Pearl Jam Nite IX

image
PJNIX (foto oleh Dina Oktaviani)

Di Bandung, saya menulis review PJNVI sambil duduk di atas toilet, di sebuah kamar hotel yang disesaki teman, di bawah gempuran beragam dengkuran, jam 5 pagi. Di Cirebon, saya menulis review PJNVII menggunakan tablet abal-abal dalam perjalan di bus, sore hari.

Dini hari ini, saya menulis review PJNIX menggunakan henpon, sambil rebahan di sofa, di rumah sakit. Di atas ranjang di samping saya terbaring Abby, anak saya yang sudah seminggu sakit dan mulai pulih, sedang dipeluk ibunya.

Bicara soal Pearl Jam, meski itu hanya di level konser kelas kambing seperti malam tadi, saya selalu serius.

Immortality, band asal Cianjur, tampil mengejutkan. Jujur saja, saya tidak pernah berharap mereka tampil sesolid itu. “Better Man”, ” Yellow Ledbetter”, dan “Jeremy” apik mereka suguhkan.

Tentu saja ini adalah menu penutup mulut usil yang kerap bicara nyinyir soal band komunitas. Immortality jelas pantas tampil malam itu. Tepuk tangan dan koor dari audiens jadi bukti sahih. Mereka hadir bukan lantaran belas kasihan. They earned our respect. Period.

Bandung Lost Dogs, dengan menumpang satu bus carteran, menghantam seperti orang gila. Sejujurnya, saya tidak ingat lagu apa saja yang mereka mainkan. Yang menancap di kepala adalah kesan mendalam bahwa sesi mereka terasa seperti ledakan energi yang kasar dan indah.

Dan “Why Go”. Saya ingat betul itu. Dibawakan dengan kenaifan dan anger yang sudah lama tidak saya temukan di panggung-panggung bawah tanah macam ini.

Pasukan bas muncul sebagai menu tambahan. Lima pemain bas mengaransemen ulang ” Daughter”, “Dirty Frank”, dan ” Rats” yang lumayan asyik dibawakan Hasley, Dhia, dan Deddot.

Bittertone, yang malam itu ganti nama jadi Bitter F@cking Tone, tampil dengan dua bintang tamu. Yoda Idol yang keriting seperti Limbad dan Windy yang seksi bagai peri.

OK. Mereka berdua OK. Meskipun, setidaknya menurut saya, rekam jejak Bittertone yang identik dengan permainan yang detil dan setlist ambisius sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi kami, penggila Pearl Jam. Malam itu mereka membuktikan kembali identitas tersebut. ” Whipping”, dari semua nomor yang disuguhkan, terasa seperti mutiara yang harus dibawa pulang.

Drummer mereka, yang dicomot dari Artificial Sun, jelas lebih dari OK. He’s fucking sick!

Sonic Wood, dengan Boym Serius dan Che Cupumanik sebagai bintang tamu, menutup malam yang beranjak pagi.

Ryo, alamak! Vokalnya memang aduhay. “Sirens” ditebas. “Lightning Bolt” yang susah minta ampun, lumayan mulus disikat.

“Glorified G” dan “Nothingman” juga patut dikenang.

Malam itu, secara keseluruhan, memang patut dikenang. PJID, sekali lagi, berhasil menggelar konser dengan tema itu-itu lagi dalam nuansa yang cukup menyegarkan. Bahkan Faizal, yang tidak pernah absen sekali pun di gelaran PJN, saya rasa merasa puas dan terkesan.

Pertanyaannya sekarang, kita bakal nonton PJ di Indonesia sebelum atau setelah mereka reuni?

3 thoughts on “Pearl Jam Nite IX”

  1. Makasih mas eko.. Saya mewakili immortality dari cianjur mengucapkan banyak terima kasih untuk review nya
    Sungguh satu kebanggan bisa ikut mengisi di panggung PJN #9 ,kami bisa berada di seluruh orang2 hebat malam itu termasuk mas eko
    Mimpi yang jadi kenyataan setelah lama berkelut didalam studio dan di dalam kamar masing2 mempelajari musik PJ, dan akhirnya bisa sampai ke PJN #9 walau masih dirasa banyak kekurangan dalam perform kami,
    Intinya ,kami bisa bersilaturahmi dengan para jamily,, itu menurut kami yang terpenting
    Thanks 🙂 , cepat pulih juga abby nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *