Review Album Musik: The Ultimate Besok Bubar (2015)

IMG_20150601_114654

Semakin mantap dengan sleazy guitar riff dan sound yang berat, Besok Bubar menghajar kita semua dengan album teranyarnya, “The Ultimate Besok Bubar (2015)”. Dua belas nomor keras menderu tanpa ampun. Sama sekali tidak memberi kesempatan bernafas.

Lagu pembuka, khas Besok Bubar, diberi judul “Babi”. Ya, mereka memang gitu orangnya. Babi.

Berturut-turut kemudian meluncur “Provoke”, “Anak Manja Ibukota”, “Tanpa Batas”, “Monoton”, “2D”, “Berlalu Lintas”, “Ruang 1×2”, “Awas!”, “Big Boss”, “Salah Tangkap”, dan “Paranoid”.

Amar semakin terdengar malas. Cara dia bernyanyi di album ini tidak lagi ambisius seperti di dua album sebelumnya. Kita kehilangan jerit siksa kubur khas grunge. Sebagai gantinya, kita disuguhi nada-nada vokal yang lebih menyatu dengan harmoni musik keseluruhan dalam chorus-chorus yang sangat bisa dinyanyikan bersama dalam konser-konser liar tengah malam, seperti yang muncul di “Ruang 1×2”,  “Awas”, dan “Salah Tangkap”. Cukup adil.

Drum, jelas dieksploitasi. Sumbangsih Rega semakin kentara. Hampir semua lagu di album ini berisi gebukan dan tendangan maut yang kesemuanya mengirim denyut-denyut asyik ke kepala. Memaksa kita goyang leher atau malah head-banging.

Tema lagu-lagu di album ini, itu yang keren. Keseharian Jakarta banget! Mulai dari budaya tawur, kelakuan buas berlalu-lintas, politisi busuk, korupsi, nahan berak (yang satu ini tebakan saya saja, belum tentu benar), anak orang kaya yang malas, sampai polisi yang (sengaja) salah tangkap.

Menikmati “The Ultimate Besok Bubar” nyaris terasa seperti baca Pos Kota. Apa yang disemburkan Amar terasa lekat. Akrab. Foto-fotonya pun, yang dijepret Bobo, menghadirkan icon paling legendaris kota Jakarta, bajaj.

Artwork album, melanjutkan tradisi dari album kedua, digarap sepenuh hati. Iroel, yang menggantikan Davro, menyuguhkan tamasya visual mengerikan yang cantik. Pikiran ruwet, yang saya duga adalah hasil sulingan dari lirik-lirik yang ditulis Amar, dituangkan dalam ilustrasi bernuansa cokelat yang dibuat seperti lukisan pasir, menampilkan kengerian-kengerian penyiksaan dan babi. Ya. Lagi-lagi babi.

Secara keseluruhan, “The Ultimate Besok Bubar” adalah rilisan yang sangat memuaskan. Meski jelas telah mengubah cetak biru musiknya (ke arah yang lebih baik, jika boleh dibilang demikian), Besok Bubar tetap terdengar menyenangkan. Penuh energi namun tidak terdengar tegang sama sekali. Di album ini, kita bisa pastikan bahwa mereka memang bersenang-senang dengan karyanya.

2 thoughts on “Review Album Musik: The Ultimate Besok Bubar (2015)”

  1. Nah ini dia ulasan singkat besok bubar..
    Bahasanya om eko emang maut..
    Di tunggu tulisan selanjutnya mas eko 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *