Review Album Musik: “Cupumanik Menggugat (2014)”

Cupumanik Menggugat (2014)

Seringkali, kegagalan adalah hadiah terbaik yang bisa kita dapatkan. Cupumanik, setelah gagal terbang bersama label besar, terpuruk dalam scene grunge lokal yang lebih banyak intrik dibanding karyanya, akhirnya belajar untuk menemukan dirinya kembali. Menemukan senyawa jiwanya. Musik.

Dan dalam “Menggugat (2014)”, album teranyar yang baru saja diluncurkan, mereka seperti terlahir kembali. Tidak mengawang-awang seperti album perdananya. Tidak memaksakan diri terdengar orisinil. Tidak terlalu peduli dengan aturan keindahan susunan kata atau urutan chord yang megah.

“Grunge Harga Mati”, “Aksara Alam”, dan “Luka Bernegara” adalah materi yang bisa dibilang sudah lama beredar. Rasanya tidak perlu lagi ditulis di sini. Kita sudah terlalu sibuk dan lelah untuk membahas hal yang itu-itu lagi.

“Garuda Berdarah”, ini baru layak dikupas. Dengan nuansa sound yang berat dan tebal, Cupumanik menjeritkan protesnya pada keadaan. Pada situasi yang demikian membuat putus asa. Kondisi tak tertahankan ketika para bangsat, mafia, preman, penjahat, dan birokrat berak di atas penderitaan kita semua. Rakyat jelata.

Lagu itu, jika boleh disebut demikian, adalah protes brutal yang menabrak semua aturan menulis lirik atau menyusun lagu indah. Benar-benar terdengar seperti muntahan mentah. Keren parah!

“Broken Home”. Akan sangat sulit mendengarkan lagu ini tanpa menitikkan air mata. Atau, setidaknya, terenyuh dan terlempar dalam kebisuan yang murung. Perceraian, meski ditulis dalam lagu yang sedemikian indah, tetaplah luka yang menganga. Bagi pasangan yang bercerai atau anak-anak mereka.

Tidak perlu rendah diri hanya karena kita keturunan orang kere. Orang hebat bukan karena darah, melainkan keringat. Berkaryalah, maka kamu akan hidup gemilang.

Seandainya kalimat tersebut ditulis di selembar undangan seminar motivasi, pasti langsung saya jadikan tisu WC. Namun semangat optimisme yang demikian mendasar dan kasar ternyata bisa menjadi satu dengan susunan nada-nada kesar minimalis dan melahirkan lagu keren berjudul “Omong Kosong Darah Biru”.

Mengingat bursa calon presiden sarat diisi orang-orang brengsek yang sesungguhnya hanyalah bandit berpakaian bagus dengan senyum tersungging, “PBB (Perserikatan Bangsat-Bangsat)” rasanya pas untuk dimuntahkan di depan mereka, saat orasi di lapangan bola atau televisi.

Dan akhirnya, gugatan relijius, yang dulu sepertinya menjadi tema utama album perdana mereka, muncul kembali. Kali ini dalam bentuk sebuah lagu merdu nyaris psikadelik bertajuk “Syair Manunggal”. Bagi saya, paduan lirik kontemplatif dan vokal Che yang terseret berat menghadirkan suasana yang syahdu. Nyaris terdengar seperti lagu “Ibu”, namun dalam dimensi emosi yang lebih transendental. Keindahan bunyi yang abstrak.

“Menggugat (2014)” tak pelak adalah album yang sangat memuaskan. Album ini seolah berkata: “Inilah aku. Aku bukan kamu, bukan dia, bukan kalian, juga bukan mereka. Suka atau tidak suka, inilah aku. Aku yang terus berkarya…”

3 thoughts on “Review Album Musik: “Cupumanik Menggugat (2014)””

  1. Aku belum pernah dengar lagu-lagu dari cupumanik, karena memang belum pernah baca reviewnya. Bisa dibeli dimana ya cd ini? Info ya.. Thanks.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *