Navicula Ledakkan Camden Gandaria

Navicula di Camden Gandaria (foto oleh Adi Tamtomo)
Navicula di Camden Gandaria (foto oleh Adi Tamtomo)

Ratusan fans grunge yang menyerbu Camden, Gandaria, Selasa (25/8) malam tadi gigit jari. Sebagian tertahan di pintu masuk dan terpaksa menghabiskan malam di pinggir jalan karena kapasitas venue tidak mampu menampung mereka. Sebagian yang sudah berjejalan dan separuh kesurupan di dalam mendadak keki lantaran polisi meminta Navicula menghentikan badai distorsinya di lagu kesepuluh (menurut ingatan saya, lagunya cuma sepuluh).

Beberapa hari sebelumnya saya juga gigit jari. Maksud hati menonton si Pohon Tua ngamen di Goethe, Menteng, berakhir dengan duduk di emperan gedung lantaran arena konser sudah dipadati penonton. Belajar dari sana, saya datang awal sekali ke Camden.

Pukul 18.30 WIB saya sudah duduk manis dan memesan makanan. Layaknya bos besar industri musik, petang itu saya menyantap makan malam sambil menikmati Navicula yang melakukan sound check membawakan “Love Bomb”, “Refuse to Forget”, dan lagu Iwan Fals berjudul “Engkau Tetap Sahabatku”. Omong-omong, ini adalah konser ke-34 Navicula yang saya hadiri.

Dalam hati, karena posisi duduk yang demikian bossy, saya tergoda untuk menudingkan jari dan berteriak ke arah Navicula, “Kalian payah! Keluar sana, ganti band lain!” layaknya bos besar di acara idol-idolan yang nyatanya tidak menghasilkan satu pun penulis lagu berkualitas.

Pukul 9 tepat Navicula menghantam. Seperti biasa, mereka memuntahkan “Menghitung Mundur” sebagai nomor pembuka. Penonton sudah sesak seperti celana dalamnya Wonder Woman. Belum kelar verse pertama, crowd surfing pecah. Sejak detik itu, mosh pit tak henti bergejolak. Teriakan, kepalan tangan, dan keringat bersatu dalam ritual membenturkan diri yang sarat energi.

Tadinya saya setia duduk manis di belakang, menikmati suara Navicula bersama kawan dan tim buku #RockMemberontak lantaran padatnya penonton menghalangi pandangan ke arah panggung. Apa daya, energi Navicula yang luar biasa dan liarnya mosh pit bagaikan rayuan pulau kelapa. Tak mungkin diabaikan!

Kelar “Menghitung Mundur” dan “Everyone Goes to Heaven”, saya terjun ke mosh pit. Sesekali terdesak ke bibir panggung (meskipun sebenarnya tidak ada panggung). Satu dua kali kepala dan bahu saya dicium ujung sepatu dari crowd surfers yang seakan tak pernah berhenti menari di udara. Energi itu, semangat kebebasan itu, nyali yang memberontak itu, rasanya sudah lama sekali tidak saya nikmati.

Esok paginya, tentu saja, badan saya remuk redam. OK. Saya ngaku. Saya sudah tua.

Tequila dan bir membuat saya lupa, berapa lagu tepatnya yang dibawakan Navicula malam itu dan bagaimana urutannya. Persetan! Yang saya ingat, sejak terjun ke mosh pit, “Kali Mati”, “Aku Bukan Mesin”, “Bubur Kayu”, “Harimau! Harimau!”, “Love Bomb”, “Orangutan”, “Mafia Hukum”, dan “Metropolutan” (dua lagu terakhir feat Che Cupumanik) menderu seperti kereta kematian. Cepat dan tanpa ampun. Menghantam kuping, meledak di kepala, dan kemudian membakar semangat dalam jiwa. Sempurna.

Navicula, sekali lagi, seperti biasanya, meledak secara sempurna. Di telinga, kepala, dan di dalam jiwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *