Apakah Kita (Benar-benar) Menyimak Iklan?

Konsep dasar iklan adalah mengganggu. Merebut perhatian orang. Bagaimana pun caranya, tujuan akhir dari semua bentuk iklan di dunia ini hanya satu: menanamkan pesan ke dalam benak sasaran audiensnya.

 

Homer Mabok TV

 

Tarif iklan sendiri, sebagaimana semua orang menyetujuinya, ditentukan berdasarkan jumlah audiens dari media tempat iklan tersebut ditayangkan. Makin banyak audiensnya, makin mahal. Terlebih jika audiens yang banyak itu memang merupakan orang-orang yang kemungkinan besar akan membeli produk/jasa yang diiklankan. Bahasa susahnya, potential audience.

Tapi, dalam kehidupan kota modern yang super sibuk seperti di Jakarta ini, apa benar iklan bisa mencapai sasarannya dan semua ongkos promosi yang besar itu dapat dikembalikan, bahkan menghasilkan untung?

Karena tidak ada satu pun media yang mau sukarela mengungkapkan data mengenai hal ini (ya iya lah, menurut ngana?), maka saya iseng-iseng mengamati kebiasaan saya sendiri. Saya mencatat aktivitas saya selama sehari penuh dan kemudian melihat, media apa saja yang saya konsumsi selama itu? Berikut ini hasilnya.

JUMAT, 18 OKTOBER 2013

04:50 Bangun pagi, cuci muka, berpakaian

05:20 Bersama istri yang sedang hamil besar, naik taksi menuju kantor. Selama di perjalanan, saya membuka Twitter dan Facebook menggunakan smartphone. Omong-omong, saya tinggal di Bintaro

06:02 Sampai di kantor di bilangan Palmerah, ke toilet, nyalakan akses Wi-Fi kantor dan kembali buka Twitter dan Facebook menggunakan smartphone, sambil… (kalian tahu, kan?)

06:23 Masih terlalu pagi untuk duduk di kantor dan menjadi cepat tua sebelum waktunya. Maka saya ke kantin, sarapan sembari buka laptop, tiba-tiba mendapat wangsit untuk menulis tentang artikel ini. Tentu saja yang mengaktifkan tethering dan menjadikan smartphone saya sebagai modem bagi laptop ini. Apa yang saya buka? Twitter, Facebook, dan G-mail

06:53 Kantin sudah mulai ramai dan saya mulai bosan. Maka saya menulis artikel lain. Suatu omong kosong tentang E-Paper

08:10 Sudah duduk manis di kantor, buka koran. Itu lebih karena korannya sudah tersedia di meja sih. Lagi pula, gambar depannya cukup menarik: Pak Kumis akhirnya dicokok KPK

12:14 Akhirnya rapat selesai. Saatnya makan siang dan kembali ke… Social media!

12:50 Iseng-iseng buka E-Paper menggunakan laptop. Sebenarnya bukan karena benar-benar butuh berita, melainkan karena saya memang punya akses dan kebetulan mau lihat komik bersambung (jarang ya, komik Indonesia ada di koran. Sayang sekali). TV di ruang kantor menayangkan berita siang. Sekilas saya melihat berita tentang, tunggu, apa ya? Lupa!

16:08 Selesai rapat, buka E-Paper edisi siang. Juga menggunakan laptop. Ini cukup rutin saya buka, karena memang isinya berbeda dari koran/E-Paper pagi. Lumayan lah, baca analisis-analisis ringan. Gak usah terlalu serius, sudah sore, hehehe…

20:01 Naik taksi bersama istri, menembus sisa-sisa kemacetan Jakarta, pulang ke rumah. Sepanjang jalan, lagi-lagi,menggunakan smartphone saya membuka Twitter, Facebook, dan jika ada e-mail masuk, G-mail

21:40 Selesai bersih-bersih diri, malas-malasan di kasur sambil mendengarkan komposisi musik klasik (sebenarnya saya tidak terlalu suka, tapi berhubung katanya musik klasik bagus untuk perkembangan otak bayi, ya saya putarkan saja)

22:05 Baca buku jadul yang baru saja saya beli. Agak bingung. Neil Gaiman nulis buku “American Gods” dengan cara yang sangat absurd. Indah dan sangat menarik, tapi sedikit membingunkan

22:55 Ngantuk. Saatnya tidur. Zzz

Omong-omong, sebagian catatan ini saya simpan di Evernote. Baru setelah sempat buka laptop saya satukan dengan catatan sebelumnya.

Lalu, pertanyaannya: dengan begitu sedikitnya waktu yang saya gunakan untuk bersentuhan dengan media massa, mau ditaruh di mana semua iklan itu agar pesan komersilnya bisa sampai ke saya, atau orang lain pada umumnya? Karena, saya sepenuhnya percaya, bukan saya saja yang menjalani pola hidup seperti ini.

6 thoughts on “Apakah Kita (Benar-benar) Menyimak Iklan?”

  1. ya tergantung audiensnya..
    kalau yang disasar orang seperti dirimu maka tempat paling pas ya ditaruh di social media atau di e-paper yang sering kamu tongkrongi.
    tambahan, iklan juga dipasang di jalanan yang terduga sering jadi pusat kemacetan sehingga pas lagi macet perhatian orang bisa direbut dengan menatap jajaran iklan di pinggir jalan.

    kalau yang disasar ibu2 tumah tangga yang tidak punya pekerjaan lain selain mengurus rumah maka tentu saja iklannya dipasang dipasang di acara2 TV yang menemani mereka saat masak, saat menyetrika pakaian atau saat santai menunggu kantuk tiba

    bukan begitu pak?

    1. Teorinya begitu. Jika itu dipraktekkan, bukan saja pengiklan bisa lebih hemat biaya, kita juga sebagai audiens gak perlu dibanjiri informasi2 komersil yg belum/tidak kita butuhkan 🙂

      Sebenarnya saya bukan mau membahas pengiklannya, melainkan nilai sebuah media massa sebagai media beriklan, relatif terhadap aktivitas keseharian audiensnya sendiri. Apakah memang masih seperti dulu, atau sekarang sudah berubah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *