Konser Wujudkankustik

Poster "Konser Wujudkankustik" (desain oleh Rudi)
Poster “Konser Wujudkankustik” (desain oleh Rudi)

Karena gig ini gratis, tidak seperti biasanya, saya membiarkan kick off molor satu jam penuh dari jadual semula. Pukul 20.00 WIB, barulah Boy Krucil membuka “Konser Wujudkankustik” dengan info penutupan lelang yang dipandunya bersama Kang Denny.

Konser akustik yang digelar di Paviliun 28 pada Selasa, 20 Oktober 2015 tersebut tadinya ditujukan untuk menggalang dana produksi buku ketiga saya yang berjudul “Rock Memberontak”. Namun kemudian, karena keasyikan ngobrol, nyanyi, dan menyesap bir dingin, saya malah lupa minta donasi, hahaha!

Biarlah. Bagi yang berkenan memberi dukungan, kalian bisa memberikan melalui jalur online di link ini: https://wujudkan.com/project/buku-rock-memberontak2/view

Jericho Boys, yang dimotori Jessy, menjadi menu pembuka. Bermodalkan satu gitar elektrik, satu gitar akustik, dan vokal, mereka menyuguhkan berbagai ‘90s rock mega hits dengan ciamik. Pearl Jam, Alice in Chains, Radiohead, Soundgarden, hingga Jane’s Addiction disikat tuntas.

Dalam sesi penutup nantinya, setelah jamming selesai, mereka kembali dengan suguhan asyik berisikan Nine Inch Nails, Blind Melon, dan David Bowie. Jericho Boys, you boleh, you!

Sesi jamming dibuka dengan kehadiran Uncal. Menahan demam akibat disengat lebah sore harinya, dia sukses membawakan “Vasoline” dan “Wicked Garden” milik Stone Temple Pilots. Berikutnya adalah Adi yang merupakan fotografer resmi buku “Rock Memberontak”. Dia juga fasih melantunkan dua tembang milik Radiohead, “High and Dry” dan “Fake Plastic Trees”.

Menu selanjutnya adalah Dhia. Penggila Britpop ini membawakan 3 lagu. Dua lagu pertama, saya duga (mengacu ke setlist yang tertera di rundown acara) adalah “Trash” dan “Disco”. Lagu ketiga, tentu saja saya kenal, “Champagne Supernova” milik Oasis. Audiens, yang sebagain besar lelaki dan berumur seperti saya, kontan ikut bernyanyi. Sebagian bagus, sebagian fals. Semuanya, saya pastikan, bahagia.

Che Cupumanik, salah satu nara sumber utama buku “Rock Memberontak” selain Robi Navicula, ikut sumbang suara. Suaranya, tentu saja, tidak sumbang. Dengan apik dia menyuguhkan “Nutshell” dan “River of Deceit”. Seharusnya dia membawakan kedua lagu tersebut bersama Nito. Akan sangat menarik menikmati kolaborasi dari dua orang yang sama menyanjung Layne Staley tersebut. Sayang, mendadak Nito harus dinas ke luar kota.

Sesi jamming, seperti sudah saya perkirakan, berlarut-larut melebihi rencana semula. Irfan, pembuat video promo buku “Rock Memberontak” yang selama seminggu penuh ditayangkan di layar media CommuterLine, mengambil alih dan membawakan “Breath” serta “Release” milik Pearl Jam. Selanjutnya hadir Arie PT, Pheps Respito, dan Ina. Masing-masing membawakan nomor-nomor milik Stone Temple Pilots, Incubus, Nirvana, dan Def Leppard.

Malam itu sebenarnya ada Amar dan Rega dari Besok Bubar yang mampir setelah sorenya menyelesaikan sesi wawancara di SCTV. Sayang mereka tidak sempat ikut jamming. Barangkali mereka lelah atau terlanjur lapar.

Bagi saya, adalah penampilan tunggal Che Cupumanik yang sangat membekas malam itu. Dengan gitar kopong, dia membawakan versi akustik “Bukan Saat Ini”. Sangat menyentuh. Tepat sosok dan nuansa seperti itulah yang saya tangkap dan tuangkan dalam buku “Rock Memberontak”. Personal. Intim. Intens. Kalau dia memang berencana untuk meniti solo career, dengan bekal penampilan seperti malam itu, saya rasa semuanya akan baik-baik saja.

All in all, terima kasih untuk semua kawan yang sudah menyempatkan hadir malam tadi. Saya sungguh menikmati setiap tetes bir dingin dan lantunan nada yang memenuhi ruangan. Nuansa Paviliun 28 yang santai dan akrab jelas makin menambah nikmat semuanya. Kalau ada definisi good time, “Konser Wujudkankustik” semalam, bagi saya, adalah yang paling tepat menggambarkannya.

Beli buku Rock Memberontak.

3 thoughts on “Konser Wujudkankustik”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *