Lightning Bolt (2013): Bicara Tentang Hari Ini, Bukan Kemarin

Sebagian band hebat menulis lagu yang menjadi bahan bakar bagi energi masa muda kita. Menjadi penyemangat saat kita gigih menempuh tikungan-tikungan tajam kehidupan remaja yang sarat letupan emosi.

 

Lightning Bolt (2013)

 

Sebagian kecil lainnya, band-band yang maha dahsyat, menulis lagu yang menjadi bahan bakar jiwa kita, seumur hidup. Secuil musisi terberkati ini, dengan karya-karyanya, seolah menjadi soundtrack kehidupan kita. Sejak remaja, dewasa, hingga tua renta. Bagi saya, hanya ada satu yang seperti itu. Pearl Jam.

“Lightning Bolt”, album studio terbaru yang sekaligus adalah album ke-10 mereka, diluncurkan serentak di seluruh dunia 15 Oktober 2013 yg lalu. Dan, seperti karya seni tingkat tinggi lainnya, kelahirannya sontak memicu perdebatan, bahkan di kalangan penggemarnya yang paling fanatik sekalipun.

“Mind Your Manners” yang dirilis sebagai single pertama, lengkap dengan 2 versi klip video, boleh dibilang ditelan fans tanpa banyak protes. Bernuansa punk, cepat, keras, dan menggugat. Sangat Pearl Jam sekali.

Namun single berikutnya, juga dengan klip video, menimbulkan dampak seperti agama. Sebagian menerima penuh haru, sebagian lagi tidak, bahkan jijik mendengarnya.

“Sirens”, balada luar biasa tentang rasa syukur akan karunia kehidupan yang ditulis Mike McCready dan disempurnakan oleh Eddie Vedder, laksana tongkat Musa yang membelah Laut Merah. Membagi fans paling fanatik mereka menjadi dua kubu yang, di forum 10Club yang memang menjunjung tinggi perbedaan pendapat, saling serang dengan gaya bahasanya masing-masing.

Jika “No Code” butuh satu album penuh untuk membelah fans, maka “Sirens” hanya butuh 6 menit saja.

Saya, dengan bangga, berdiri di kubu yang cinta setengah mati pada “Sirens”. Bagi yang merasa jijik, suck it, baby! I don’t give a fuck!

“Getaway”, “Pendulum,” “Lightning Bolt”, dan “Future Days” adalah nomor-nomor yang sangat saya nikmati dalam album ini. Dalam lagu-lagu itu, tidak ada omong kosong soal pemberontakan kaum muda. Tidak juga kebohongan menyedihkan dari rocker tua yang mencoba bertahan dengan citra ganasnya.

Album ini, di kuping dan jiwa saya, seperti juga karya-karya Pearl Jam sebelumnya, adalah suguhan musik yang sepenuhnya jujur. Jujur kepada diri mereka sendiri, dan terutama kepada kita semua, penggemarnya.

Suka atau tidak, itu urusan kita masing-masing. Terpenuhi atau tidak harapan kita, sama saja, itu kembali ke diri kita masing-masing.

Jika kita mendengarkan musik untuk bernostalgia pada keliaran masa remaja, maka bukan “Lightning Bolt” yang perlu diputar, melainkan “Ten”, “Vs.”, dan barangkali “Vitalogy”.

Namun, jika yang kita ingin dapatkan dari musik adalah inspirasi untuk kehidupan kita, saat ini dan bukan tentang hari kemarin, memutar “Lightning Bolt” rasanya tidak cukup hanya sekali. Puluhan, bahkan ratusan kali, album ini akan terus terdengar enak di telinga.

2 thoughts on “Lightning Bolt (2013): Bicara Tentang Hari Ini, Bukan Kemarin”

    1. Album ini, bagi penikmat lirik seperti saya, seperti menggali tumpukan harta karun. Sekali nyangkul ketemu piring, cangkulan berikutnya gelas, entah mesti berapa puluh kali mencangkul hingga akhirnya bisa menemukan semua makan di dalam lagu2nya, hahaha… Eddie Vedder memang sakit jiwa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *