Iwan tak henti memberontak. Barangkali, sampai mati pun dia akan tetap memberontak. Siapa pun yang bilang Iwan sekarang lembek pastilah belum beli album terbarunya yang berjudul “Raya”.

 

Peluncuran Album Raya (foto by Tribunnews.com)

 

OK. Dia memang jualan kopi. Namun, setidaknya dia jual kopi Indonesia. Dia juga tidak pernah munafik dan menampik keterlibatannya dalam soal ini. Dan, jika itu bisa menghidupi semangat bermusiknya, apa masalahnya?

Dalam “Katanya”, Iwan meratapi mimpi-mimpi kosong Indonesia. Seolah melanjutkan tangisannya di pusara Bung Karno di lagu “Negeri Kaya”, dalam lagu ini dia akhirnya memilih untuk tegar dan mengajak kita semua menghentikan kecengengan dan berdiri menghadapi segala tantangan.

“Katanya zamrud khatulistiwa. Nyatanya kilau air mata. Katanya serpihan surga. Nyatanya?”, demikian Iwan melantunkan sindiran dan sekaligus menampar kita semua.

Delapan belas lagu dalam album ini bercerita tentang banyak hal. Tentang anaknya, Raya. Tentang kecanduan kita semua pada internet. Tentang sampah. Tentang karate dan filosofi luhur yang terkandung di dalamnya. Tentang laut, petani, demonstrasi, kisah cinta orang kecil, dan tentu saja tentang penguasa yang brengsek.

“Rekening Gendut” dan “Bangsat”, terlepas dari aransemen musiknya yang tidak terlalu menggelegar, sesungguhnya sangat keras dan tajam mengkritik para penguasa bangsa. Iwan, sekali lagi, sama sekali jauh dari kesan lembek.

Album ini, sejauh yang saya tahu, tidak bisa didapatkan di toko musik biasa. Kita hanya bisa memperolehnya dengan melakukan pemesanan melalui e-mail ke tokokita@tigarambu.co.id atau melaui SMS ke 081398055110, 081210881953, dan 081210881941.

Bagi saya, dan rasanya juga kamu semua yang menggemari karya-karya Iwan, album “Raya” sangat layak dibeli, dinikmati, dan dikoleksi.