Category Archives: Music

Album Terbaru Dialog Dini Hari: Parahidup (2019)

Manusia terlahir dengan segala ketidaksiapan. Dalam perjalanan hidup, kita menemukan apa yang kemudian kita suka, cinta, dan kuasai. Juga yang kemudian hilang dan kita rindukan. Menikmati Dialog Dini Hari (DDH), rasanya tidak ada yang lebih dekat dibanding perasaan seperti itu. Perasaan yang demikian dekat, seperti melihat diri sendiri: lahir, tumbuh, dan berkembang.

Bicara soal perkembangan musik mereka, sudahi sajalah. Sejak Lengkung Langit yang kemudian diikuti Tentang Rumahku, DDH seperti tak terhentikan. Menikung mereka, menanjak, bahkan terkadang seperti terbang bebas. Bebas lepas dalam berkarya. Tak henti menyentak dan memberi rasa hangat di dalam hati. Perasaan nyaman yang seperti berbisik lekat di telinga, “Tenang, mas. Di sini, di negeri yang semakin kering keberanian berkarya ini, masih ada kami.”

Rasanya saya bakal pensiun dini menulis opini soal lagu-lagu mereka. Sudahlah. Nikmati saja. Hidup, Peran Terakhir, Jerit Sisa, Kuingin Lihat Wajahmu dan semuanya. Dan semuanya. Ini melampaui semua yang pernah ada.

Single Anyar Endah N Rhesa: Done Anyway

Endah N Rhesa (EAR) yang tampil mesra dan santai di panggung, sungguh berbeda dengan yang saya jumpai di markas mereka Earhouse, Pamulang. Terlebih saat bicara soal musik dan arah kreatif. Keduanya sama bersemangat. Dan sangat serius.

Maka ketika – di sela wawancara materi buku mereka – saya berkesempatan mendengarkan beberapa lagu yang akan masuk ke album teranyar EAR (saat itu saya belum diberi tahu apa judul albumnya), diskusinya berkutat di seputar isu: apakah warna baru yang mereka pilih akan berbuah manis atau sebaliknya, bikin celaka. Sebuah diskusi yang kelewat serius dan jelas bukan bidang keahlian saya. Apa pun, itu diskusi yang sangat menarik. Terlebih karena kopinya malam itu enak.

Tapi bukan itu yang kepengin saya bicarakan di sini. Bukan. Saya kepengin bicara soal single ketiga mereka yang berjudul Done Anyway.

Pertama kali dengar, yang muncul di kepala adalah Macy Gray. Dan ternyata nama itu tidak muncul di kepala saya saja, melainkan di banyak kepala. Cara Endah mengambil nada dan bernyanyi di lagu itu, entah memang demikian atau ini hanya kesan dari kuping awam saja, serak namun bertenaga. Alih-alih terdengar lelah, dia malah terdengar nyaris ceria. Benar-benar terdengar seperti Macy Gray.

Musiknya, lagi-lagi bagi kuping awam saya, semacam perpaduan ciamik antara John Mayer dan Jack Johnson. Jenis musik yang membuat kita kepengin angkat koper dan pergi berlibur. Leyeh-leyeh di tepi pantai sambil menyeruput bir dingin.

Anehnya, dan ini benar-benar tidak bisa saya cerna hingga hari ini, tema lagu itu ternyata tentang bubaran. Bukan bubaran toko tentu saja (itu lebih cocok untuk jadi tema lagu bagi Sawung Jabo atau Iwan Fals), melainkan bubarnya sebuah hubungan asmara. Lha, kok bisa?

Entahlah. Tanya saja Endah.

Dan saya memang benar-benar bertanya ke dia. Dengan bangga kemudian dia menunjukkan rilis pers yang ditulisnya sendiri, yang menjelaskan lagu itu sebagai sebuah perayaan perpisahan. What the fuck? Whatever.

Sampai hari ini, saya menolak tema lagu itu. Di kepala saya, lagu itu adalah ajakan berenang ke pantai. Dan, dengan setengah botol wine yang baru saja saya habiskan saat saya mulai menulis post ini, biarlah kita sepakat bahwa lagu itu memang nyanyian liburan.

Hey ho, let’s go!!!

Pralaya – Single Teranyar DDH

Kalau kita memahami Dialog Dini Hari (DDH) sebatas Tentang Rumahku, maka tentulah kita akan merasa seperti tersesat saat mendengar Pralaya, single teranyar mereka. Benar-benar tersesat.

Pralaya seolah sebuah arah yang sama sekali berbeda. Serius, megah, mewah. Ia tidak lagi bicara soal “aku yang begini dan begitu” melainkan soal kita. Soal bangsa Indonesia. Atau, setidaknya, soal perkiraan mereka tentang masa depan bangsa kalau pertikaian politik yang memalukan ini terus kita lakoni.

Entah disengaja atau tidak, rasanya tidak ada waktu yang lebih tepat untuk merilis Pralaya ketimbang sekarang, beberapa saat setelah sidang MK yang memamerkan kepandiran politik usai. Sidang yang membuang begitu banyak waktu dan biaya, dan nyatanya hanya bisa menyisakan ancaman demo lanjutan dan skenario usang jabat tangan bagi-bagi kekuasaan.

Tentu saja tidak ada muatan politik dalam Tentang Rumahku. Manis, lurus, demikian mudah untuk dicintai. Tapi penikmat musik waras di seluruh dunia tentu tak mau terima kalau entitas folk sesakti DDH hanya menulis lagu cinta. Mereka punya kewajiban moral untuk menuliskan kenyataan. Merekam zaman dalam susunan nada dan lirik abadi. Menjadi saksi dalam setiap lagunya.

Dan, kalau kita sudah cukup lama mengenal mereka, sebenarnya ada sebuah EP yang dirilis DDH pada tahun 2010. Di situ ada Nyanyian Langit dan Manuskrip Telaga, yang dalam banyak aspek – terutama spiritual – sangat layak diberi predikat sebagai bahu raksasa di mana Pralaya disandarkan.

Dalam kemegahan lukisan suaranya, Pralaya menghadirkan kembali pernyataan seni yang menyentak, bahwa musik memang sejatinya tidak boleh dan tidak bisa tercerabut dari situasi sosial politik yang menggulung penulisnya. DDH, pada akhirnya, memang bukan band biasa-biasa saja.