3 Lagu Pengantar Minum Racun

Berikut ini adalah 3 lagu terpedih yang pernah saya dengar. Anehnya, kepedihan lagu-lagu ini justru sangat saya nikmati. Setiap kali merasa sedih, mendengarkan lagu-lagu ini terasa seperti sebuah sesi terapi. Saya merasa punya relasi sangat kuat dengannya.

Pada akhirnya, di penghujung lagu, saya tidak lagi merasa sendiri.

Lagu-lagu ini, secara ajaib, seolah memecah kesedihan saya menjadi keping-keping tiada arti dan memberi energi baru untuk kembali menjalani segalanya. Untuk kembali berlari…

BLACK – Pearl Jam

 

 

Dibuka dengan suara gitar Stone Gossard yang terdengar jauh, yang kemudian ditimpali oleh vokal berat Eddie Vedder nan muram, “Black” (Pearl Jam, album “Ten” -1991) tak diragukan lagi adalah salah satu lagu paling galau sepanjang sejarah musik rock dunia.

Tentu saja lagu ini bercerita tentang patah hati. Tentang cinta yang berubah menjadi petaka. Tentang perasaan kehilangan yang teramat sangat dalam. Tentang perginya cinta yang tak kan mungkin tergantikan…

Begitu pedih rasa kehilangan itu sehingga dunia serasa berputar tak tentu arah. Runtuh!

Adalah dua menit terakhir dari lagu berdurasi 5:43 menit ini yang paling memilukan. Ketika denting piano, sayatan gitar listrik Mike McCready yang meraung-raung, suara latar Jeff Ament yang lirih, dan teriakan marah putus asa Eddie Vedder menggelegar bersatu, melemparkan kita ke ruang hampa. Dimensi kosong tanpa cinta.

“Black”, bagi saya, adalah lagu cinta terhebat yang pernah ditulis oleh Pearl Jam. Sebuah ironi mengerikan, betapa kisah kasih yang teramat sangat menyedihkan bisa ditulis dengan luar biasa indah!

 
NOTHING COMPARES TO YOU – Sinead O’Connor

 

 

Ditulis oleh Prince untuk band proyek sampingannya, “Nothing Compares to You” malah menjadi hits paling terkenal sedunia dari perempuan plontos bersuara ultra galau asal Irlandia, Sinead O’Connor, setelah dia menyanyikan ulang dan merilis lagu ini di album keduanya yang berjudul “I Do Not Want What I Haven’t Got” pada tahun 1990.

Jika kamu, seperti saya, mengalami hebohnya lagu dan klip video ini di MTV pada waktu itu, maka rasanya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa ini adalah lagu paling galau sepanjang masa yang pernah dinyanyikan oleh seorang perempuan dalam dunia rock!

Lagu ini, sudah pasti, bercerita tentang patah hati…

Putus cinta, patah hati, atau hilang harapan, sungguh membuat dunia terasa gelap.

Kamu bisa saja pergi bersenang-senang setiap malam, makan di restoran mewah sesuka hati, atau bahkan tidur dengan siapapun yang kamu suka.

Tapi tak ada yang bisa menghilangkan kepedihan itu. Kedukaan itu. Karena tidak ada, sekali lagi tidak ada, yang dapat menggantikan dirinya. Kekasih yang sudah pergi itu…

Demikian Sinead O’Connor menumpahkan kesedihannya dalam bait-bait mengerikan, dengan suaranya yang lebih mirip rintihan dibanding nyanyian, diiringi chord-chord piano yang jatuh berdentang seperti hujan api dari langit kelam, dengan paduan suara murung di latar belakang.

Selama 5:10 menit dia menghantam kita dengan kepedihannya. Sungguh itu adalah lima menit yang mencekam. Mendengarkan lagu ini, dengan konsentrasi penuh, bisa jadi lima menit paling panjang dalam hidupmu.

Seandainya saja generasi saat ini bisa mencerna dan memiliki ikatan batin, sekecil apapun itu, pada lagu ini, saya khawatir kita akan sering membaca headline di koran-koran lokal yang isi beritanya kira-kira: “Ditemukan lagi, seorang remaja yang bunuh diri setelah mendengarkan lagu “Nothing Compares to You” dan menuliskan surat perpisahan yang galau luar biasa”.

Ah, untung saja lagu itu keluar 22 tahun yang lalu, ketika remaja masih memiliki banyak semangat pemberontakan dan belum gemar menggalaukan diri tanpa sebab yang jelas, seperti belakangan ini…

 
HURT – Johny Cash

 

 

Dengan lirik seperti “I hurt myself today… To see if I still feel… I focus on the pain… The only thing that’s real…”, dapat kita pastikan bahwa Trent Reznor punya masalah serius dengan hidupnya. Jauh lebih serius daripada sekedar galau karena putus cinta, ditinggal kawin, atau bahkan ditinggal mati.

“Hurt”, lagu darimana lirik tersebut dicuplik, pertama kali dirilis oleh Nine Inch Nails (NIN) dalam album “The Downward Spiral (1994)”. Namun baru pada tahun 2002, ketika Johny Cash menyanyikannya kembali, lagu ini benar-benar terdengar memilukan di telinga saya. Tentu saja saya bukan penggemar NIN.

Suara instrumen musik yang minimalis, jika tidak bisa disebut nyaris nihil, menjadi latar bagi suara berat, parau, dan berbau kuburan milik Johny Cash.

Perpaduan jahanam itu, ditambah dengan sajian klip video yang menggambarkan Cash sebagai sosok lelaki sangat tua yang nyaris tidak pernah bergerak (bahkan jarinya pun terlihat diam membeku ketika memetik gitar) melahirkan nuansa putus asa yang luar biasa bagi “Hurt”. Nuansa yang sebelumnya tidak muncul dalam versi NIN yang sarat keruwetan monoton (ruwet dan monoton, bukan terobosan bahasa terbaik yang pernah saya tulis :d )

Tahun 2003, klip video lagu ini berhasil menggondol Grammy untuk kategori The Best Short Form Music Video.

Melalui tenggorokannya yang sudah puluhan tahun dialiri alkohol, sebelum akhirnya berhenti karena sang empunya mati, lirik yang ditulis Trent Reznor 8 tahun sebelumnya itu terdengar mengerikan sekaligus wajar dan sangat nyata.

“Hurt”, anehnya, benar-benar membuat saya tenang. Barangkali karena lagu itu tanpa sengaja melahirkan kesadaran bahwa apapun yang menghantam hidup saya selama ini, ternyata masih belum ada apa-apanya dibanding dengan apa yang sudah dikecap oleh Johny Cash…

5 thoughts on “3 Lagu Pengantar Minum Racun”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *