Kenapa Penerbit Koran (Mungkin) Butuh E-Paper

Hampir semua orang sepakat bahwa saat ini, di Indonesia, koran cetak belum dapat diganti dengan bentuk digital. Setidaknya, bagi para pengiklan yang sangat gemar memajang gambar-gambar berukuran besar dari produk maupun jasa mereka. Meskipun, dari sisi pembaca, lain lagi urusannya.

 

Loper Koran

 

Pembaca yang kolot dan tidak terlalu melek digital, tentu saja, lebih senang membaca koran dalam format cetak. Sebaliknya, pembaca yang sudah melek digital, baik usianya memang masih muda maupun sudah tua, boleh dibilang cukup menyukai format koran digital yang umum disebut sebagai E-Paper.

Dunia menjadi semakin digital dan orang muda yang butuh informasi berkualitas semakin banyak. Orang tua yang setia membaca koran, sudah sewajarnya, akan semakin sedikit. Maka lahirlah pemahaman awam ini: koran, sesuai perkembangan jaman, akan berganti dari cetak menjadi digital. E-Paper, pada akhirnya, akan muncul sebagai platform pengganti yang sangat masuk akal.

Meskipun, seperti mesin tik elektronik yang tewas digilas komputer, atau pager yang hancur dikubur ponsel, E-Paper bisa saja merupakan teknologi tanggung yang keberadaannya mungkin tidak bertahan lama. Siapa tahu?

Kebetulan saya berada di posisi unik yang memungkinkan saya memahami distribusi koran cetak sebaik saya memahami distribusi E-Paper. Dan, barangkali di luar pemahaman umum, bukan hanya pembacanya saja yang butuh E-Paper, melainkan justru penerbit koran itu sendiri.

Bagaimana bisa?

Secanggih apa pun newsroom dan proses produksi koran cetak, distribusinya tetap dipertaruhkan pada sebuah unit pengantar yang sangat sederhana: loper koran. Jika kita masih cari makan di koran cetak, maka sebaiknya kita meletakkan loper koran dalam posisi yang tinggi di benak kita masing-masing.

Masalahnya, daya jangkau loper koran, belakangan ini, membentur dinding jaman.

Maraknya pembangunan apartemen di kota besar dan kawasan pendukungnya melahirkan puluhan ribu unit tempat tinggal baru. Sebagian besar orang yang punya duit, tanpa ragu, membeli dan kemudian tinggal dalam unit-unit tersebut. Dan sialnya, unit-unit ini tidak membolehkan loper koran, bahkan yang jelas-jelas punya pelanggan di dalamnya, masuk dan mengirim koran ke depan pintu pelanggan!

Maka berhentilah distribusi koran di loker-loker apartemen, jauh di bawah tempat tinggal para pelanggannya. Apakah kemudian mereka masih dengan penuh semangat, setiap pagi, turun ke loker untuk mengambil koran langganannya? Saya berani bertaruh, sebagian besar jawabannya (jika bukan semua), adalah: MALES BANGET, MASBROOO!!!

Tindakan yang paling masuk akal adalah: penghuni apartemen mengambil koran langganannya di loker saat pergi ke kantor, atau, jika dia adalah entrepreneur yang tidak kantoran, saat mau pergi ke luar apartemen. Itulah alasan utama kenapa loker biasanya diletakkan di lobi atau di parkiran mobil.

Jika koran sudah masuk loker jam 5:30 setiap paginya, namun pada kenyataannya baru diambil (dan mungkin dibaca) penghuni apartemen dalam perjalanan mereka ke kantor pada jam 6:30, maka terjadilah keterlambatan berita sistemis, satu jam setiap harinya.

Ah, satu jam kan sebentar?

Ya, satu jam mungkin tidak berarti, jika kita bekerja di perusahaan pengirim roti sobek, bukan di industri berita papan atas Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *