Bulan Madu di Gili Trawangan

Terlambat setengah jam dari jadual, akhirnya saya dan istri mendarat di Bandara Internasional Lombok. Seperti biasa, siang itu (Sabtu, 23/3) matahari Lombok bersinar terang. Nyaris seperti sedang marah.

 

 

Bandara ini terbilang baru. Menggantikan bandara lama di Selaparang yang kini sudah tidak difungsikan lagi, lokasi bandara ini cukup jauh dari Mataram maupun Senggigi. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk mencapai Senggigi menggunakan Damri dari sana.

Ya, untungnya sekarang layanan bus umum Damri sudah lancar. Dengan satu saja jalur perjalanan dan dua titik perhentian, layanan ini sangat murah (Rp. 25.000 seorang) dan dapat diandalkan.

Mampir sebentar di cafe kecil bernama Papa Besar di lokasi perhentian terakhir Damri, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Bangsal menggunakan Blue Bird. Setengah jam menembus jalan mulus yang berliku dan naik-turun, menyusuri pantai berair biru terang dengan rerimbunan pohon kelapa. Indah sekali!

Separuh jalan, hujan deras menerjang. Anginpun tak mau kalah pamor, menderu kencang. Ah, bagaimana mungkin menyeberang ke Gili Trawangan dalam cuaca buruk seperti ini?

Supir taksi asli Lombok yang tak henti nyerocos dalam bahasa Italia (ya, betul, Italia! Dan FYI, tangannya juga melambai kesana kemari saat bicara, layaknya orang Italia sungguhan!) menambah kekhawatiran kami karena dia menjelaskan bahwa tidak ada kapal penyeberangan yang berani berlayar dalam hujan angin ini.

Beruntung, saat tiba di Bangsal, hujan sudah reda. Tinggal genangan air saja muncul di mana-mana. Terinjak bule dengan ransel besar di punggung dan kaki kuda dari cidomo yang lalu-lalang. Pelabuhan kecil ini memang selalu sibuk.

Penyeberangan dari Bangsal ke Gili Trawangan tidak banyak berubah sejak terakhir kali saya kunjungi tahun 2009. Calo kelas kambing berkeliaran dan sesekali berhasil mengelabui turis bule yang terburu-buru ingin menyeberang. Pengaturan jadual penyeberangan juga masih berdasarkan warna tiket dan diumumkan melalui pengeras suara.

Membelah ombak sore dan udara yang masih membawa sedikit butiran hujan, 20 menit kemudian kami menginjakkan kaki di hangatnya pasir putih Gili Trawangan. Yesss!!!

 

 

Karena hari sudah menjelang senja, kami bergegas jalan kaki ke arah barat, menuju Vila Ombak, tempat kami akan menginap. Asal tahu saja, banyak sekali turis manca negara yang mengeluhkan kualitas hotel ini dalam review mereka di website TripAdvisor. (Saya sudah posting review saya di website tersebut yang, tentu saja, memberi penilaian bagus sebagaimana layaknya mereka terima)

Tapi semua keluhan itu terbukti hanya isapan jempol belaka. Vila Ombak punya fasilitas hotel, kamar, taman, resto dan pelayanan yang baik. Bahkan saya mendapat bonus dua payung tradisional di depan kamar, buah dan rangkaian bunga berbentuk hati di bed cover serta kue bulan madu khusus, hahaha!

Terkait kue ini, sungguh menggelikan. Ketika petugas hotel mengantarkan kue, istri saya sedang di kamar mandi. Kebetulan seorang teman lelaki bernama Tombol a.k.a Cody berkunjung dan tiduran di kasur, sementara saya menyalakan televisi.

Nah, saat saya buka pintu dan petugas itu menyerahkan kue bulan madu, wajahnya tampak kaget melihat saya dan teman lelaki saya itu, bwahahaha! Mungkin dia berpikir: Hadeh, ini di database hotel pasangan honeymoon tapi kenapa yang nongol di kamar dua lelaki begini? What an awkward moment!

Sore itu kami hanya punya dua agenda: menikmati sunset dan makan malam di Blu d’Amare, sebuah resto Italia kecil yang direkomendasikan banyak orang.

 

 

Berjalan menyusuri trotoar jauh ke barat, kami akhirnya menikmati sunset di sebuah bangunan yang sudah tidak digunakan lagi. Banyak turis juga menikmati sunset di sana. Berfoto atau duduk-duduk saja. Beberapa bahkan menikmati senja sambil jogging.

Blu d’Amare terletak di bagian timur Gili Trawangan. Itu berarti kami harus berjalan kaki cukup jauh, mengingat Vila Ombak tempat kami menginap terletak di bagian barat. Tapi tak mengapa. Menu makan dan suasana di resto itu terbukti lumayan memuaskan.

Tagliata yang dibuat sendiri dan tuna bakar yang katanya juga dipancing sendiri tadi sore, sungguh lezat! Ditambah dengan suasana sepi (bagian timur Gili Trawangan memang jauh lebih sepi dibanding bagian baratnya) yang memungkinkan kami manikmati semilir angin dan debur ombak, Blu d’Amare benar-benar menyenangkan untuk saya dan istri.

 

 

Semuanya akan tambah sempurna dengan segelas wine. Namun saya memang sedang tidak minum alkohol, jadi  cukuplah segelas es lemon tea saja.

Malam mulai larut dan kamipun beranjak pulang.

Sebenarnya kami berencana untuk mampir ke Sama-Sama. Sebuah reggae bar yang terkenal. Namun ketika melewati bar itu, musiknya terlalu kencang dan suasananya terlalu bernuansa pesta. Ramai sekali. Rasanya kurang cocok untuk kami berdua yang tidak sedang ingin berpesta.

 

 

Hari kedua di Gili Trawangan dibuka dengan sarapan di Vila Ombak. Menu sarapannya, jika dibandingkan dengan hotel berbintang sama di Jakarta, rasanya tidak istimewa. Biasa saja.

Selanjutnya… Snorkeling!

Bermodalkan Rp.100.000 seorang, kami sudah dapat menikmati paket snorkeling keliling pulau selama kurang lebih 4 jam. Selain Gili Trawangan, pulau yang kami kunjungi dalam paket ini adalah Gili Meno dan Gili Air (sekalian mampir untuk makan siang).

 

 

Tidak seperti paket snorkeling di Karimun Jawa, di sini sepertinya paket snorkeling tidak dikelola dengan sempurna. Bayangkan saja, dalam satu perahu terdapat sekitar 60 penumpang! Saya berani bertaruh bahwa jumlah ini melanggar batas keselamatan transportasi laut di belahan dunia manapun.

Tapi biarlah. Sejauh ini saya belum pernah mendengar ada kapal snorkeling Gili Trawangan yang karam dan merenggut korban jiwa.

Jadilah kemudian kami berkeliling ke beberapa tempat snorkeling di sekitar situ. Terumbu karang dan ikannya lumayan bagus. Arus laut cukup kencang. Di satu lokasi ombaknya malah lumayan tinggi sehingg kami seperti korban kapal karam yang asyik menyelam, hahaha!

 

 

Dibanding terumbu karang dan ikan di Karimun Jawa, keindahan alam bawah laut Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air memang masih kalah bagus. Tapi cukuplah untuk memanjakan mata yang sudah terlalu lama lelah melihat layar komputer dan gedung-gedung Jakarta yang suram.

Paket perjalanan berakhir sekitar jam 3 sore. Matahari masih menyengat. Apalagi yang lebih baik dibanding setangkup es krim legendaris, pizza dan sebotol bir dingin?

Maka mampirlah kami ke Gili Gelato. Penyedia es krim khas Gili Trawangan. Jangan kecele. Es krim ini sepenuhnya dibuat oleh orang Lombok. Tidak ada unsur Italianya sama sekali!

Trattoria Pizza, dengan meja makan yang menghadap ke laut, adalah tempat makan sore yang sempurna. Pizza tipis dan kering dengan nuansa rasa gurih serta asin seperti menyatu dengan cahaya matahari volume maksimal dan angin laut yang membawa banyak sekali garam. Dan bir dinginnya… Aaahhh…!!!

 

 

Rencana keliling pulau menggunakan cidomo kami batalkan. Disamping karena kurang nyaman menghirup bau kuda, kami juga keberatan membayar Rp.150.000 untuk sekedar naik cidomo.

Alhasil, kami kembali ke Vila Ombak dan melanjutkan berenang di kolam. Bedanya, kolam yang kami renangi ini bukan milik Vila Ombak, melainkan milik hotel di sebelahnya, hahaha!

 

 

Tapi tenang, hotel ini masih dalam manajemen Vila Ombak juga. Setidaknya, hingga hari itu.

Dilihat dari fasilitas kolam renang, taman dan bangunan kamarnya, hotel tetangga ini lebih bagus dibanding tempat kami menginap.

 

 

Malam itu, sekaligus juga perjalanan menyenangkan ini, ditutup dengan seekor lobster bakar yang luar biasa lezat dari resto The Beach House. Dalam hangatnya hembus angin Gili Trawangan, saya dan istri sangat menikmati makan malam yang tenang dan sangat menyenangkan itu.

Next destination: Sabang!

One thought on “Bulan Madu di Gili Trawangan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *