut di album “Merdeka 100%” seperti sebuah perjalanan bunyi yang menyadarkan bahwa hidup seratus persen bisa dan memang perlu ditertawai. Nasib sial memang terasa pahit, namun itu tidak perlu sampai menghanguskan keberanian untuk terus berjalan. Yang sengsara dan patah hatinya boleh tetap hidup. Bahkan tersenyum. Meski kecut.

Dengan suara gitar yang seperti berasal dari tahun 50-an, lirik-lirik Made Mawut terbang bebas. Terdengar lucu tanpa bermaksud melawak. Terasa perih tanpa keinginan meminta belas kasihan.

Dalam Lingkaran Setan, ia menyoroti payahnya pendidikan formal di negeri ini. Dari zaman dulu sampai sekarang, metode pendidikan kita ya gitu-gitu aja. Sama sekali tidak menginspirasi. Simak petikan liriknya ini: Tangan terlipat di atas meja… Mata ke depan seperti kuda… Hati berdebar-debar… Karena gurunya seram…

Betapa gambaran itu sangat relevan bahkan sampai sekarang. Proses belajar di sekolah meletakkan siswa sebagai objek penderita. Sama sekali jauh dari menyenangkan!

Simak juga Blues Kamar Mandi yang bicara soal air. Barang sepele di negeri yang curah hujannya demikian tinggi seperti Indonesia. Namun nyatanya, karena air sekarang dikuasai pengusaha dan jadi barang yang mahal, Made Mawut secara hiperbola menceritakan bahwa dirinya sampai tidak bisa mandi. Bukan karena malas, melainkan karena airnya tidak tersedia.

Air kini hari, barang yang mahal… Air bersih, barang yang lekang… Air dikuasai para pengusaha…

Blues, di ujung jari dan pita suara Made, terdengar menghibur. Jauh dari usaha berlebihan untuk menjadi serius. Namun sama sekali tidak kehilangan bobotnya. Di era yang sudah kelewat sesak dengan lagu-lagu indie yang mengasihani diri sendiri, “Merdeka 100%” terasa menyegarkan. Sangat menyegarkan.

Suguhan Senja bagi Jiwa yang Lelah di Kedai Kopi Mantap Djiwa

40+ bawakan lagu-lagu U2 (foto oleh M. Ikhwan)

Saya tidak terlalu menyukai Bono. Bagi saya, tingkah polahnya agak kelewat rockstar. Dan terlalu gemar mencampuri urusan politik bangsa lain yang saya yakin tidak sepenuhnya dia pahami. Namun sebagai seorang penulis, saya sangat mengagumi kemampuannya menulis lirik. Lirik lagu-lagu U2 yang ditulisnya, terutama yang bercerita tentang kesulitan hidup dan takdir serta nasib yang enggan berpihak pada manusia, sungguh mengena. Luar biasa mempesona.

Ambil contoh lirik Walk On, lagu yang semalam dimainkan dengan sangat apik oleh band 40+ di kedai kopi Mantap Djiwa di bilangan BSD ini. Di bagian pembuka, Bono membisikkan “And love is not the easy thing… The only baggage you can bring… Is all that you can’t leave behind…” yang kemudian dipamungkasi dengan untaian lirik yang nyaris terdengar seperti mantra “And I know it aches… And your heart it breaks… And you can only take so much… Walk on… Leave it behind… You’ve got to leave it behind…”

Mendung menggantung di langit BSD, namun tak setetes air pun jatuh. Lagu demi lagu terus mengalir. Angin berembus pelan dan sejuk, seperti menjanjikan bahwa semua akan baik-baik saja. Tentu saja hidup tidak pernah baik-baik saja. Tidak akan pernah.

Tidak kalah menohok adalah lirik yang ditulisnya dalam lagu Stuck In A Moment You Can’t Get Out Of. Sebuah lagu indah tentang situasi yang menjepit. Tentang hidup yang berputar cepat, menggulung seperti gelombang pasang, namun jalan di tempat. Tentang keputusan yang harus diambil untuk menyelamatkan diri sendiri. Diri masing-masing. Tentang meneruskan hidup dan mengayun langkah, membawa semua kekecewaan dan luka batin. Tentang semua kekurangan dan keinginan yang tidak akan pernah kesampaian.

Begini ia menulis: “I never thought you were a fool… But darling, look at you… You gotta stand up straight, carry your own weight… These tears are going nowhere, baby…” Terdengar dan terasa kasar. Tapi tentu saja benar. Seperti makian seorang kawan baik di bar-bar busuk setelah sekian botol bir dingin murahan masuk ke pembuluh darah.

Dan begitulah kemudian Bono menuntaskan lagu indah itu. Dengan sebuah rangkaian kata yang menegaskan, sekeras dan sesulit apa pun nasib atau takdir yang menimpa, semua akan berlalu. Semua, tak terkecuali luka hati, pada akhirnya akan berlalu. “And if, and if the night runs over… And if the day won’t last… And if your way should falter… Along the stony pass… It’s just a moment, this time will pass…”

Terima kasih 40+ dan kedai kopi Mantap Djiwa. Kalian sudah memberi suguhan senja yang benar-benar menyiram jiwa. Menyejukkan jiwa saya yang terbakar setelah sekian lama tertatih menyeret rasa bersalah, karena sudah demikian angkuh dan brengsek sehingga melahirkan badai penderitaan bagi banyak orang yang sungguhan mencintai saya. Mengingkari ujar-ujar yang kerap saya dengar, bahwa sejatinya people don’t hurt the people they love.

See you when I see you… Sometimes soon, I hope.

Pearl Jam Indonesia di Kedai Mantap Djiwa

Rasanya sudah seabad lewat sejak terakhir kali saya menikmati Nito memainkan lead guitar dalam Alive, Yellow Ledbetter, dan setumpuk lagu hit sejuta umat miliki Pearl Jam lainnya. Sama lamanya sejak terakhir kali saya menyaksikan dan mereguk energi Hasley saat menyanyikan Porch. Atau bersama dari bangku penonton melolongkan semua lirik dari semua lagu yang ditumpahkan penampil yang menggila di panggung.

Ya. Rasanya memang sudah lama sekali saya melupakan hal-hal yang secara mendalam sangat saya sukai. Saya cintai.

Sabtu malam (7/12), semua itu kembali. Adalah Ikhwan alias Kuda yang menyediakan kedainya sebagai tempat berjumpa. Kedai kopi mungil yang nyaman itu bernama Mantap Djiwa. Terletak di bilangan BSD, tak jauh dari Pasar Modern.

Orang-orang itu, para penampil dan penontonnya, sudah saya kenal lebih dari satu dekade lamanya. Bersama mereka, saya sudah berkali-kali menggelar konser musik komunitas, menerbitkan majalah, dan perjalanan wisata ke luar kota. Mereka, segila dan sepayah apa pun, terasa seperti keluarga. Itulah dia, Pearl Jam Indonesia.

Sesi gonjrang-gonjreng sore itu tidak dari awal bisa saya ikuti. Seharian penuh saya memang ikut kelas penulisan skenario yang dimentori oleh Salman Aristo, yang lucunya, adalah juga bagian dari keluarga besar Pearl Jam Indonesia. Kelas Skenario, setelah sebelumnya selama 3 bulan mengikuti Kelas Cerita – keduanya diselenggarakan oleh Wahana Kreator Nusantara – adalah bagian tak terpisahkan dari fase hidup saya yang belakangan ini berputar-putar di persimpangan jalan.

Saya tiba di kedai Mantap Djiwa sekitar jam 6 sore, ketika penampil sedang rehat setelah menyelesaikan sesi pertama mereka. Suasana sudah ramai. Dan ramah. Wajah-wajah lama yang saya kenal hadir. Berbagi cerita layaknya kawan lama yang sudah sekian waktu tidak berjumpa.

Sebagian sudah bawa anak. Sebagian lainnya membawa cerita yang berbeda. Namun semuanya datang untuk hal yang sama: bernyanyi sambil menikmati sore dan malam dan obrolan santai antarkawan.

Band bertajuk 40+ (kalian tahulah kenapa namanya demikian) yang digawangi oleh Jessy, Nito, dan Alex Kuple tampil prima. Silih berganti Jessy, Hasley, Dedot, Amang, dan Andi mengisi posisi sebagai vokalis. Mereka menumpahkan nomor-nomor beken milik Pearl Jam (tentu saja!), Alice in Chains, RHCP, dan banyak lagi yang lainnya.

Semalam, saya menyadari betapa sebagai manusia kita kerap melupakan apa yang sudah ada. Kita kelewat memfokuskan diri mengejar apa yang kita mau dan belum tersedia. Lebih parah, mengharapkan apa yang barangkali tidak bakal bisa kita dapatkan.

Semalam, di kedai kopi mungil yang nyaman itu, saya menyadari dan mengakui, bahwa bersama Pearl Jam Indonesia, saya sebenarnya punya apa yang barangkali tidak dipunya banyak orang di dunia: kawan-kawan yang sederhana. Yang menjadi bagian penting dalam hidup dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka. Dengan satu kesamaan yang mengatasi semua perbedaan, yaitu kecintaan pada musik.

Kedai Mantap Djiwa, you boleh!