Orang Muda Punya Suara

Tampil tanpa Dankie yang sedang tur bersama Dialog Dini Hari, Navicula tetap menderu layaknya kereta kematian. Menghitung Mundur, Mafia Hukum hingga Metropolutan menghantam Rolling Stone Cafe, Jakarta, Kamis (7/3) malam tadi. Luar biasa keras!

 

Tentu saja saya merasa kehilangan raungan gitar dan badai feedback di penghujung Aku Bukan Mesin serta keliaran nan seksi di solo guitar Orangutan.

Namun demikian, Edward, pria bule jangkung berambut cepak dengan kemeja hitam yang malam itu menggantikan posisi Dankie, mampu bermain apik. Intro Kali Mati yang pekat bernuansa blues pun disikatnya tanpa ragu.

Tidak perlu heran. Edward adalah gitaris dari Balian, band yang juga dihuni oleh Gembul dan Made. Seperti bermain untuk saudara sendiri, ya?

Barangkali sudah kelewat bosan menunggu, fans garis keras Navicula yang sebagian besar adalah remaja cowok berambut gondrong langsung moshing dan crowd surfing di lagu pertama yang dimainkan jam sepuluh lewat sedikit. Sebenarnya, sejak chord pertama!

Orang bodoh pun akan segera mengerti bahwa kehadiran banyak sekali fans remaja yang mengenakan kaos resmi band dan bernyanyi, moshing serta crowd surfing sepanjang konser, tentu saja dengan sukarela, adalah tanda-tanda lahirnya sebuah cult band.

Dan mengingat musik Navicula tidak bisa dibilang manis, dengan lirik yang jauh dari tema selangkangan atau patah hati, remaja-remaja ini sudah pasti menganggap musik mereka sebagai hal yang serius. Bukan sekedar suara latar yang tidak signifikan.

Musik dan lirik Navicula, barangkali, mewakili gejolak darah muda dalam jiwa mereka, para remaja berambut gondrong dengan selera musik yang bagus ini.

Maka tak heran jika kemudian semua berebutan naik ke panggung ketika Robi mengundang mereka untuk bersama menyanyikan Mafia Hukum. Sebuah lagu anti korupsi yang keren sekali.

Mafia Hukum, hukum saja! Karena hukum, tak mengenal siapa!” begitu jerit mereka dari atas panggung. Sementara di bawah sana, teman-temannya yang tidak kebagian jatah naik ke panggung semakin larut dalam keasyikannya ber-moshing dan ber-crowd surfing ria.

Bagi saya, selain puncak gunung dan terumbu karang, pemandangan seperti itu adalah salah satu yang terindah di dunia. Sebuah lukisan hidup yang merangkum semangat perlawanan orang muda. Sebuah potret penuh energi tentang kejujuran pada diri sendiri.

Sebuah pernyataan memekakkan telinga yang bahkan sama sekali tidak perlu diucapkan. Sebuah fase dalam hidup ketika orang-orang muda berani bilang: “Fuck the world, I’m rocking hard tonite!”

4 thoughts on “Orang Muda Punya Suara”

  1. Bang, maaf sebelumnya komentar di sini. Saya baru saja kelar baca buku yang Abang yang mengulas Robi dan Che, wih bagus. Lebih mengenalkan mereka secara pribadi dan sudut pandang mereka. Loh, siapa pula yang tau di balik garangnya Robi Navicula ternyata suka memasak. Hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *