Let There Be Party!

baim gbs

Ditutup dengan “Me, Myself, and I” yang menghentak dan terdengar keren, album teranyar Gugun Blues Shelter (GBS) bareng Baim bertajuk “Let There Be Light (2014)” ini bisa dibilang solid. Tidak meledak-ledak seperti rilisan sebelumnya yang memang pekat bernuansa power blues, namun tetap sangat menyenangkan untuk dinikmati. “Let There Be Light (2014)”, jika boleh dirangkum dalam kalimat pendek, adalah album blues bernuansa pesta.

Intro di lagu pertama, “Bank Robber’s Blues” tidak mungkin salah diterka bahwa itu milik GBS. Sound gitar yang tajam dan sedikit kering, khas Gugun (setidaknya dari sekian banyak lagunya di album dan saat live), disambut kolaborasi bas dan drum yang berderap mantap. Yang terbayang di kepala kemudian adalah upaya melarikan diri dari kejaran polisi, dalam mobil yang melaju kencang dan ugal-ugalan, setelah kelar merampok bank!

“Tap Dancer” terdengar seperti segerombolan anak kecil yang asyik bermain bola di bawah siraman hujan. Joyful! Lagu-lagu seperti inilah yang membuat GBS disegani di panggung-panggung.  Berteknik tinggi, penuh energi, namun tidak kehilangan nuansa bermain yang ceria.

“He’s Got Caught” tidak terlalu mempesona. Adalah “It’s You” yang nyangkut di kepala. Nyaris terdengar seperti balada, lagu berdurasi 4 menit lebih sedikit ini mengalun manis. Namun demikian, harapan saya agar Gugun menulis balada sempurna rupanya masih belum kesampaian. “It’s You” kembali jadi sangar di pertengahan, saat raungan gitar menggemuruh, sebelum akhirnya kembali mendayu di penghujung lagu.

Paling pop-rock, jika boleh dibilang begitu, adalah “Don’t Say Goodbye” yang musik dan liriknya ditulis oleh Baim. Memang cukup pas rasanya, lagu ini diletakkan setelah “It’s You” yang (hampir) manis dan lagu penutup, “Me, Myself, and I” yang menghentak dan meninggalkan pendengar dengan signature sound GBS.

Album ini OK. Asyik. Tapi mohon diingat, saya bukan kritikus. Jadi, ini opini bebas saja, terlepas dari parameter kualitas musik atau tetek bengek omong kosong milik kritikus lainnya. After all, saya tidak percaya pada kritik. Saya percaya pada karya.

Namun, jika boleh memberi masukan, alangkah baiknya jika CD ini (dan CD musisi lokal lainnya yang beredar di toko-toko) melengkapi diri dengan metadata berupa judul lagu, artis, album, tahun, dan genre, sehingga ketika dipindahformatkan ke MP3, saya tidak perlu repot-repot meng-edit lagi. Bagaimanapun, ini adalah era digital, ketika fans musik paruh baya seperti saya memang tetap beli CD, namun sebagian besar menikmati lagunya dalam format MP3.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *