Review Film: “The Raid 2: Berandal”

The Raid 2: Berandal

Dibanding pendahulunya, “The Raid 2: Berandal (2014)” yang berdurasi 150 menit boleh dibilang jauh lebih matang. Film ini tidak lagi melulu menyuguhkan laga yang apik dan tumpahan darah, melainkan juga drama dan karakter-karakter menarik.

Ada Rama yang luar biasa jagoan namun lugu, Prakoso yang kemana-mana bawa parang panjang, Uco yang ambisius, Bejo yang sangat licik, Eka yang setia, Hammer Girl yang cantik namun ahli membunuh menggunakan palu, Baseball Bat Man yang bersenjatakan pemukul bola bisbol, dan The Assassin yang sangat mahir memainkan kerambit kembar (semacam belati melengkung, senjata khas Indonesia).

Porsi drama dalam “The Raid 2: Berandal (2014)” bisa kita pastikan sangat banyak mengambil pengaruh dari film-film klasik mafia-polisi-kekuasaan semacam “The Godfather”, “The Departed”, dan “Donnie Brasco” yang mengandalkan karakter-karakter bajingan flamboyan, lengkap dengan kebiasaan ceramahnya.

Meski sukses meraup nyaris 1,2 juta penonton dalam negeri selama 3 pekan penayangannya dan mendapat pujian di berbagai festival film internasional, sebagian orang akan tetap saja menyebutnya B-Movie. Biarlah. Pastilah mereka punya standarnya sendiri dalam menilai film, meski menurut saya yang namanya karya seni selamanya bersifat subyektif. Bagus atau buruk, keren atau payah, selalu kembali pada selera pribadi penikmatnya.

Nuansa laga ala Jackie Chan dengan tingkat kebrutalan layaknya produk-produk Quentin Tarantino disajikan dengan sangat apik. Jika kemudian “The Raid 2: Berandal (2014)” jadi standar baru untuk film laga internasional, saya tidak akan heran. Memang sangat pantas!

Saking apiknya, saya tidak bisa memilih hanya satu adegan laga terfavorit di film ini. Pengeroyokan terhadap Prakoso di sebuah klub malam, kerusuhan yang melibatkan Rama dan Uco di dalam penjara, pertarungan Rama melawan Hammer Girl dan Baseball Bat Man di lorong, adegan kejar-kejaran mobil di jalanan Jakarta yang sibuk sekaligus perkelahian di dalamnya, dan pertarungan mematikan antara Rama dan The Assassin di dapur restoran adalah beberapa yang menurut saya sangat memukau. Ongkos produksi sebesar USD 4,5 juta sungguh tidak sia-sia.

Tempo hari, sebelum saya sempat menonton film ini, kebetulan saya menangkap kritik dari Miing di sebuah stasiun radio. Katanya, “The Raid 2: Berandal (2014)” sangat tidak mencerminkan budaya Indonesia.

Saya nyaris mati tersedak karena pernyataan tersebut. Duh, Gusti! Ini kan film aksi, bukan dokumenter. Please, deh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *