Jiwa yang Berani

Tim Buku "Rock Memberontak"
Tim Buku “Rock Memberontak”

Nyaris tengah malam, awal November 2015, di trotoar jalanan di Jakarta Selatan. Empat lelaki separuh lelah berdiri, bicara penuh nyali. Mereka bicara soal sebuah rencana nekat yang akan menyeret lelaki kelima, yang malam itu barangkali sedang nyaman terlelap di rumahnya di Bali. Rencana gila itu, yang akhirnya benar-benar dijalankan dengan segala kemestakungannya, melahirkan sebuah lagu sakti berjudul “Jiwa yang Berani”.

Ketika pertama kali saya menemui Che dan membahas secara serius rencana penulisan buku “Rock Memberontak”, sekitar bulan Maret 2015, nama Robi belum masuk ke dalam agenda. Beberapa waktu kemudian, saat saya bicara dengan Dankie dalam salah satu sesi bincang-bincang terkait bukunya yang berjudul “Dua Senja Pohon Tua” (buku itu diterbitkan Juni 2015), barulah ide itu mengemuka. “Kalau bisa menggabungkan Che dan Robi,” kata Dankie waktu itu, “Itu bakal gila.”

Jadilah. Bukannya keberatan, Che malah bersuka cita. Dalam pertemuan selanjutnya yang kali ini membawa serta Rudi (desainer), Gede (penerbit), Adi (fotografer), dan Topang (videografer), rencana kian gila karena Che mengusulkan untuk menambah peluru bagi proyek buku “Rock Memberontak”. Peluru itu, yang hingga hari ini pun rasanya sulit saya cerna kehadirannya (saya hanya bisa bersyukur untuk itu semua) adalah sebuah lagu yang ditulisnya bersama Robi.

Dari trotoar jalanan itu, Che dan Topang terbang ke Bali. Bukan hanya Robi yang kemudian terseret, melainkan juga Ian Zat Kimia. Bersama, keempat lelaki ini bekerja keras di bidangnya masing-masing, di kediaman sekaligus studio musik milik Ian.

Che dan Robi berkolaborasi menuliskan nada dan lirik. Ian tak mau setengah hati, dia memanggil anggota Zat Kimia lainnya untuk membantu aransemen di departemen bas dan drum. Sementara Topang, sesuai gugus tugasnya dalam proyek buku “Rock Memberontak”, merekam semua proses kreasi itu ke dalam format video.

Video proses kreasi “Jiwa yang Berani” dapat ditonton di sini:

Satu ide menggelinding, melahirkan ide lainnya. Kalau dipikir-pikir, ide awal untuk menulis buku “Rock Memberontak” sangatlah rapuh. Tanpa orang-orang yang mendukung saya (dan memaklumi semua kegilaan serta kecerewetan saya, tentunya), ide itu paling banter masuk comberan. Sungguh beruntung saya dikelilingi oleh orang-orang yang punya naluri tinggi dalam berkreasi, yang paham pentingnya merawat sebuah ide. Bagi saya, merekalah sesungguhnya sosok jiwa-jiwa yang berani.

Nantikan peluncuran resmi single “Jiwa yang Berani” pada pertengahan Januari 2016, berbarengan dengan kehadiran buku “Rock Memberontak” di toko buku.

2 thoughts on “Jiwa yang Berani”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *