Habibi: Menemukan Tuhan Melalui Penderitaan

Sepanjang hidup saya, itu artinya ratusan komik dan buku, tidak pernah ada komik yang membuat saya menggeletar dalam birahi, amarah, rasa iba, dan kontemplasi secara bersamaan. “Habibi”, graphic novel hitam putih setebal 672 halaman karangan Craig Thompson adalah yang pertama.

 

Habibi (2011)
Habibi (2011)

Series: Habibi
Hardcover: 672 pages
Publisher: Pantheon; First Edition edition (September 20, 2011)
Language: English
ISBN-10: 0375424148
ISBN-13: 978-0375424144
Product Dimensions: 1.9 x 7 x 9 inches

 

Graphic novel ini berkisah tentang Dodola dan Zam, dua manusia beda jenis kelamin yang terlahir sebagai budak. Perjalanan hidup keduanya sungguh mengenaskan. Penuh kengerian.

Dodola, perempuan yang cantik dan pintar, seumur hidupnya jadi bulan-bulanan birahi semua lelaki yang melintas dalam hidupnya. Dan Craig Thompson, dalam goresan hitam putihnya, menggambarkan itu semua dengan sangat brutal. Beberapa kali saya terpaksa menutup buku dan berhenti membaca karena mual, tak mampu mencerna kenistaan penderitaan hidup yang tergambar di panel-panel itu ke dalam hati.

Zam, tak lebih baik. Terlahir berkulit hitam, lelaki ini menjalani hidupnya di jurang kematian. Siksaan hidup seolah tiada henti menghantam. Dan, barangkali yang membuat segalanya jadi lebih buruk, dia melewati itu semua dengan pergulatan batin yang luar biasa mengharukan.

“Habibi”, dalam genre apa pun komik ini diletakkan, selayaknya ditaruh di rak yang paling tinggi. Bukan hanya sekedar menghindarkannya dari jangkauan anak-anak, melainkan juga karena keindahan pesan yang dikandungnya.

Konklusi kisah pilu ini, jika memang boleh disebut demikian, sungguh indah. Betapa semua penderitaan dan kenistaan yang disandang Dodola dan Zam akhirnya bisa bermuara pada perasaan ikhlas. Sesuatu yang rasanya mustahil dicapai dan kita pahami, jika kita berhenti membaca sebelum tuntas.

Adalah bagian penutup itu yang begitu menohok perasaan, juga kesadaran saya.

Bahwa menemukan Tuhan, bahwa menjadi religius, bahwa menjadi manusia yang sepenuhnya baik, seharusnya bukan karena kita takut akan siksaaan Tuhan atau karena mengharapkan imbalan surganya, melainkan karena kita mencintai-Nya.

Ya, cinta. Sebuah kata sederhana yang bagi kita mungkin sudah tidak punya makna lagi, karena dalam hidup modern ini kita tidak pernah sungguh-sungguh mencari dan merasakannya.

One thought on “Habibi: Menemukan Tuhan Melalui Penderitaan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *