A Conscious Cup: Fuck!

IMG_20150611_223237

Seperti kaki kiri saya yang sudah seminggu pincang lantaran asam urat, Bendot, mobil tua milik Dadang, terseok-seok membawa kami dari Sunset Road ke Uluwatu. Puncaknya adalah di sebuah simpang jalan yang menanjak. Tanpa peringatan, Bendot menyerah. Mesinnya mati dan kami berdua cuma bisa tertawa masam.

Kap mesin dibuka dan membubunglah asap tebal dari radiator. Dalam film-film, pekatnya barangkali setara dengan kabut beracun di tanah Mordor.

Tentu saja kami tidak berhenti, apalagi menyerah. Saya dan Dadang adalah jiwa-jiwa merdeka. Kami adalah generasi rock n’ roll sesungguhnya. Bring it on, baby!

Dinginkan mesin setengah jam dan isi ulang air radiator sampai muncrat dan Bendot pun kembali ngesot. Tartatih dia melahap tanjakan demi tanjakan sebelum akhirnya kembali menyerah tepat di parkiran The Cashew Tree, Uluwatu, lokasi gig malam itu.

Oh, ya. Kali ini Dadang bukan bersama Navicula, Dialog Dini Hari, atau proyek solo #KubuCarik. Dia punya proyek lain lagi. Namanya A Conscious Coup. Isinya hanya dia sebagai gitaris/vokalis dan Adam, bule Australia sebagai penggebuk drum. Sehari-harinya Adam berprofesi sebagai guru.

Kamis (11/6) malam dan tempat itu penuh sesak. Sepertinya hanya saya, Dadang, dua orang crew panggung, dan pelayan restoran yang pribumi. Sisanya, seperti yang nanti banyak menghampiri dan memberi salut ke Dadang secara pribadi setelah konser usai, adalah turis dari Australia, Afrika Selatan, Swedia, hingga Aljazair. Mengutip Adam, yang sambil menenggak birnya (kalau tidak salah hitung, adalah botol kelima) berkelakar, “Fuck! I was 10 years late living in Bali. See? There are tons of hot girls from Brazil, Sweden, and pretty much from all over the world here. Just randomly pick them, right? But I’m married, now, and very happy. Fuck!”

Set pertama A Conscious Coup diisi gitar akustik. Dua lagu pertama Dadang tampil sendirian. Seperti biasa, dia bawakan nomor-nomor milik Dylan. Saya memperhatikan audiens, terutama yang perempuan, menegakkan duduknya dan menyimak. Sebagian memotret atau merekam video. Satu perempuan, saat set pertama berakhir, menghampiri Dadang dan berkata, “Your guitar play is great. You also have a beautiful voice. I know you’ll be great. I know.”

Setelah rehat sekitar 30 menit, sesi kedua dimulai. Dadang mengganti gitar akustiknya dengan gitar listrik. Adam, yang di sesi pertama sudah terlihat penuh tenaga, kian menggila. Dan kemudian meledaklah semua.

Saya tidak kenal lagu-lagu asli A Conscious Coup. Pada dasarnya, lagu-lagu mereka adalah semburan energi jamming yang pekat bernuansa blues rock berkecepatan tinggi dengan pukulan drum penuh tenaga yang beat-nya sangat-sangat berbau party. Yang saya kenali, meski sudah diubah menjadi seperti warna musik mereka, adalah “Come as You Are” milik Nirvana dan “Another Brick in The Wall” milik Pink Floyd. Kedua lagu itu, dimuntahkan dalam tingkat energi seperti itu, jujur saya katakan, is fucking awesome!

Selama 45 menit sesi kedua itu, ratusan bule yang sebagian besar sudah seperti kesurupan, berjingkrakan dan menari-nari di bibir panggung. Sebagai orang yang doyan nonton konser grunge tengah malam, rasanya pemandangan ini saya kenal betul.

Sebagian surfer yang malam itu hadir, membawa ukulele. Jelas mereka adalah musisi. Dan semua, surfer dengan ukulele itu, ditambah puluhan lelaki gondrong berotot namun berdandan ala hippie lainnya, tak berkedip menatap Dadang. Mereka terpukau dengan permainan slide, petikan yang seperti berlari menunggang angin, dan deru distorsi yang bersatu dengan gebukan drum yang seperti tak henti mengajak semua audiens menari. Bergoyang seperti orang gila. Fuck! This is heavy. Fuck!

Ketika semua ledakan itu berlalu, ucapan selamat dan salut selesai, saya dan Dadang kembali ke kenyataan. Kembali ke Bendot yang mogok.

Dan memang benar, akhirnya malam itu kami berpisah di pom bensin, meninggalkan Bendot di tepi jalan. Dadang mencari taksi dan membawa perlengkapan manggungnya ke rumah, sementara saya membonceng motor Trigan, soundman malam itu, kembali ke hotel.

What a rock n’ rolling night it was. Fuck!

2 thoughts on “A Conscious Cup: Fuck!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *