Jualan Musik Tidak Perlu Sampai Telanjang

Bagi segenap musisi rock dan fans-nya di seluruh dunia, barangkali tidak ada kemenangan yang lebih manis dibanding hari ini. “Lightning Bolt”, album teranyar milik Pearl Jam, resmi menendang Miley Cyrus dari singgasana “billboard 200”.

 

Please God, help me!

 

Dengan total penjualan selama seminggu pertama di kisaran angka 180.000 kopi, “Lightning Bolt” mencatatkan Pearl Jam sebagai band yang punya 5 album studio yang berhasil nangkring di peringkat ke-1 “billboard 200”.

Kenapa prestasi penjualan album ini saya sebut manis? Karena, dan saya yakin bukan hanya saya sendiri yang memilik perasaan seperti ini, sudah sekian lama industri musik dikerdilkan oleh penggiatnya sendiri, dengan cara mengemas musik dalam bungkus suguhan visual payudara, perut yang terbuka, dan bahkan vagina. Sungguh memuakkan!

Pearl Jam yang tua dan tidak pernah blak-blakan (jika tidak mau disebut “menulis secara bodoh dan norak”) menciptakan lagu tentang nikmatnya berhubungan seks, menendang Miley Cyrus yang muda dan sensual, yang belakangan menggemparkan dunia dengan pose-pose nggilani-nya di Rolling Stone.

Meski tahu betul bahwa rasanya ini sedikit tidak sopan, dengan gembira saya menulis: “Miley Cyrus disamber geledek (Lightning Bolt)!”, nyahahaha!

Sinead O’Connor, dalam surat terbukanya yang sangat keras, menasihati Miley Cyrus dengan amat bijak. “Jangan menyia-nyiakan bakatmu dan membiarkan dirimu di-germo-i oleh industri musik, atau (malah) dirimu sendiri,”  demikian penggalan isi suratnya.

Sederhananya, dalam konteks ingin menyadarkan seorang teman seprofesi, Sinead O’Connor  mau bilang bahwa sewajarnya seorang musisi menjual karya musiknnya saja, bukan tubuhnya. Dan di industri koran, tempat saya sehari-hari cari makan, saran itu dirangkum dengan sangat brilian dalam ujar-ujar ini: “Content is The King”.

Sebagian besar orang, dan saya berani bertaruh bahwa mereka tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, berkata sebaliknya. Bahwa format dan kemasanlah yang paling penting.

Kemenangan manis album “Lightning Bolt” di ranah penjualan musik minggu ini, tidak dapat dipungkiri, adalah bukti nyata bahwa masih sangat banyak orang di dunia ini yang meyakini, dan mau membeli, konten yang bagus. Bukan membeli format atau bungkus yang mempesona saja.

Kamu boleh saja tidak suka musik Pearl Jam, tapi saya berani bertaruh, kamu suka cara mereka berbisnis musik. Bagi mereka, music is the king! Everything else in music business is pure horseshit. Period.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *