Konser Alam Raja

Poster Konser Limunas VIII
Poster Konser Limunas VIII

Rambut separuh keriting Morrg meliuk seperti ular, menari ngeri di bawah siraman cahaya warna biru, hijau, dan merah yang tumpah silih berganti. Rajasinga menyemburkan bisanya dari panggung. Malam itu (Minggu, 13/12) adalah kali pertama saya menikmati suguhan musik mereka. Rasanya, kalau boleh dibilang demikian, seperti ditimpa gunung runtuh!

Selama satu jam penuh mereka menghantam. Menggila. Menggilas. Karena saya tidak bisa dibilang penikmat metal (tapi kalau Megadeth masuk metal, bolehlah saya ngaku doyan metal sedikit), sekilas apa yang mereka sajikan terasa seperti album “Kill ‘Em All”. Tentu saja itu analogi abal-abal, semata karena saya tidak punya kosa kata memadai untuk menggambarkan apa yang sesungguhnya tersaji.

Yang jelas, Rajasinga malam itu terdengar, terlihat, dan terasa sangat keras, cepat, dan jujur tingkat brutal. Mengutip istilah favorit Morrg yang dituliskannya di sampul bagian dalam CD “Rajagnaruk” yang saya beli setelah konser usai, segan!

Saat menulis artikel ini, saya sedang menikmati album “Rajagnaruk”. Bisa mereka meledak di kepala. Sebagian mental ke luar telinga, beberapa masuk ke dalam di jiwa. Di antara yang menyusup itu adalah “Anak Haram Ibukota”, “Rajagnaruk”, “N.A.D. Kush”, “Ujung Tombak”, dan “99% THC 1% Skill”.

Omong-omong, setelah konser “Liga Musik Nasional VIII: Konser Alam Raja” di Bandung malam itu, apakah lengan drummer Rajasinga diganti? Saya menduga, dia punya sedikitnya 4 lengan sebagai cadangan.

Menu berikutnya adalah alasan utama saya jauh-jauh pergi ke Bandung. Navicula.

Malam itu jadi konser mereka yang ke-36 kali bagi saya. Mengingat mereka dan saya semakin cepat menua, saya khawatir umur akan menghalangi lahirnya angka keramat, konser ke-100 Navicula bagi saya. Entahlah.

Tampil tanpa Dankie yang sedang berada di Paris, Perancis, setlist Navicula malam itu terasa janggal. Dibantu Edward dan kemudian Joe Cummings (seorang penulis buku wisata/perjalanan legendaris), Navicula, di luar kebiasaan mereka, memainkan cover songs. Bukan cuma satu, melainkan 4! Bersama Joe Cummings mereka membawakan “Alive”, dan kemudian Edward membawakan satu nomor milik Balian (band-nya bersama Gembull dan Made), “Rape Me”, dan sebuah lagu milik RHCP.

Tentu saja “Menghitung Mundur”, “Everyone Goes to Heaven”, “Harimau! Harimau!”, “Aku Bukan Mesin”, “Mafia Hukum”, “Metropolutan”, dan beberapa nomor sakti lainnya disuguhkan ciamik. Atau, setidaknya, nyaris sempurna.

Beberapa kali terlihat Gembull bermasalah dengan simbalnya yang nyaris terlepas. Made juga seperti mutung lantaran monitor-nya kurang maksimal. “Orangutan” bahkan harus diulang dua kali sebelum akhirnya meluncur ganas, akibat salah tuning dan salah intro. Gila!

Navicula, seperti bisa diduga, tidak terlalu ambil peduli. Ini adalah konser rock, bukan suguhan televisi atau sesi rekaman di studio yang wajib rapi. Saya dan semua rock fans lainnya tidak hadir ke sebuah konser untuk melihat musisi idola kami bermain sempurna seperti dalam keping CD. Kami ada di sana untuk merasakan energi murni. Kami berdiri, melompat, mengepalkan tangan ke udara, dan berteriak bersama atas nama semangat pembebasan.

Oh, iya. Sebagian dari kami yang sedikit lebih gila asyik ber-crowd surfing sepanjang malam.

Navicula terus menghantam dengan keras. Robi tampil sendirian membawakan balada cantik tentang hutan yang sudah hilang, “Di Rimba”. Kemudian hadir sebuah lagu yang terbilang jarang dimainkan, “Zat Hijau Daun”.

Satu jam lebih dan usailah semua. Penonton, seperti juga saya, minta lebih. Bersama, kami meneriakkan encore. Sebagian bilang “We want more!”, sebagian lainnya menjeritkan “Curanmor!”. Apa pun, akhirnya Navicula mengabulkan do’a dan kemudian membawakan satu nomor pamungkas, sebuah lagu sakti yang membuat saya jatuh hati pertama kali, “Televishit”.

Selamat tinggal Bandung dengan hujannya yang menolak berhenti dan kemacetan mingguan yang semakin menjadi. Sampai jumpa di konser berikutnya.

One thought on “Konser Alam Raja”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *