Twitter Sudah Kalahkan Sumber Informasi Tradisional?

Siapa pun yang aktif menggunakan Twitter pasti mengamini bahwa aliran informasi dalam kanal social media yang satu ini sungguh luar biasa cepatnya. Melalui penelitiannya (download di sini), Miles Osborne bahkan menemukan bahwa dalam beberapa kasus, kecepatan aliran informasi di Twitter mengalahkan berbagai layanan traditional newswires yang ada!

Dalam daftar diatas, dia menunjukkan seberapa sering Twitter mengalahkan traditional newswires dalam hal kecepatan memunculkan berita dan berapa selisih waktunya selama periode Juni-September 2011. Lumayan signifikan, ya?

Miles Osborne adalah seorang Reader di University of Edinburgh’s School of Informatics. Dalam hirarki pendidikan Inggris Raya, posisi Reader setara dengan seorang profesor yang tidak memangku jabatan manajerial di kampus. Keahlian utamanya adalah pengolahan data berskala besar, terutama penggunaan algoritma untuk menganalisis konten social media.

Namun demikian, karena sifatnya yang memang bersumber dari pengetahuan orang awam, maka kategori informasi dalam Twitter terbatas pada hal-hal umum saja. Informasi politik tingkat tinggi, perjanjan dagang lintas negara, dan isu-isu sensitif lainnya sepenuhnya tetap merupakan wilayah kekuasaan traditional newswires.

Kenyataan ini, tergantung cara pandang kita, dapat dianggap sebagai kelemahan atau justru keunggulan Twitter.

Karena tidak butuh prosedur verifikasi dan sekaligus terbebas dari agenda setting redaktur (seperti yang diterapkan oleh berbagai traditional newswires), maka Twitter dapat menjadi wadah bagi informasi ‘terpinggirkan’ yang berkembang di masyarakat. Misal: street crime yang skala kejadiannya dianggap kecil atau sekedar layanan buruk dari sebuah produk, yang keduanya dipastikan tidak akan pernah muncul dalam traditional newswires.

Apa pun perkembangannya, yang dapat dipastikan adalah traditional newswires akan mendompleng kehebatan Twitter, terutama untuk diseminasi informasi mereka.

Sebagai pengguna informasi, kita sewajarnya gembira. Ini artinya, kualitas informasi yang beredar di Twitter akan semakin baik, tanpa kita perlu mengeluarkan biaya tambahan sepeser pun!

5 thoughts on “Twitter Sudah Kalahkan Sumber Informasi Tradisional?”

  1. Benar banget. kalau tolok ukur nya adalah seluruh dunia. akan tetapi kalau disini Kalau pendapat saya sih masih imbang status nya. karena kadang yang jadi trend di sosmed orang awan Informasi Tradisional tidak begitu tau. walau selang beberapa hari akan tau hanya menang cepet aja informasnya. Beda dengan Facebook yang ane rasa jauh lebih unggul.
    Topik yang menarik bero :mrgreen:

    1. Ya. Kita banyak lihat efek amplifikasi. Isu di sosmed kenceng lalu ditangkap media tradisional lalu kembali ke sosmed lagi dlm skala yg jauh lebih besar. Contohnya isu Prita, nyanyi India si Brimob dan lain2

  2. twitter itu bagia saya adalah desas-desus pasar. tidak ada otoritas yang secara dominan pegang kendali, bahkan ketika desas-desus itu muncul dari akun dengan follower bejibun, namun selalu akan diimbangi dengan counter/ anti-testweet (maksudnya antitesis, hehe) dari akun lainnya.

    ruang dialog yang terbuka dari suatu isu akan ramai dibicarakan dan diperbincangkan. ini menurut saya nilainya lebih berharga dari sekadar ” tahu dan gratis”.

    twitter, laboratorium perbincangan.
    meminjam istilah Bambang Rahmantyo, “karena twitter mengubah wajah internet secara keseluruhan dari: alat produktivitas (email, kolaborasi pekerjaan, informasi), menjadi alat ekspresi (blog, facebook, deviantart, vimeo, myspace, instagram), menjadi alat bersosialisasi: twitter, disusul dengan path.

    demikian.

    di twitter kita tidak bicara validitas. kita merayakan perbincangan.
    hehehe.

    salam,
    roy
    alat produktivitas

    1. Pemikiran yang sangat mencerahkan. Betul sekali, twitter dan social media lainnya memang memberi ruang bagi pengguna internet untuk saling berbincang. Dialog antara selebtweet dan pengusung anti-testweet memang asyik untuk dipantau. Satu-dua tweetwar lumayanlah untuk memberi warna pada hari-hari kita 🙂
      Harapannya, dialog-dialog seperti itu akan semakin membuat kita melek dan menumbuhkan kemampuan memfilter mana info yang ok & mana yang perlu dipertanyakan lagi kebenarannya. Kalo itu benar terjadi, maka tulisan saya yang menuding internet bikin kita makin bodoh dapat segera dihapus, hehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *