Geopolitik Konser Metallica

Pertengahan Juni 2013 yang lalu, hubungan diplomatik Indonesia dan Singapura sedikit menegang. Tidak sampai baku hantam memang, tapi cukup serius sampai-sampai Pak SBY merasa perlu meminta maaf pada tetangga kita itu. Urusannya, apalagi jika bukan soal ekspor asap hasil kebakaran hutan di Riau.

 

 

Sebenarnya, kita tidak perlu merasa rendah diri soal asap. Saat Pak SBY meminta maaf, saya kebetulan sedang berkorespondensi dengan seorang pekerja IT berkebangsaan Singapura. Melalui e-mail, dia menjelaskan bahwa kondisinya memang parah. Singapura benar-benar tertutup asap. Saya bilang, sorry. Dia balas, no need to apologize. Dia sadar bahwa yang membakar hutan di Riau kemungkinan besar adalah perusahaan dari negaranya sendiri atau Malaysia, hahaha! See?

Tanggal 8 Juli 2013, ketegangan kembali terjadi. Kali ini bahkan tidak hanya dengan Singapura, melainkan juga dengan Malaysia. Apa pasal? Metallica!

Jam 10 pagi, sebagaimana telah diumumkan jauh-jauh hari sebelumnya, Blackrock Entertainment akan mulai menjual tiket konser Metallica Jakarta. Konsernya sendiri akan digelar pada 25 Agustus 2013, setelah sebelumnya Metallica menjalani jadual tur mereka di Kuala Lumpur, Malaysia (21 Agustus 2013) dan Singapura (24 Agustus 2013).

Seperti dugaan banyak orang, website penjualan tiket itu tentu saja crash. Sulit diakses, jika bukan tidak mungkin. Penjualan tiket pun jadi kacau balau!

Namun, yang lebih seru ternyata adalah reaksi dari penyelenggara konser Metallica di Singapura dan Malaysia. Rumor menyebutkan bahwa mereka kebakaran jenggot dengan tingginya animo penonton di Indonesia, sehingga khawatir penjualan tiket di negara mereka sendiri jeblok.

Sayangnya, sepertinya kita tidak bakal dapat konfirmasi soal kebenaran rumor ini. Namun yang jelas, ketika website penjualan tiket kembali beroperasi sore harinya, tiket yang tersedia hanya kelas festival saja. Kelas lainnya, hilang entah ke mana!

Sejak konser Foo Fighters yang tempo hari dibatalkan, santer beredar kabar bahwa Singapura sebenarnya kerap berlaku tidak adil pada Indonesia. Dalam hal apa?

Untuk memastikan penonton Indonesia datang ke konser di Singapura, kabar burung menyebutkan bahwa promotor di sana sering membayar artis jauh lebih tinggi di atas nilai pasarnya, dengan syarat artis tersebut tidak menggelar konser di negara tetangga, terutama Indonesia. Ini juga, tentu saja, sulit dikonfirmasi kebenarannya.

Tapi, jika mau jujur, akal sehat kita pastilah mengamini bahwa konser di Singapura sudah pasti menyasar orang Indonesia sebagai target market-nya. Pertanyaannya sekarang: jika potensi penonton dalam negeri demikian besar, lalu kenapa promotor lokal dan pemerintah seperti ogah-ogahan mengelola pertunjukan musik kelas dunia?

Jawabannya, sebagaimana tidak pernah diajarkan di sekolah mana pun di negeri ini, adalah: karena sesungguhnya, musuh kita semua bukan Singapura, melainkan pemerintah kita sendiri, hahaha! \m/

4 thoughts on “Geopolitik Konser Metallica”

  1. hemm… Hehehe… mudah2han konser metallica di singapur sepi penonton hahaha…
    Soale kan penonton indonesia ngak perlu kesana lagi buat nonton metallica :p

  2. berarti promotor-promotor singapur emang targetnya malah ngincer penonton dari negara tetangga,
    dan kalo dipikir-pikir berapa banyak orang kita yg kesana cuma buat konser, hipotesisnya sih orang indonesia ini gak miskin-miskin amat sebenernya

  3. disitulah peran media, (baik virtual dlm bentuk digital, televisi, cetakan dan media sosial lainnya), utk mengedepankan informasi yg mencerahkan kebenaran universal. terkadang banyak dibumbui, kepentingan politis.
    nah parahnya di Indonesia musuh sebenarnya adalah fenomena korupsi yg sangat sistemik, dari oknum pejabat sampai tingkat yg terbawah. banyak yg melakukan penyimoangan, tetapi bangga dan saling cuci tangan. di singapura dg letaknya yg strategis dan sarat muatan politis, menargetkan org indonesia sbg market yg realistis berpeluang besar.
    jadi teruslah menulis, utk pencerahan dan mengusir kepenatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *