Category Archives: Music

Kado Ultah Terindah: Dialog Dini Hari!

Adakah yang lebih indah dari semua ini? Rumah mungil dan cerita cinta yang megah…

Lirik lagu Tentang Rumahku milik Dialog Dini Hari (DDH) itu sungguh tepat untuk menggambarkan harian Kompas yang hari itu merayakan ulang tahun ke-53. Tempat saya cari makan dalam 14 tahun terakhir itu memang kecil dan sarat cerita. Sebagian indah, sebagian menjengkelkan, tapi hampir semuanya membanggakan. Itulah kiranya harian Kompas bagi saya.

Ketika DDH mengomando ratusan fans-nya untuk bernyanyi bersama di pelataran Bentara Budaya Jakarta semalam (28/6), saya larut dalam kenangan. Lagu itu – yang saya cintai sejak pertama kali sketnya dimainkan Dankie pada siang yang panas di sebuah rumah di bilangan Ulujami, Jakarta sebelum malamnya dia manggung dalam pagelaran Pearl Jam Nite V di MU Café tahun 2010 – mendadak punya makna yang semakin dalam. Sebuah kado ulang tahun yang sangat berkesan.

Dankie memulai set DDH dengan sedikit kikuk. Barangkali dia grogi. Tampil di hadapan puluhan penulis cerpen papan atas dalam acara resmi yang digelar oleh institusi berita paling berpengaruh di Indonesia mungkin membuat rambut gimbalnya mengkerut. Bisa dimaklumi.

Bukan Dankie namanya kalau tidak bisa keluar dari tekanan. Setelah unjuk kepiawaian gitar di lagu keempat, Temui Diri, dia memberi “kata sambutan” yang – di luar kebiasaan – terdengar sangat mengesankan sebelum kemudian memainkan Aku adalah Kamu. Sedikit sentilan soal pilkada dan keyakinannya pada keberagaman. Ratusan orang pun serentak mengamini dan bertepuk tangan ketika dia, dengan cool, menyatakan, “Tak apa kita berbeda agama, yang penting satu iman.”

Dankie. You boleh!

Malam itu DDH membawakan 10 lagu. Pohon Tua Bersandar yang gelap, Lengkung Langit yang cerah, Pelangi yang menyentuh, Temui Diri yang terasa jazzy, Satu Cinta yang penuh perasaan, Sediakala yang luar biasa fresh, Aku adalah Kamu yang menyulut kor massal, Oksigen (disambung lagu dari album solo Zio) yang penuh atraksi, Pagi yang sarat kenangan manis, dan Tentang Rumahku yang membuat rindu jatuh ke pelukan malam. Satu jam penuh yang sungguh meneduhkan.

Tentu saja besoknya DDH tidak bisa pulang langsung ke Bali karena gunung Agung meletus dan semua penerbangan ke Bali dihentikan. Jadilah mereka kemudian terbang ke Surabaya dan meneruskan perjalanan menggunakan transportasi darat.

Itulah kiranya hidup. Penuh kejutan. Seperti juga hidupnya harian Kompas yang kini berada di tikungan tajam. Apa yang menunggu di depan, kita hanya bisa menduga-duga saja.

Single Baru Navicula: Ibu (2018)

Ibu – Apple Music

Tak akan ada Ibu Bumi kedua… Bila Ibu Bumi telah tiada… Kujaga dia, kujaga selamanya… Kar’na kutahu dia pun jaga kita… Ini jelas khas Navicula. Keras, harmonis, penuh tenaga, dan sarat cinta.

Bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, Navicula merilis single teranyar yang mereka beri judul Ibu. Bukan tentang ibunya Robi atau Dankie. Bukan juga tentang ibumu, melainkan ibu kita semua. Bumi.

Single ini adalah bagian dari album yang kabarnya sudah rampung direkam beberapa waktu sebelum Made meninggal dalam kecelakan mobil tunggal di daerah Sukawati sepulang dari konser di Ubud, Bali. Rest in peace, Brother.

Chorus lagu ini benar-benar enak dinyanyikan bersama. Sangat melodius tanpa sedikit pun kehilangan tenaganya. Saya bisa membayangkan serunya berteriak sampai suara parau, bersatu dalam keringat bersama penonton yang berdesakan di bibir panggung, sementara Robi memberi aba-aba dengan kibasan rambut gondrongnya. Akan terasa nyaris seperti ritual di rumah-rumah ibadah. Bedanya, tidak ada doktrin “us vs. them”. Yang ada hanyalah mantra “we are one” dan ajakan untuk mencintai Ibu Bumi.

Cara Robi bernyanyi sungguh aduhai. Nada-nada yang dipilihnya anggun menyatu dengan liku gitar Dankie yang kadang beriak, kadang menggelora, dan dalam beberapa kesempatan menggulung. Meraung.

Siapa pun yang bertanggung jawab meracik lagu ini boleh berpuas diri. Semua energi liar itu bisa dibuat menyatu dalam sebuah lagu keras yang demikian harmonis sampai nyaris terdengar manis. You did one hell of a great job, Sir!

Dominasi: Hari Kartini Versi Konspirasi

Dominasi, single Konspirasi

Di Indonesia saat ini barangkali hanya Che yang berani (dan bisa) menulis lirik bermuatan politik, agama, dan sekaligus gugatan sosial dalam satu badan lagu yang sama. Memang banyak musisi folk muncul belakangan ini. Tapi, sayangnya, sebagian besar mereka bicara soal tidur siang, piknik di taman, dan cerita-cerita yang selayaknya disimpan dalam catatan harian saja.

Tentu saja Che banyak membaca buku. Dan surat kabar. Volume bacaannya mengimbangi volume foto-fotonya di social media. Cukup adil.

Kelahiran mereka tak diharapkan… Harus dilenyapkan… Pembawa sial…

Demikian dia menulis dalam single teranyar milik Konspirasi berjudul Dominasi. Bukan kebetulan kalau lagu bertema sindiran terhadap rekayasa dominasi pria atas perempuan yang didukung budaya dan agama itu dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.

Konspirasi adalah grunge wangi. Setidaknya, begitulah banyak orang menyebut mereka. Ganteng, kaya, dan nge-grunge. Di telinga saya, musik mereka enak. Sangat bertenaga. Yang paling penting, liriknya layak didengar dan bahkan direnungkan.

Dominasi memiliki keanggunan rock khas Alice in Chains yang nyaris terdengar seperti metal dan keluwesan Stone Temple Pilots yang menyeret kepala untuk tak henti mengangguk. Bukan hal yang aneh mengingat semua anggota Konspirasi memang memuja dua band legendaris tersebut.

Pada Hari Kartini, lagu ini membuat saya sedih. Seratus tahun lebih setelah Kartini pergi, perempuan masih saja ditindas atas nama adat, agama, dan konsep-konsep usang lainnya.