Selamat Datang Kekacauan Digital!

Setelah The Historian, buku fiksi tentang drakula karangan Elizabeth Kostova, belum ada lagi buku yang bisa melahirkan mimpi buruk dalam tidur saya. Sampai dua minggu yang lalu, ketika saya dipinjami sebuah buku berjudul Digital Disruption karangan James McQuivey. Buku yang satu ini, sialnya, bukan fiksi.

 

 

Seperti judulnya, buku ini menerangkan fenomena kekacauan digital. Bukan kekacauan dalam dunia digital, melainkan kekacauan dalam dunia sebenarnya yang dipicu oleh lahirnya beragam platform digital saat ini. Kekacauan itu terutama adalah dalam urusan bisnis.

Siapa sih pembuat kekacauan digital itu? Seperti apa sosok digital disruptor?

McQuivey mengambil contoh seorang remaja usia belasan tahun yang hobinya membuat game. Memanfaatkan SDK gratisan dari iOS, remaja ini membuat game pertamanya. Kemudian, dengan bantuan dana US $ 99 dari orang tuanya, dia mendaftarkan dan menjual game-nya di AppStore.

Bagi orang bisnis, apa yang mengerikan dari fenomena ini?

Saat ini, dengan mengeksploitasi platform digital yang sangat murah (bahkan gratis), semua orang bisa menciptakan produk dan memasarkannya ke seluruh dunia dengan sangat cepat! Konsep “barriers to entry” dalam kompetisi ekonomi yang selama ini jadi momok bagi pebisnis muda mendadak sirna. Gak laku lagi! Inilah yang disebut digital disruption.

Melalui eksploitasi beragam platform digital yang sudah ada itulah (mereka tidak repot-repot menciptakannya), para digital disruptor membangun bisnisnya dengan sangat mudah, sangat murah dan sangat cepat.

Tapi itu kan dunia game. Dunia digital. Sebagian besar dari kita toh tidak cari makan dari dunia itu. Digital disruption tidak akan banyak pengaruhnya ke periuk nasi kita. Betul?

Salah!

Contoh berikutnya yang diajukan McQuivey adalah produk sepatu.

Coba sebutkan, produk apa yang lebih analog dari sepatu? Sampai kiamat, rasanya tidak akan ada orang yang berjalan-jalan mengenakan sepatu digital. Kenapa? Karena sepatu digital tidak bisa melindungi kaki kita dari paku atau tahi sapi yang ada di jalanan.

Bagaimana digital disruption mengacaukan, atau sebenarnya lebih baik disebut mengubah tatanan, bisnis sepatu?

FaceCake, bekerja sama dengan Microsoft, mengembangkan teknologi augmented reality yang memungkinkan calon pembeli mencoba berbagai sepatu secara digital. Mereka hanya perlu berdiri di depan layar yang sudah dilengkapi dengan kamera 3D-sensor dan teknologi augmented reality ini, lalu memilih sepatu digital dari katalog yang tersedia.

Mencoba beragam warna dan jenis sepatu jadi lebih mudah. Dan yang pasti, pelayan toko akan sangat gembira karena dia tak lagi perlu bolak-balik ke gudang untuk mengambil sepatu yang belum tentu jadi dibeli. Cukuplah kiranya berdiri manis dan memberi komentar-komentar standar seperti: “Cocok, mas. Terlihat bagus,” atau “Wow! Pas banget tuh, mbak.”

Tapi itu fenomena di toko. Bukan digital disruption yang akan terjadi dan benar-benar berdaya ledak tinggi.

Digital disruption yang sebenarnya baru akan terjadi ketika teknologi ini ditanam di Xbox 360 yang memang biasanya dilengkapi dengan televisi layar lebar dan kamera 3D-sensor Kinect. Jika itu terjadi, maka… BOOM!!! 22 juta rumah di seluruh dunia yang saat ini sudah dihuni oleh Xbox 360 mendadak akan berubah jadi toko sepatu.

Pengalaman membeli sepatu, jika impian FaceCake dan Microsoft itu benar-benar terwujud, akan berubah selama-selamanya. Sepatunya tentu saja tetap analog, namun pengalaman mengkonsumsinya benar-benar digital. See?

Lalu bagaimana dengan media cetak, tempat saya (dan mungkin juga kamu) cari makan? Bagaimana nasib koran, majalah dan tabloid? Digital disruption seperti apa yang akan menimpa industri ini?

Secara pasti, kita belum tahu. Pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan mengembalikan semuanya pada konsumen.

Seperti apa pengalaman mereka saat ini dalam mengkonsumsi koran? Lalu, jika kita benar-benar ingin tahu, dengan semua platform digital yang ada saat ini, seperti apa pengalaman mengkonsumsi koran yang sebenarnya mereka inginkan, atau lebih baik lagi, yang seharusnya bisa mereka dapatkan?

Memahami pertanyaan pertama dan kemudian memenuhi tuntutan dalam pertanyaan kedua adalah satu-satunya cara bagi koran, juga industri analog lainnya, untuk selamat dari kekacauan digital.

Jika tidak ada upaya keras untuk melakukan self-disrupting, saya khawatir tiga sampai lima tahun yang akan datang saya akan berdiri di atas puing-puing industri koran dan berkata: “Shit! We didn’t see it coming…”

2 thoughts on “Selamat Datang Kekacauan Digital!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *