Kedai kopi Kok Tong di kota Pematang Siantar barangkali adalah kedai kopi tertua yang pernah saya singgahi. Seperti tertulis di setiap cangkirnya, Kok Tong beroperasi sejak tahun 1925. Wuih! Tua sekali, ya?

 

 

Matahari September sudah condong ke barat ketika saya tiba di sana. Kedai yang tak berapa besar itu dipenuhi pengunjung. Sebagian orang tua setempat, sebagian lagi terlihat seperti rombongan anak muda penggemar jalan-jalan.

Penampilan rombongan ini khas sekali: celana pendek, kaos, laptop, dan berbagai gadget. Rupanya kedai kopi tradisional dan legendaris sudah mulai jadi agenda kunjungan bagi para petualang muda ini.

Di siang menjelang sore yang sedikit mendung itu, saya memesan secangkir kopi susu. Sebenarnya, di kedai ini memang tidak tersedia banyak pilihan. Hanya ada dua pilihan di sana: kopi hitam atau kopi susu.

Sayang, kopi susu yang disajikan sore itu terlalu manis untuk ukuran lidah saya. Kopinya enak. Terasa kuat dan gurih. Namun susunya, sungguh terlalu manis!

Seandainya saya pesan dengan jumlah susu separuh dari takaran biasa, kemungkinan besar kopi susu itu akan terasa sempurna.

Sebelum ini saya pernah mampir ke kedai Kok Tong yang berlokasi di Sun Plaza, Medan. Kopi susu di kedai itu, entah bagaimana penjelasannya, saya rasa lebih nikmat dibanding kopi susu di kedai aslinya di kota Pematang Siantar ini.

Yang asyik dari kedai ini adalah: mereka menyediakan bubuk kopi untuk kita beli dan bawa pulang. Tersedia dalam dua jenis, kasar dan halus, bubuk kopi itu harganya sangat murah. Tak sampai Rp.10.000,- per 200 gram.

Untuk bercangkir-cangkir kopi legendaris sekelas Kok Tong, harga itu seperti tak ada artinya kan?