Dialog Jatuh dalam Gerimis

DDH di Rolling Stone Indonesia
DDH di Rolling Stone Indonesia

Di antara gerimis, Silampukau membius ratusan penonton yang memadati Rolling Stone Indonesia, Rabu malam (25/11). “Malam Jatuh di Surabaya”, lagu favorit saya di album mereka, benar-benar terasa pas. Malam memang baru saja jatuh di Ampera, bersama rintik hujan yang membawa rindu.

Saya tidak datang ke sana untuk mereka. Saya hadir untuk Dialog Dini Hari (DDH). Malam itu ternyata DDH tampil tanpa Brozio. Posisinya digantikan oleh Rhesa, basis Endah N’ Rhesa.

Dadang membuka dengan ukulele. Sendirian dia membawakan “Hey Ya (Kubu Carik)” dari solo album perdananya yang bertajuk “Kubu Carik”. Saya berani bertaruh bahwa separuh lebih fans DDH yang menyemut di bibir panggung malam itu tidak bisa ikut bernyanyi. “Kubu Carik” memang belum secara resmi diluncurkan ke publik. Sampai hari ini, hanya 200 orang saja yang sudah memilikinya. Mereka adalah orang yang datang ke konser peluncuran buku “Dua Senja Pohon Tua” atau yang membelinya melalui jalur terbatas.

Berikutnya meluncur “Pohon Tua Bersandar”, “Temui Diri”, “Pelangi”, “Tentang Rumahku”, “Pagi”, dan “Oksigen”.

Deny, yang malam itu tampil necis dengan potongan rambut barunya, terlihat santai. Mengingat Rhesa bukanlah Brozio, tampaknya Deny memilih untuk bermain aman. Sesekali saja dia memainkan improvisasi drum. Sisanya, dia memastikan DDH menunggangi malam yang semakin dingin itu dengan mulus.

Sebaliknya dengan Rhesa. Dia justru terlihat sangat menikmati kolaborasi panggungnya dengan DDH. Tak henti dia meluncurkan jurus-jurus improvisasi, termasuk aksi solo di “Oksigen” yang kemudian disambut riuh penonton.

Bahwa DDH digemari banyak orang karena bicara cinta dengan cara yang elegan, itu memang benar adanya. Namun Dadang yang saya cintai adalah musisi yang konsisten (bahkan boleh dibilang berkeras) menyematkan pesan-pesan penting dalam lagu-lagunya. Malam itu, pesan penting itu berasal dari Wiji Thukul yang hingga kini tak tentu rimbanya.

Sebagai menu pamungkas, DDH membawakan lagu “Ucapkan Kata-katamu”. Lirik lagu itu berasal dari puisi perlawanan bawah tanah milik Wiji Thukul. Dengan gemilang DDH mampu menyuguhkannya menjadi sebuah lagu yang kiranya layak bersanding dengan “Kesaksian” milik Kantata Takwa.

Jadilah kemudian saya melangkah pulang dengan bait-bait ini bernyanyi dalam kepala, di bawah siraman gerimis yang seolah menolak berhenti menerpa, “Jika kau tahan kata-katamu… Mulutmu tak bisa mengucapkan… Apa maumu terampas… Kau akan diperlakukan seperti batu… Dibuang dipungut… Atau dicabut seperti rumput… Atau menganga… Diisi apa saja menerima… Tak bisa ambil bagian.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *