Ancol Paradise City!

Dengan kaos lengan kuntung bergambar The Who dan jenggot panjang yang dikuncir, Bumblefoot terlihat benar-benar menikmati penampilannya bersama Guns N’ Roses (GN’R). Ditambah aksi mencuri hatinya dengan memainkan lagu Indonesia Raya, yang diamini 7.000-an lebih audiens Mata Elang International Stadium (MEIS), Ancol, resmilah Bumblefoot jadi gitaris favorit terbaru saya, hahaha!

 

Guns N’ Roses di MEIS Ancol Jakarta 2012 (foto oleh Bobo)

 

Sehari sebelumnya, semua fans GN’R mendadak panik ketika jam 1 siang Polda Metro Jaya, melalui akun Twitter mereka, mengumumkan bahwa konser GN’R yang seharusnya digelar di Lapangan D Senayan diundur dan dipindahkan lokasinya. Alasannya: faktor keamanan dan cuaca. WTF!

Maka tertawalah semua orang yang sejak awal memang menyimpan kebencian (atau setidaknya sinisme) pada GN’R formasi baru ini. “Tuh kan! Gua bilang juga apa?!” Barangkali itulah kalimat yang melintas cepat di kepala mereka. Fuckers.

Namun semua keraguan dan sindiran itu segera masuk ke comberan ketika Welcome to The Jungle, dengan seluruh kengerian jeritan buas Axl Rose dan kebisingan musik khas GN’R meledak di MEIS, Minggu (16/12) siang, sekitar jam 13:30 WIB.

Tangan terangkat ke udara. Jeritan histeris membahana. Ladies n’ gentlemen, please welcome… GUNS N’ FUCKIN’ ROSEEESSS!!!

Mulai detik itu, hingga tiga jam kemudian, GN’R menghantam seperti badai. Bukan badai sempurna memang, mengingat di banyak kesempatan Axl Rose lari ke belakang panggung, meninggalkan teman-temannya ber-jamming, unjuk kebolehan solo gitar, piano, atau bahkan membawakan lagu-lagu yang bukan milik GN’R.

Apa yang sebenarnya dilakukan Axl Rose di belakang panggung? Hanya Tuhan yang tahu!

Tapi yang pasti, itu adalah tiga jam paling mengharukan dalam hidup saya, selain pernikahan saya tempo hari 🙂

Semua kenangan masa remaja mengalir deras di kepala. Berlari dalam darah, menghangatkan dada dan kemudian meluncur keluar melalui teriakan, acungan tangan ke udara dan aksi lompat-lompat di atas bangku yang sesungguhnya, norak.

Mau bagaimana lagi? Bersama Nirvana dan Pearl Jam, GN’R adalah musik yang benar-benar merasuk dalam kehidupan remaja saya. The soundtrack of my fucked up teenage life, hahaha!

Chinese Democracy , Welcome to the Jungle, It’s So Easy, Mr. Brownstone, Estranged, Rocket Queen, Live and Let Die, This I Love, Better, Catcher in the Rye, Street of Dreams, You Could Be Mine, Sweet Child O’ Mine, November Rain, Don’t Cry, Civil War, Knockin’ on Heaven’s Door, Nightrain, Patience dan Paradise City jadi amunisi utama GN’R sore itu, ditambah beberapa cover song milik The Who , Led Zeppelin dan Pink Floyd.

Omong-omong soal sore, dalam nada bercanda, Axl Rose memberi salam kepada audiens Jakarta. “I’d like to say something I didn’t often say to you all: good AFTERNOON!”

Ya, bukan rahasia lagi jika konser GN’R hampir selalu telat sehingga baru dimulai menjelang tengah malam. Konser mereka di Jakarta yang dilangsungkan siang hingga sore hari jadi sesuatu yang diluar kebiasaan.

Namun sore itu bukan hanya jadualnya saja yang diluar kebiasaan. Mood Axl Rose pun, diluar dugaan, ternyata sedang sangat bagus!

Sepanjang konser dia berlari-lari dari ujung panggung ke ujung lainnya. Menari. Tertawa. Bercanda.

Dalam satu kesempatan dia bahkan dengan iseng mengikat kaki DJ Ashba, yang sedang memainkan solo, menggunakan selotip merah. Dan vokalnya, untuk ukuran rocker yang sudah berusia 50 tahun dan jelas kelebihan berat badan, layak diacungi dua jempol!

Axl Rose sore itu sama sekali bukan sosok yang belakangan ini digambarkan oleh nyaris seluruh media di dunia sebagai rocker tua biang onar yang sudah tidak kuat bernyanyi dan hanya bisa membuat kesal penggemarnya.

Sore itu, semua fans GN’R di MEIS Ancol boleh dibilang sebagai golongan fans yang paling beruntung! Hell, yeah!

Jika drumer dan basis GN’R saat ini memang tidak bisa disebut sebagai yang terbaik di kelasnya, sementara tambahan satu kibordis untuk menemani Dizzy Reed lebih terasa sebagai pemborosan, maka tidak demikian halnya dengan tiga gitaris mereka.

Richard Fortus yang membawa warna blues, Bumblefoot dengan nuansa metal namun berpenampilan santai dan bebas, serta DJ Ashba yang mewakili generasi paling modern, sungguh mampu menyuguhkan kualitas musik kelas dunia. Ketiganya barangkali memang tidak sanggup menulis lagu dan melodi gitar sehebat Slash, namun dalam konser di Ancol itu, perpaduan ketiganya membuat saya, dan barangkali juga fans GN’R lainnya, tidak lagi kelewat merindukan kehadiran Slash di panggung.

Orang boleh bicara apa saja tentang Axl Rose dan formasi GN’R terbarunya ini. Namun yang jelas, bagi saya, tiga jam bersama mereka kemarin sore adalah salah satu pengalaman musik terbaik yang bisa saya rasakan.

Demi masa remaja yang sudah berlalu dan tak akan pernah bisa kembali, tiup peluitmu sekerasnya dan hanyutlah bersama Paradise City… Priiiitttt!!!

13 thoughts on “Ancol Paradise City!”

  1. Gue suka kalimat ini … haha

    “Bersama Nirvana dan Pearl Jam, GN’R adalah musik yang benar-benar merasuk dalam kehidupan remaja saya. The soundtrack of my fucked up teenage life, hahaha!”

  2. Saya gak beli tiket bukan karena gak mau sih sebenernya, tapi karena uangnya di prioritaskan ke yang lain.. damn..!!

    Jangan sampe hal yang sama terjadi nanti ketika seandainya Pearl Jam dateng kesini.. *berdoa*

    Btw, locomotive dan ain’t it fun gak dibawain ya?.. tapi setlis diatas udah manteb banget dah tu.. damn.. *hanya bisa mengelus dada lagi*

    1. Memang sangat menyebalkan, jika musisi favorit kita konser, tapi kita gak punya bujet cadangan buat beli tiket, hehehe… Semoga lain kali lebih beruntung masbro!

      Setlist ini nyaris sama persis dgn setlist mereka di kota2 lainnya, seperti Las Vegas dan Mumbai

  3. Lucunya, sebagian yang nonton juga yang underestimate GNR formasi baru ini. Mungkin karena udah setting bar-nya ngga tinggi, jadi bisa lebih pol menikmati. So, ngga semua yang ragu sama Axl haters juga. Kalo ngga salah Purnomo (komen di atas saya) sendiri juga posting hal-hal yang meragukan pas posting status You Could Be Mine dulu dan sekarang sebelum konser.

    Enjoy bliss of the moment lah. Haters gonna hate. They contribute nothing.

    1. buat para haters, axl menjawab dengan lagu “get in the ring”……
      Setuju kalo formasi ini menjadi underrated. Sejujurnya amat sangat tidak adil buat para personil GN’R sekarang yang selalu menjadi obyek komparasi dengan Slash CS betapapun keras usaha mereka di band ini…..it’s suck, tapi tak terhindarkan.

      Konser kemarin jelas merupakan pembuktian tentang apa yang mereka miliki untuk berada di Guns N’ Roses. (sejujurnya konser ini secara live bagi saya lebih keren daripada konser slash dua tahun lalu di jakarta).

      -lintang pukang semarang-jakarta demi jagoan masa kecil-

  4. Sejak awal saya sendiri emang gak ngarep apa2. Cuma pengen lihat Axl di panggung dgn mata kepala sendiri aja. Ternyata lagi bagus, hahaha! Sungguh beruntung 🙂

  5. selama karir GnR baru kali ini manggung sore hari? geblek dah, Axl Rose geloooo.. 😀

    itu konsernya diundur selain cuaca, mungkin karena masih ngulik lagu Indonesia Raya. hihihi..
    *kabur!

  6. Yep, sore penuh keberuntungan buat kita, terutama yang bisa nonton.
    Bagaimanapun band adalah seperti company, dan buat yang udah punya aset hits setara Gn’R gitu ya begok aja kalo gak diterusin, begimanapun caranya. Hal yang mirip pernah diperjuangin Rachel Bolan bersama Skid Row, meski vokalis barunya vokalnya bapuk banget dan secara potongan lebih mirip Brett Michaels.
    Buat saya, analogi di Indonesia buat Gn’R adalah Slank saat alih generasi BIP ke Ridho-Abdee-Ivan. Bedanya, setelah transisi dan akhirnya diterima hardcore fans, Slank terus produktif. Hal yang nggak dilakuin Gn’R, miskin produk baru sehingga ada gap generasi, dan jadi kayak nostalgic band yang ogah disebut gak bisa move on.
    Tim bagus meski gak istimewa, skill ok, sayang aja sih kalo gak dipikirin gimana biar rada lebih dipandang selain cuma sebagai band tembang kenangan… Iron Maiden aja bisa kok …

    1. Barangkali standar karyanya ketinggian. GN’R baru gak berani keluarin karya yg “kalah pamor” dibanding GN’R lama. Tapi saya sih, sejujurnya, mengharapkan mereka keluarin album baru. Ya, di era musik rock payah kayak sekarang ini, siapa tahu album baru GN’R bisa jadi penyegar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *