Paradoks Komunikasi Digital

Dalam Kompas edisi Jumat, 28 Juni 2013 yang lalu, Rikard Bagun (Pemimpin Redaksi Kompas) menulis: “Perkembangan teknologi yang memicu revolusi di bidang komunikasi telah mendorong, bahkan mendikte, Kompas memasuki dunia digital.”

 

 

Pada hari itu Kompas memang meluncurkan beberapa produk digital yang semuanya diberikan gratis kepada pelanggannya di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Dua edisi ePaper interakif yang terbit pagi dan siang serta satu website berita. Tidak ada biaya tambahan sepeser pun yang perlu dikeluarkan pelanggan Kompas untuk mengakses ketiga produk digital tersebut. Benar-benar gratis!

Namun, kita barangkali bertanya-tanya, kenapa Kompas merasa didorong dan bahkan didikte perkembangan teknologi? Kenapa timbul kesan bahwa Kompas memasuki dunia digital dengan semangat keterpaksaan?

Jika kita cukup teliti mengikuti perkembangan bisnis industri berita digital, pasti dengan mudah kita bisa menduga bahwa, seperti semua perusahaan berita cetak lainnya di seluruh dunia, Kompas memahami bahwa nilai bisnis berita digital masih kecil. Belum sebanding dengan nilai bisnis berita cetak.

Memindahkan bisnis berita dari cetak ke digital adalah upaya dengan resiko sangat tinggi untuk kehilangan banyak penghasilan. Tidak hanya yang berasal dari penjualan konten berita, melainkan terutama dari iklan.

Namun, setidaknya menurut pemahaman saya, ada hal yang tak kalah mendasar dibanding urusan bisnis. Rasa keterdesakan itu tidak mungkin hanya disebabkan oleh belum ditemukannya model bisnis pengganti yang mumpuni.

Kesan keengganan itu muncul karena semua format berita digital saat ini dirasa miskin kedalaman. Terlampau mengandalkan keringkasan dan kecepatan, sehingga cenderung mengabaikan kelengkapan, kedalaman, dan bahkan kebenaran berita.

Format berita digital yang sudah ada saat ini dinilai belum mampu menampung gaya pemberitaan Kompas yang memang butuh ruang lebih. Tidak memadai untuk dijadikan wadah bagi pendekatan pemberitaan Kompas yang diberi tajuk “jurnalisme makna” oleh pendirinya, Jakob Oetama.

Saya rasa itulah sumber utama kesan keterdesakan itu. Ada kekhawatiran bahwa pencapaian jurnalisme Kompas cetak yang sudah sedemikian baik akan terpaksa dikerdilkan, semata agar bisa muat dan cocok masuk ke dalam wadah-wadah digital.

Jika itu yang kemudian terjadi, maka berarti kita memasuki sebuah paradoks. Kemajuan teknologi komunikasi justru mengurangi mutu komunikasi itu sendiri.

Masa ini, tak diragukan lagi, adalah saat-saat yang sangat menantang bagi seluruh perusahaan berita cetak. Sosok pemberitaan seperti apa yang akan terlahir ketika “jurnalisme makna” membentur dinding digital?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *