Si Pohon Tua

Tampil seorang diri di hadapan 200-an lebih penonton rupanya membuat Pohon Tua grogi. Dengan canggung dia menyapa. Lucu juga melihat musisi sekelas dirinya bisa salah tingkah seperti itu. Tapi urusan main gitar & bernyanyi, Pohon Tua tetap tiada dua.

 

 

Malam itu (Rabu, 27/3) sebenarnya jiwa saya terbelah dua. Separuh berada di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, separuhnya lagi terbang ke AtAmerica. Di sana, di pusat kebudayaan Amerika Serikat berbasis teknologi tinggi pertama di dunia itu, sedang digelar konser dan dialog bertemakan grunge.

Sungguh rugi rasanya tidak bisa melihat penampilan band grunge papan atas ibu kota semacam Besok Bubar, Alien Sick (feat Che Cupumanik) dan Toilet Sounds (feat Irsya Perfect Ten). Apalagi kabarnya Alien Sick membawakan dua lagu baru yang akan jadi materi album mereka yang akan datang.

Jelang jam 9 malam, setelah melarikan diri dari acara futsal di kantor (yeah, sue me!), saya tiba di Teater Kecil TIM. Keroncong Tugu sudah separuh jalan.

Ini adalah suguhan musik keroncong mumpuni yang sangat menyenangkan. Gembira, merdu dan sekaligus bertenaga. Musik rakyat yang disajikan lengkap dengan tata panggung yang dibuat seperti sebuah ruang tamu. Saya sama sekali tidak keberatan jika ada kesempatan menonton penampilan mereka lagi.

Harlan kemudian naik ke panggung. Santai, nyaris seperti main-main. Berbekal gitar kopong, dua penyanyi latar dan lirik jenaka, pria jangkung ini sukses membuat penonton terpingkal dan bertepuk riuh.

“Suap Suap”, sebuah lagu tentang akutnya korupsi di Indonesia, dibawakan lengkap dengan visualisasi berbagai jenis makanan khas dari seluruh penjuru dunia. Alhasil, saya jadi lapar!

Lalu muncullah si Pohon Tua dengan “Manuskrip Telaga” sebagai menu pembuka…

Denting gitarnya yang bening pecah di dalam jiwa. Dan semua seperti tersedot ke dalam suasana mistis ketika dia bersenandung lirih meningkahi permainan gitarnya. Istri saya, yang duduk setengah mengantuk, berkata: “Kok kayak suara hantu?”

Inilah sosok Pohon Tua yang belakangan jarang terlihat. Sosoknya yang misterius. Tidak gelap dan murung, namun juga tidak terang gembira. Sosok ambigu yang mempesona banyak penggemarnya.

Dengan musiknya, malam itu dia membuka pintu ke dunia lain. Pintu yang barangkali sebaiknya dibiarkan tetap tertutup saja…

“Jalan dalam Diam” dan “Pelangi” disuguhkan lengkap dengan permainan cello dari Ricky, personil White Shoes and The Couples Company. Ciamik!

Dan sekali lagi saya berkesempatan menyaksikan “Jerit Sisa” yang dibawakan dengan sangat intens. Versi Teater Kecil TIM malam itu bahkan jauh lebih intens dibanding versi Borneo House sebulan lalu. Pohon Tua, you really are in a very deep shit, hahaha!

Konser bertajuk “Konser Musik Sejarah adalah Sekarang 7” malam itu ditutup dengan penampilan Mata Jiwa. Sayang, saya tidak bisa menyaksikannya karena harus segera pulang dan mengambil motor yang sudah terlanjur saya titipkan di stasiun kereta.

Sungguh sial, meski sudah bergegas, ternyata penjaga penitipan motornya sudah pulang. Motor saya dimasukkan ke gudang penyimpanan dan tidak bisa diambil. Jadilah saya dan istri jalan kaki tengah malam. Hingga saat ini, saya tidak tahu bagaimana nasib motor saya itu. Benar-benar kampret!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *