Mudik Maut

Tanggal 5 Agustus 2013, 3 hari sebelum lebaran, tercatat sudah 72 pemudik tewas dalam perjalanannya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, terbukti bahwa perjalanan dari kota ke kampung lebih mematikan dibanding perjalanan dari Rivendell ke Mordor. Sungguh mengerikan!

 

 

Terlepas dari begitu pentingnya nilai emosional kumpul bareng keluarga di kampung, saya melihat tradisi mudik sebagai suatu kebiasaan yang semakin tidak masuk akal.

Pemerintah, tentu saja, adalah pihak yang sepenuhnya harus kita salahkan. Menjaga keselamatan rakyat adalah tugas utama pemerintah. Jika tidak mampu, untuk apa kita menggaji mereka dengan uang pajak yang tiap tahun naik terus?

Saya ingat betul lirik lagu Iwan Fals yang berbunyi: “Keinginan adalah sumber penderitaan”. Dalam konteks mudik, lirik itu tidak dapat terdengar lebih nyata lagi. Benar-benar menohok!

Keinginan untuk mudik hampir selalu mengalahkan nalar. Mengalahkan pertimbangan keselamatan. Tidak hanya keselamatan diri sendiri, melainkan juga orang-orang yang kita cintai.

Lihat saja foto para pemudik bermotor yang banyak ditayangkan di koran. Banyak sekali yang membawa beban berlebihan di atas motornya. Tak jarang malah juga membawa serta anak bayinya!

Kemiskinan memang mengerikan. Dan itu bukan sepenuhnya salah mereka. Jika punya uang banyak, mereka pasti memilih mudik dengan cara yang lebih aman dan nyaman.

Sambil menghela napas, kita semua cuma bisa berdo’a, semoga mereka selamat dalam perjalanannya. Do’a yang, pada kenyataannya, tidak pernah dikabulkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *