Review Film: Ender’s Game (2013)

Tahun ini rasanya tidak ada film yang lebih mengerikan dibanding “Ender’s Game (2013)”. Kisah tentang sebuah pangkalan militer yang melatih anak-anak paling cerdas di bumi untuk dijadikan komandan perang antar planet, bagi saya, sungguh menyeramkan!

 

Ender's Game (2013)

 

Bagaimana tidak? Anak-anak paling pintar, yang sesungguhnya dengan mudah dapat meraih apa pun cita-cita mereka, justru diambil paksa dari keluarganya oleh organisasi militer bumi dan kemudian dilatih menjadi pembunuh.

Dan mereka, anak-anak ini, bukan sekedar menjadi pembunuh, melainkan menjadi pemusnah. Mereka dilatih tidak untuk membunuh satu dua musuh, melainkan satu planet!

Tentu saja dalam film ini musuhnya bukan manusia, melainkan alien yang wujudnya seperti semut. Tapi, bagi saya, ide tentang melatih anak-anak menjadi pemusnah spesies sudah terlanjur menancap di kepala.

Ide film ini berasal dari sebuah cerpen berjudul sama yang diterbitkan pada tahun 1977. Cerpen ini kemudian diangkat menjadi novel pada tahun 1985 dan berlanjut menjadi serial. Tidak tanggung-tanggung, novel ini menerima Hugo Award yang memang dikhususkan bagi karya-karya fiksi ilmiah, pada tahun 1986.

Efek visual dalam film ini sesungguhnya sangat mumpuni. Dana produksi sebesar USD 110 juta rasanya tidak sia-sia, meskipun setelah seminggu ditayangkan film ini baru meraup USD 53 juta di seluruh dunia.

“Ender’s Game (2013)” barangkali akan semakin enak dinikmati dalam format 3D. Dengan satu syarat: kamu tidak keberatan melihat anak-anak diubah menjadi pemusnah planet yang sangat efisien. Dingin, penuh perhitungan, dan dijamin sukses!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *