Review Film: The Hobbit 2 – The Desolation of Smaug (2013)

image

Seperti film pertamanya, “The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)” masih kekurangan hal mendasar ini: cewek cantik! Ya, dalam film seru berdurasi 161 menit ini hanya ada satu cewek cantik. Itu pun bukan manusia, melainkan peri yang kelewatan jago berkelahi.

Namun demikian, bagi yang mencintai suguhan bentangan alam nan indah, film ini boleh dibilang cukup memuaskan. Mulai dari gunung salju, tebing karang dan ngarai dalam, goa bawah tanah, hingga hutan yang eksotis, semua ada. Wisata visual yang sungguh memanjakan mata.

Dengan ongkos produksi sebesar USD 225 juta, sudah selayaknya “The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)” mampu menampilkan itu semua dengan sempurna.

Sosok monster dan karakter-karakter lainnya juga hidup. Meski hanya Bilbo, Gandalf, dan Thorin yang cukup berkembang signifikan penokohannya, tokoh lainnya tidak bisa dibilang buruk. Sedikit datar, barangkali. Namun jelas tidak mengecewakan. Hadirnya beberapa tokoh penting yang mengaitkan film ini dengan lanjutan kisahnya dalam trilogi The Lord of The Rings menambah kekayaan cerita dan nuansa.

Yang mengejutkan, setidaknya bagi saya, adalah warna gambar dalam film ini. Sedikit terlalu terang hingga nyaris seperti menonton sinetron! Saya kurang paham, film ini memang direkam atau diedit dengan teknologi baru sehingga gambarnya jadi demikian terang atau ini sebuah kesalahan teknis belaka?

Satu hal lagi, dibanding film sebelumnya, dan bahkan trilogi The Lord of The Rings sekalipun, “The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)” terkesan sedikit lebih gore. Lebih gelap dan sadis. Terutama saat Sauron dan pasukan Orc yang dipimpin oleh Azog The Defiler muncul di layar.

Secara keseluruhan, menonton film ini, terutama bagi fans The Lord of The Rings seperti saya, terasa sangat menghibur. Kecuali adegan pertempuran puncak antara rombongan kurcaci pimpinan Thorin dan Smaug di Erebor yang ironisnya, bertele-tele dan hambar, adegan-adegan laga dalam film ini menyenangkan sekali untuk ditonton.

Jika boleh menyarankan, tontonlah dalam format 3D IMAX, biar puas!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *