Pameran Musik: Melawan Pemangkasan Kenikmatan

Sebagian anggota tim pameran (foto oleh Uga)
Sebagian anggota tim pameran (foto oleh Uga)

Menikmati musik hari ini rasanya sungguh berbeda dengan dulu. Bukan perkara kualitas musiknya (karena itu tergantung selera dan keluasan cakrawala rasa masing-masing penikmatnya), melainkan soal kelengkapan menunya. Ibarat kata makanan, dulu musik disuguhkan 4 sehat 5 sempurna, hari ini disajikan dengan standar junk food, seadanya saja. Kenikmatan musik kita sudah dipangkas. Dirampas!

Mari bicara soal tema. Tidak perlulah menyoroti isu sosial, itu terlalu berat bagi nyaris semua musisi negeri ini yang memang rata-rata takut miskin. Kita bicara soal cinta saja. Betapa cinta menjadi demikian tidak puitis (dan murahan) dalam lagu-lagu sekarang. Tidak ada makna di sana. Lebih payah, bahkan bunyi lirik-liriknya pun kerap tidak berima.

Beruntung kita punya sosok seperti Che Cupumanik dan Robi Navicula. Bagi mereka, lagu haruslah indah dan punya makna. Dari kedua musisi itu lahirlah lagu-lagu cinta yang indah, puitis, dan punya kedalaman makna semacam “Perkenankan Aku Mencintainya”, “Bukan Saat Ini”, “Syair Manunggal”, “Ingin Kau Datang”, “Love Bomb”, dan “Busur Hujan”.

Pesan penting itulah yang kemudian saya tangkap dan tuliskan dalam buku ketiga saya yang berjudul “Rock Memberontak”. Buku itulah yang akan dibedah agar semua kelebihannya dapat menetes dan kita reguk bersama, sementara segala kekurangannya bisa kita temukan untuk nanti diperbaiki, dalam buku-buku musik Indonesia berikutnya.

Kenikmatan musik lainnya yang dipangkas, selain tema yang sarat makna dan suguhan puitis tadi, adalah visual. Berapa banyak rilisan musik terkini yang menyertakan artwork sebagai interpretasi visual dari semua lagu dalam sebuah album, sebagai dimensi lain dari musik (yang memang sejatinya tidak berhenti sebagai bunyi-bunyian saja)? Sedihnya, nyaris tidak ada.

Bersyukur kita masih punya Davro (dan ilustrator di dunia musik lainnya yang aktif berkarya namun belum saya kenal). Goresan tangannya telah menghiasi sampul album Besok Bubar, Dialog Dini Hari, dan Alien Sick, menjadikan suguhan musik dari band-band indie itu semakin lengkap dan enak untuk dinikmati. Semakin kaya nuansa. Itu semua akan dipamerkan, semata agar kita menyadari miskinnya dimensi musik negeri ini.

Urusan berikutnya, salah satu kenikmatan terbesar dalam musik, yang dipangkas adalah yang terkait dengan konser.

Berapa banyak konser rock yang suguhannya demikian penuh energi sekaligus mencerahkan hingga mampu menyeret kita, tanpa dipaksa oleh siapa pun, untuk sing along, moshing, atau bahkan melakukan aksi yang lebih gila seperti crowd surfing? Saya berani menduga, tidak banyak.

Tidak usah heran. Musik rock yang dipasarkan kepada kita saat ini sebagian besar sudah disunat kadar agresi dan perlawanannya sejak di dapur rekaman. Nada yang menyulut emosi, dihaluskan. Tema dan lirik yang membangkitkan kegelisahan dan menuntut perubahan, diberangus. Dipetieskan. Jadilah konser rock tak ada bedanya dengan ruang kelas sekolah yang dingin, nir-dialog, dan sama sekali tidak melahirkan inspirasi. Konser rock menjadi sekadar lampu-lampu yang membutakan, gempita tata suara, dan pesta pora, namun kehilangan makna. Di sini, rock sudah dikebiri.

Tidak perlu juga bicara soal totem konser, pernak-pernik eksistensi dan pernyataan spiritual pribadi semacam poster pertunjukan layak koleksi atau t-shirt yang membanggakan. Tidak tersedia. Konser adalah arena pemasaran bagi brand-brand raksasa untuk secara paksa menjejalkan produk dan jasanya ke jiwa-jiwa muda. Musik hanyalah alasan. Di sana, yang tersedia semata produk mereka. Sungguh celaka!

Melalui lensa kamera Adi dan Bobo, kita akan melihat bahwa perlawanan sudah terjadi. Kita akan menyaksikan betapa konser rock sejati ternyata masih bisa ditemui, meski itu artinya kita harus masuk ke lubang-lubang neraka di kota jahanam ini yang pengap oleh asap rokok dan bau keringat serta aroma alkohol.

Kreasi Davro dan Roel (juga segelintir seniman lainnya yang tidak saya ikut sertakan di sini), akan membuat kita merasa bahwa dunia musik Indonesia masih punya secuil harapan. Masih ada seniman-seniman gila yang mau dan mampu menciptakan desain poster konser yang keren, juga desain t-shirt yang membuat bangga para pemakainya.

Pada akhirnya, kalau pun memang sebagian besar orang di negeri ini memilih berjalan berbondong-bondong menuju jurang kehancuran musik, kita tidak perlu ikut-ikutan. Kita bisa memutuskan untuk berhenti dan memilih arah berbeda. Kita bisa melawan.

Nantikan “Pameran Musik: Melawan Pemangkasan Kenikmatan” di Studio Sang Akar, Tebet, selama 10 hari penuh, mulai 23 Januari 2016 yang akan datang. Mari bersama melawan kembali mengambil kendali atas hak menikmati musik kita dengan cara yang elegan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *