Bung, Berkaryalah!

SAYA ADA DI SANA - KONSER small

Bahwa sesungguhnya kita punya pilihan untuk terus berkarya, tanpa perlu terlalu peduli bagaimana pencapaiannya nanti. Bahwa sebenarnya kita selalu bisa berbuat lebih, tanpa perlu terlalu tunduk pada segala keterbatasan. Bahwa manusia, pada akhirnya, memang dilahirkan untuk mencipta.

Dan benarlah, semalam (8/12) di Gusto Tapas & Wine Bar, Epiwalk, konser akustik #BukuGrungeLokal bisa menggelinding dengan mulus dalam segala keterbatasannya.

Mandy dan beberapa rekan dari Wujudkan.com hadir dalam kapasitasnya sebagai penyedia lapak crowdfunding platform. Itu, jika kamu benar-benar mau tahu, adalah kendaraan paling sakti mandraguna untuk mewujudkan berbagai ide kreatif kita. Jika kamu mau kerja keras, tentu saja. Bukan jadi pengemis yang menunggu hujan emas jatuh dari langit.

Para pembaca dan pembeli #BukuGrungeLokal, juga donatur yang mendukung crowdfunding, hadir. Teman-teman dari Pearl Jam Indonesia (PJID), anak grunge Jabodetabek (yang herannya sebagian besar ternyata masih remaja) dan pecinta musik lintas genre macam Rebekah Moore dan Rudolf Dethu juga tak ketinggalan. Mereka menyempatkan diri berkelit dari macetnya jalanan Jakarta yang jahanam dan duduk manis hingga konser selesai.

Robi, Dankie, Che, Pheps, Olitz, Jessy, dan Arie PT, para pengisi acara malam itu, di luar kebiasaan orang Indonesia pada umumnya, datang tepat waktu. Barangkali kecerewetan saya, seperti biasa, ada gunanya juga. Boy yang bertugas menjadi MC (sekaligus supir antar kota antar propinsi) jelas sumringah. Jam 8 tepat dan konser akustik inipun kick off!

Robi menjadi menu pembuka. Bertelanjang kaki dan mengenakan topi terbalik, dia asyik memainkan lagu-lagu yang menginspirasinya selama ini. Dan selera musiknya, seperti bisa diduga, teramat sangat beragam.

Malam itu dia memainkan lagu rock hingga disko. Dari “Black Hole Sun”-nya Soundgarden, “Every You Every Me”-nya Placebo,  “Lake of Fire”-nya Meat Puppets, sampai “Suara Hati” milik Navicula yang, seingat saya, belum pernah dirilis resmi. Tapi yang jelas, setidaknya menurut dia, semua lagu itu adalah lagu-lagu keren, tidak peduli dari genre mana lagu itu berasal.

“Lagu bagus,” begitu cerita Robi, “Akan menjadi lagu keren jika diberi bumbu berupa punk attitude.” Dengan kata lain, tanpa jiwa memberontak, tanpa semangat menggugat, sebuah lagu hanya akan berakhir menjadi lagu bagus. Bukan lagu keren.

Berikutnya muncul Che. Bermodalkan satu gitar akustik, dia membawakan “Pesan dari Surga”, “Syair Manunggal”, dan “Broken Home”. Bagi saya pribadi, sisi muram seperti inilah yang sejak awal membuat saya sangat menyukai Cupumanik. Dalam lirik dan warna lagu, Cupumanik bisa benar-benar membius.

Saya hanya bisa berharap perjudian Cupumanik untuk meluncurkan klip video “Syair Manunggal” berbuah manis. Lagu seperti itu, jika eksekusi kreatif visualnya tidak mampu berada di level yang sama, rasanya akan sangat disayangkan.

Pheps dan Arie PT tampil membawakan kegemaran mereka, Foo Fighters. Disusul kemudian dengan satu nomor dari proyek sampingan Pheps selain Respito.

Olitz, seperti janjinya, membawakan lagu baru yang akan masuk ke album ketiga Alien Sick. “Ritual” jadi kali pertama lagu itu dimainkan ke hadapan publik, dalam format akustik pula. Berikutnya adalah “Revolusi”.

Adalah Jessy yang membuat saya mendadak merindukan BB’s Café. Sumpah mati! Vokal aduhainya di “Fell On Black Days” dan “Rooster” benar-benar melempar saya pada kenangan manis yang terkubur bersama tutupnya kafe legendaris di bilangan Menteng itu.

Membocorkan satu aransemen dari album ke-8 mereka yang akan segera diluncurkan, Robi dan Dankie menutup malam itu dengan sempurna. Sembilan belas tahun bersama, dalam musik dan segala yang menyertainya, membuat mereka tampil layaknya satu entitas. Bernas!

“Mafia Hukum”, “Merdeka”, “Ingin Kau Datang”, dan “Over Konsumsi” mengalir penuh pesona. Dalam distorsi maupun akustik yang sunyi, Navicula sepertinya tidak pernah kehilangan energi.

Navicula, Cupumanik, Alien Sick, Respito, Perfect Ten, atau bahkan tanpa band sekalipun, musisi tetap bisa berkarya. Tidak perlu membatasi diri. Sama sekali tak ada paksaan untuk membebani diri dengan segala embel-embel pencapaian kelas dunia.

Eddie Vedder pernah bilang, tidak mungkin kamu memainkan gitar di kamar, menulis lagu, dan berpikir bahwa karyamu akan disukai orang sedunia. Tidak mungkin! Kamu hanya perlu menulis lagu dan memainkannya. Mungkin untuk teman atau dirimu sendiri.

Dave Grohl, dalam film seri terbarunya yang berjudul “Sonic Highways” sama saja. Saat pertama kali bermain drum, bahkan setelah cukup lama bermain bersama Nirvana, dia tidak pernah bermimpi bahwa musiknya akan disukai ratusan juta orang di seluruh dunia.

Dia, seperti juga Eddie Vedder, menulis lagu dan bermain musik terutama untuk dirinya sendiri. Kebutuhan mereka untuk berkarya, untuk terus mencipta, sama sekali tidak ada urusannya dengan mimpi menjadi tenar atau kaya raya.

Intinya, saya cuma mau bilang: berkaryalah, karena tidak ada yang lebih menyakitkan hati dibanding rasa menyesal karena tidak melakukan sesuatu yang berarti saat kamu masih punya waktu dan energi.

2 thoughts on “Bung, Berkaryalah!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *