Grunge Cigondewah

Cigondewah Poster

Mereka, orang-orang Cigondewah, memang beda. Pada saat fans grunge umumnya berjibaku bikin konser yang hingar bingar, mereka malah bikin forum diskusi. Ya, acara yang isinya duduk-duduk manis, ngobrol, dan makan bakwan sambil ngopi.

Saya, tentu saja, senang sekali. Sebagai penulis dan pecinta buku, saya selalu suka diskusi. Bukan tipe obrolan warung kopi, apalagi debat kusir, melainkan diskusi yang membuka wawasan dan bermartabat. Itu, jika kamu mau tahu, sering kali sama mencerahkannya dengan konser gila tengah malamnya Navicula.

Cigondewah Crowd

Pada 26 April 2015 yang lalu, saya berkesempatan nimbrung diskusi mereka, yang ternyata adalah kali pertama. Diskusi mengambil tempat di sebuah galeri dan studio musik bernama 133 Public Space di bilangan Cigondewah, kota tekstil di pinggiran Bandung.

Dalam diskusi santai namun serius itu hadir beberapa nama legendaris dari scene grunge lokal Bandung. Sebut saja Fanny Beatheaven dan Eski Cupumanik yang sempat menyuguhkan nomor-nomor akustik ciamik berjudul “Tenggelam”, “Kala Patah Hati”, “Hiba Hamba”, dan “Ibu”.  Juga kang A’ang yang adalah pencetus web direktori band metal terlengkap se-Bandung, Dadi Yeehaw, dan Ojel.

Apa yang dibahas? Sebagian besar adalah soal dokumentasi scene grunge lokal, baik itu poster konser, rilisan album, hingga buku. Topik yang lumayan berat, mengingat orang Indonesia pada umumnya tidak doyan mencatat. Kita seperti alergi dengan literatur. Doyannya omong kosong dan mengandalkan kalimat-kalimat basi seperti “Temen gua bilang…”, “Jaman gua dulu tuh…”, atau “Kalo gak salah ingat…”.

Meskipun dalam diskusi itu saya ditunjuk menjadi salah satu nara sumber, sebenarnya #BukuGrungeLokal tidak saya tulis dalam kerangka dokumentasi. Buku itu tidak pernah dirancang untuk jadi sebuah arsip scene grunge lokal yang mumpuni. #BukuGrungeLokal tidaklah lengkap dan sangat subjektif. Buku itu lahir semata karena memang saya suka konsernya, musiknya, dan terlebih lagi, saya suka berbagi cerita.

Sejujurnya, saya tidak tahu mau ke mana mereka melangkah, orang-orang Cigondewah itu. Apakah benar akan berbuat lebih, atau kembali jalan di tempat, seperti terjadi di seluruh pelosok negeri selama ini.

Apa pun yang terjadi, saya mengharapkan yang terbaik. Karena, sederhana saja, sejak dulu saya memang suka grunge, terlepas dari embel-embel marketing yang selama ini (dipaksa) melekat ke dirinya.

Cigondewah, kami tunggu karya kalian selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *