Konser “In Memoriam for Nandha”

A wave came crashing like a fist to the jawDelivered her wings, “Hey, look at me now!”…

Siapa pun yang cukup baik mengenal Nandha akan tahu bahwa itu adalah petikan lirik dari salah satu lagu Pearl Jam yang paling dicintainya, “Given to Fly”. Malam tadi (17/3), dibantu Jessy, Sonic Wood yang tidak tampil utuh membawakannya khusus untuk dia dalam edisi “The Rock Campus” ke-49 yang digelar di Rolling Stone Indonesia Café, Ampera.

Ya, Nandha memang sudah pergi meninggalkan kita. Seperti hilangnya seorang teman baik, kepergian dirinya tentulah meninggalkan lubang menganga di hati setiap orang, termasuk saya.

Namun demikian, kiranya tidaklah patut kita berlama-lama dalam duka. Olitz, suaminya, yang malam itu tampil bersama Alien Sick, sebelum membawakan sebuah nomor anyar berjudul “Dimensi”, menyatakan dengan tegas, “Manusia tidak mati. Kita hanya berganti dimensi.”

Malam itu memang sengaja dijadikan penghormatan musikal bagi Nandha. Teman-temannya, yang sebagian besar adalah musisi rock, bergantian mengisi panggung, mempersembahkan lagu demi lagu untuknya. Perfect Ten, Respito, Mata Jiwa , Alien Sick, Bunga, Sonic Wood, Cupumanik, OMNI, Amar Besok Bubar, Ezra Zi Factor, Trison Roxx, Eet Sjahranie, dan musisi lainnya yang tidak dapat saya ingat kembali, semua sama bersemangat dan rendah hati untuk menyumbangkan bakat mereka dalam konser yang diberi tajuk “In Memoriam for Nandha” semalam.

Ketika menghadiri pemakamannya di Tanah Kusir tempo hari, seorang teman berkata, “Separuh lebih contact list di henpon gua kayaknya dari Nandha, deh. Gua gak bakal kenal lo semua kalu bukan gara-gara dia.”

Tepat sekali!

Rasanya tidak mungkin melepaskan nama Nandha dari sepak terjang Pearl Jam Indonesia, komunitas fans Pearl Jam garis keras yang sudah satu dekade lebih saya selami. Mustahil juga bicara soal grunge lokal tanpa menyeret namanya. Buku pertama saya, “Saya Ada di Sana! Catatan Pinggir Grunge Lokal”, tidak akan lahir tanpa campur tangannya. Banyak foto di dalam buku tersebut berasal dari arsip pribadi Nandha.

All in all, grunge lokal dan scene musik bawah tanah sudah kehilangan satu penggiatnya yang paling bersemangat. Ezra, sambil sedikit terharu, merangkum itu semua dalam kalimat apik, “Bahkan dalam sakitnya, dia masih mampu dan menyempatkan diri mengurusi event musik. Gua sendiri, jujur, gak bakal sanggup!”

Nandha yang saya kenal memang seperti itu, ngotot. Dia adalah penggiat musik sejati, sosok rapuh yang bergerak sepenuhnya karena cintanya pada musik, terutama grunge lokal. Saya, terus terang, sangat menikmati event-event yang sudah pernah dia sajikan.

Thank you for some of the best gigs I’ve ever attended, my dearest friend. So long

6 thoughts on “Konser “In Memoriam for Nandha””

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *