Pestanya Weezerian

Dengan harga tiket Rp. 850.000, konser Weezer di Lapangan D Senayan, Selasa (8/1) tadi malam adalah konser tidak jelas termahal seumur hidup saya. Bukan penampilan Weezer-nya yang tidak jelas, melainkan pengetahuan saya tentang mereka yang tidak memadai.

 

 

Seperti sebagian besar orang, era ’90-an saya berisi kegilaan menyenangkan, masa-masa gelap yang tidak sepenuhnya dapat diingat kembali dan tentu saja, musik rock dari jenis yang terbaik. Hanya saja, rupanya ada satu hal yang saya lewatkan: Weezer.

Ribuan orang yang hadir di lapangan becek semalam benar-benar membuat saya merasa terintimidasi. Mereka bernyanyi keras-keras di setiap lagu, sepanjang konser. Sungguh celaka!

Meski tak sedikit yang salah kostum (pakai sandal jepit atau sepatu hak tinggi di tanah berlumpur), mereka sepertinya adalah fans dari jenis yang paling baik: hapal semua lirik lagu dan memang datang untuk bersenang-senang.

Bukan berarti mereka adalah penikmat konser dengan etika paling tinggi, mengingat tak sedikit yang mengangkat gadget-nya tinggi-tinggi dan merekam keseluruhan konser. Ya, sepanjang malam! Assholes.

Rivers Cuomo, yang malam itu kelewatan banyak mengoceh dalam bahasa Indonesia, jelas merupakan penghibur yang jenaka. Meski saya curiga, di balik canda tawanya itu sesungguhnya bersembunyi sosok yang teramat sangat serius.

“Selamat malam!”, “nyanyi!”, “teriak!”, “mantap!” dan “sip!” adalah sebagian kosa kata yang disuarakannya dengan cukup meyakinkan. Favoritnya, cukup aneh, adalah “sip!”. Berkali-kali Rivers meneriakkan ini di penghujung lagu dan terutama setelah koor penonton. OK deh. Sip!

Karena ini adalah konser dengan setlist yang jelas, yaitu hits dan keseluruhan materi Blue Album, maka sebenarnya saya jauh-jauh hari sudah menyiapkan diri. Namun sayangnya, saya gagal jatuh cinta pada musik mereka.

Bagi saya, Weezer terdengar nyaris seperti lagu anak-anak: ceria, sederhana dan mudah dinyanyikan. Seperti Nirvana namun tanpa unsur agresif, frustrasi dan nuansa pikiran yang gelap. Jenis musik yang barangkali sangat asyik untuk mengisi pesta-pesta liar mahasiswa gembira di ruang-ruang pertemuan kampus.

Sebenarnya, justru itulah yang membuat Weezer menarik di mata saya, yang sudah dapat dipastikan bukan fans mereka.

Weezer menampilkan sosok yang serius bermusik namun sama sekali tidak menganggap diri mereka terlalu serius. Mereka bagus, namun mereka sepertinya bukan tipe yang mau berkata terang-terangan bahwa mereka bagus. Jenis musisi yang sesungguhnya makin jarang kita temui, karena belakangan ini, terutama di Indonesia, lebih banyak musisi yang volume omong kosongnya melebihi kualitas karyanya.

“Say It Ain’t So”, “Baverly Hills”, “Island in The Sun”, “Buddy Holly”, “El Scorcho” dan nomor-nomor lain yang jumlah keseluruhannya mencapai 21 lagu jelas sangat memuaskan fans Weezer di tanah becek semalam. Jangan lupakan juga lagu “Heavy Rotation” milik AKB48 yang dibawakan sembari bercanda oleh Rivers.

Weezerian, kalian semua sekarang sudah boleh tidur, pingsan atau bahkan mati kesenangan. Sah!

 

11 thoughts on “Pestanya Weezerian”

  1. masa abege saya sempat ngebawain blue album weezer, disela sela nirvana dan greenday yang rutin kita bawain pas pensi, hehehe band kualitas pensi…
    Cukup menyedihkan, disaat awal gw lagi demen2nya bawain weezer, sebagian orang pada gak tau lagu dari band mana yang kami bawain , tau weezer aja kagaa… hehehe sekitaran tahun 93-95 an lah, pas generasi grunge lagi on top dengan nirvananya, dan awal kemunculan greenday lumayan heboh… tapi konser semalam lumayan emosional..

    eh nostalgic tepatnya, (akibat banyak ketemu temen lama, berasa reuni hihihihi) menyenangkan, walaupun momennya telah lewat jauh.. lucunya, tanpa persiapan sebelumnya, saya masih hapal luar dalam lirik bahkan perbedaan2 teknis lagu yang dibawakan semalam dengan apa yang pernah saya bawakan dulu .. #gapenting. . . .

    satu yang tidak saya duga soal konser rock semalam, itu penonton pada wangi dan rapi jali… sementara saya udah siap jejingkrakan pake tjelana pendek huehehe, ujung2nya malah menikmati pemandangan SPG rokok dan beberapa sisa sisa pesona gadis gadis indiess…hehehehe mengenang sedikit masa esempe/esema kali ye..

    ah nice article bro… good point of view, walau setuju dengan pendapat bro satu ini….

    “Bukan berarti mereka adalah penikmat konser dengan etika paling tinggi, mengingat tak sedikit yang mengangkat gadget-nya tinggi-tinggi dan merekam keseluruhan konser. Ya, sepanjang malam! Assholes.”

    those fucking retards ! ngalangin ajeee….

    boro boro bikin pidiyo, moto2 aja jarang… akibat terlalu konsen ama performance nya hehehe

    ah di premium ya bro? sama…. tempatnya sama, bayarnya sama…. cuma perasaan ketika pulangnya beda…

    again u’re right…

    “Weezerian, kalian semua sekarang sudah boleh tidur, pingsan atau bahkan mati kesenangan. Sah!”

    saaahhh…….

    SIP!!!

    ^__^ \m/

    1. Soal SPG2 rokoknya semalam… Ehem! Bikin saya pengen ngerokok 🙂
      Pasti menyenangkan sekali ya bisa nonton band favorit manggung di negeri sendiri?
      Silahkan tidur! Hahaha…

  2. wah sayang sekali kamu menjalani masa 90`an dengan “melewatkan” weezer hehehe… Rivers Cuomo sebagai lulusan jebolan sekolah musik di Berklee College of Music , tentunya dia cukup paham tentang teori musik yg sahih..tetapi dalam satu interview cuomo pernah bilang bahwa pada masa itu banyak orang terlalu serius dalam mengolah jenis musik hingga hilang esensi dasar bermusik adalah hal yg menyenangkan…dengan lirik yang sederhana dan aransemen yg catchy tetapi tidak kacangan..kalo diperhatikan weezer membawa nuansa garage dan raw rock yg cukup kental ini bedanya dengan musik catchy yang hanya menelurkan single hits saja..tapi weezer tidak..satu album full adalah aransemen seperti kumpulan single hit..maka gak salah pada saat booming Nirvana, geffen records menggaet mereka. Mereka bukan dari ranah Seattle Sounds…tetapi dalam himpitan musisi Seattle..Weezer dapat bertahan dan menjadi satu refrensi buat anak2 Grunge juga…dan konser malam itu adalah…sebuah momentum yang paling indah dalam hidup saya sendiri…emang sing along itu enak kalo lagi nonton konser… hiihihi…

    1. Mantap! Memang gak ada yg lebih asyik selain datang ke konser band idola ya, hihihihi… Kamu termasuk orang yg beruntung!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *