Getzcoustic

Poster Getzcoustic (desain oleh Roel)
Poster Getzcoustic (desain oleh Roel)

Selain insiden penjambretan smartphone milik Ega dan tiadanya bid terhadap lelang poster ciamik konser Pearl Jam di Berlin karya Ames/Klausen, “Getzcoustic” yang digelar di Getz Café, Jl. Jatipadang Raya No.4 semalam (16/11) berlangsung asyik. Hangat, cair, dan sangat menyenangkan.

The Mind Charger, NXCS, Artificial Sun, Andmore, dan jam session jadi suguhan musik sehat bagi jiwa. Apalagi di jam session saya sempat menyumbangkan suara – dan ini benar-benar sumbang – di nomor “Off He Goes”.

Bagi saya sendiri, jelas, sesi paling berkesan adalah ketika saya diberi kesempatan menceritakan seluk-beluk pembuatan #BukuGrungeLokal. Mulai dari ide, proses, tim, hingga penggalangan dana publik untuk pencetakan gelombang ke-2 di sini: http://wujudkan.com/project/Buku-Grunge-Lokal/view

Hasley, tidak seperti biasanya, kali ini bukan menyanyi melainkan bertanya ke saya. Dia tanya, bagaimana pendapat dan sikap saya soal kritikus?

Sejujurnya saya menjawab, saya sama sekali tidak suka kritikus. Menurut saya, itu profesi omong kosong! Jika saya tidak suka pada sebuah karya musik lokal, entah itu berbentuk CD atau konser, maka saya memilih untuk tidak menuliskannya. Itulah bentuk dukungan saya pada musik lokal, khususnya yang bernuansa grunge. Kritik, menurut hemat saya, sebaiknya disampaikan ke diri sendiri saja supaya kita bisa menjadi orang yang lebih baik, bukan ditujukan pada orang lain, terlebih pada seniman yang sudah sepenuh jiwa menghasilkan karya.

Mengutip Hegarty dalam bukunya yang berjudul “Hegarty on Creativity: There are No Rules”, syarat utama untuk berkarya adalah menjauhkan diri dari sifat sinis. Ya! Sinisme tidak akan menghasilkan apa-apa! Meski terkesan cerdas, orang-orang sinis adalah musuh utama bagi kita, orang-orang yang berusaha kreatif dan memberanikan diri berkreasi.

Pengalaman saya menyusun dan jumpalitan mengkampanyekan #BukuGrungeLokal selama 3 bulan terakhir menunjukkan betapa akuratnya Hegarty. Sinisme datang dari berbagai sudut dan dalam beragam bentuk. Saya, seperti biasa, tetap melangkah sambil berkata, “Fuck it!”

Bagi sebagian besar orang, saya arogan. Bagi yang mengerti dan mengapresiasi, apa yang saya tulis dan wujudkan dalam #BukuGrungeLokal adalah kebenaran. Adalah kenyataan. Adalah perasaan dari banyak orang yang juga ada di sana. Dalam hingar bingar yang mencerahkan. Dalam keindahan bunyi yang selamanya tidak akan pernah dipahami oleh orang-orang yang tidak jujur pada dirinya sendiri.

The Mind Charger, dengan Andra yang sekarang bergelar haji, membawakan aransemen akustik yang rapi seperti biasanya. Nomor-nomor dari The Foo Fighters, Three Doors Down, dan Pearl Jam mereka suguhkan dengan ciamik. Jika ada kekurangan maka itu adalah waktu yang rasanya terlampau pendek. Hanya setengah jam!

NXCS kembali tampil dengan formasi baru, yang sudah mereka sajikan di gig di BepBop tempo hari. Andi dan Nito berduet membawakan harmoni vokal a la Cantrell/Staley. Not bad! Beberapa kali latihan lagi maka mereka akan siap menghantam di konser khusus yang kabarnya bakal digelar bulan Januari nanti.

Dan sesi ini, bagi saya, adalah yang paling asyik! Kenapa? Ya karena NXCS, dalam rangka memberi ucapan selamat ulang tahun ke saya, membawakan “Scalpel”. Yeah! Fucking awesome!

Artificial Sun adalah menu berikutnya. Setlist awal mereka, saya sama sekali tidak ingat. Namun rendisi “Eldery Woman” yang disambut koor meriah audiens jelas membuat merinding. Dalam momen yang singkat itu, saya kembali teringat kenapa hingga sekarang saya gemar sekali nongkrong di PJID. Ya karena ini, nyanyi-nyanyi gila tengah malam sepenuh hati. Meneriakkan lirik dari lagu-lagu yang saya kenal baik seperti telapak tangan saya sendiri.

Lanjut dengan “Nothingman”, Artificial Sun kemudian menutup penampilan mereka dengan… “Black!”. Tidak usah ditanya, suara curut-curut-curut membahana tak kurang dari dua menit lamanya, sebelum akhirnya lagu itu benar-benar dituntaskan.

Andmore tampil sebagai menu pamungkas. Seperti biasa, mereka menyuguhkan aransemen akustik minimalis dari lagu-lagu Pearl Jam dalam nuansa yang sepenuhnya berbeda. “Go” jadi terdengar asing dengan kocokan dan petikan gitar yang bertempo lambat dan membelit. Nomor-nomor lain, sejujurnya, saya lupa karena asyik ngobrol dengan beberapa kawan lama yang kebetulan malam tadi mampir.

Keceriaan malam itu akhirnya benar-benar disudahi dengan jam session yang menghadirkan Che, Anne, Niken, dan saya. Che, bersama Nito, Uwie, dan Made membawakan “Release” dan “River of Deceit” dengan aduhai. Sementara Anne, dibantu Amus, membawakan “Black”, Niken membawakan “Smile”, dan saya kebagian “Off He Goes”.

Surya, yang semalam hadir jauh-jauh dari Cikarang, merangkum semua dalam kalimat singkat yang menohok, saat saya ajak dia ngobrol di tengah lagu “Heaven Beside You”. Sambil tertawa dia bilang, “Sori, lagi enak, nih! Soalnya kerjaan di kantor boring…”

Semoga bakal lebih banyak gig mungil yang asyik seperti “Getzcoustic”, supaya kita tidak lekas mati bosan di kantor. Amin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *