Parahita Nan Sempurna

Malam masih sangat belia ketika “Pohon Tua Bersandar” mengalun di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Kamis, 5 April. Sialnya, saya mendengarkan lagu pembuka konser “Parahita” gelaran G-Production yang memanggungkan DDHEAR (Dialog Dini Hari dan Endah N’ Rhesa) tersebut dari luar ruang konser. Ya, saya dan beberapa penonton lainnya terpaksa menunggu di pintu masuk hingga lagu itu usai. Panitia konser kali ini benar-benar meletakkan musik sebagai menu penting dan melarang penonton yang datang terlambat memasuki gedung konser di tengah-tengah mengalunnya lagu. Cool.

Memasuki ruangan yang hampir sepenuhnya gelap, kecuali area panggung yang bermandikan cahaya lembut, saya melihat bahwa hampir semua kursi penuh terisi. Wow! Jujur saja, dengan harga tiket yang boleh dibilang lumayan mahal, kehadiran demikian banyak penonton membuat saya kagum. Ah, ternyata masih banyak kok penikmat musik sejati yang mau merogoh kocek untuk musisi lokal, asal suguhannya memang berkelas dan pantas.

Saya berani bertaruh, semua penonton yang hadir malam itu akan mengamini bahwa konser “Parahita” sungguh berkelas dan memuaskan!

Saya sama sekali tidak mengenal karya-karya EAR. Memang benar, saya sempat beberapa kali nonton konser mereka, termasuk konser kecil di Rolling Stone Indonesia beberapa tahun lalu, sebelum mereka terkenal seperti saat ini. That’s it. Saya tidak mengikuti sepak terjang mereka. Jadi, semalam, setelah pulang dari konser, saya bertanya ke Dadang melalui Whats App, “Lagu yang tadi blues jamming itu, kayaknya bukan lagu kalian, ya?”

Seperti biasa, nyaris terdengar sombong dan sangat berpuas diri, Dadang membalas, “Semua lagu kita berdua, gak ada cover. Yang bahasa Inggris semua lagu EAR.”

Pagi ini saya cari tahu melalui internet dan ternyata lagu tersebut berjudul “Baby It’s You”. Saya menanyakan lagu tersebut ke Dadang karena itu adalah salah satu momen fenomenal dalam konser “Parahita” tadi malam.

Tampil hanya berdua, Dadang dan Endah menyuguhkan kolaborasi blues yang sungguh aduhai. Setelah membuka lagu dengan permainan slide guitar yang mumpuni, Dadang kemudian dengan sangat fasih meningkahi permainan gitar Endah, yang menurut hemat saya, terbilang ciamik. Berdua, mereka silih berganti menyemburkan nada-nada blues dari senar gitar dan pita suara yang kadang terdengar merdu, kadang penuh energi, dan sesekali bebas lepas seperti ledakan gunung berapi.

Malam itu sepertinya memang digariskan untuk jadi pameran kesaktian masing-masing anggota DDHEAR. Brozio gonta-ganti instrumen, dari bass ke keyboard ke pianika hingga ke solo performance membawakan lagu manis milik EAR berjudul “When You Love Someone”. Tidak cukup sampai di situ, pada penghujung konser, saat membawakan “Oksigen”, dia juga bergantian unjuk gigi dengan Rhesa, menyuguhkan solo bass yang keren. Deny, jangan ditanya. Saking dahsyat permainannya, saya sampai lupa di lagu apa dia menghantam dengan solo drum yang luar biasa mempesona. Dia, menurut saya, DNA sejatinya adalah rocker.

Singkat cerita, DDHEAR memang sakti!

Yang menarik, setidaknya bagi saya, tentu saja Dadang. Memulai konser dengan sedikit gugup, dia lambat laun menguasai keadaan dan membuat suasana menjadi hangat dengan celetukan-celetukan garingnya. Ya, dia memang garing. Tapi, ini anehnya, kegaringan itu justru terasa pas pada tempatnya. Kepolosan kata-katanya seolah menjadi pelengkap bagi kalimat-kalimat terpelajar yang sering disisipkan Endah dalam sapaannya kepada penonton di setiap jeda antar lagu.

Usai Rhesa memamerkan solo bass yang keren sekaligus menghibur, Dadang nyeletuk, “Sudah paham kan, kenapa kita bisa main di Java Jazz? Gara-gara dia, tuh!” Atau, selesai Brozio membawakan solo performance “When You Love Someone”, Dadang masuk ke panggung dan bilang, “Habis Zio nyanyi, kayaknya aku jadi gak asyik gini. Menang gimbal doang.” Contoh lain, “Aku barusan dikasih baju nih, sama Rhesa. Katanya biar kayak aktivis. Omong-omong, aktivis sebelah lagi ulang tahun, tuh!” Tentu saja yang dimaksud adalah Robi Navicula, yang hari itu memang kebetulan sedang berulang tahun.

Suasana ruang konser yang memang didesain untuk menikmati suguhan musik seutuhnya, ditambah dengan sajian DDHEAR yang luar biasa memukau, semua kemudian disempurnakan oleh kehangatan yang terbangun antara penonton dan penampil. Gelak tawa, koor massal, dan riuh tepuk tangan bersatu menjadi narasi utuh dari sebuah pertunjukan musik nan berkelas. Sungguh, konser “Parahita” tadi malam adalah menu musik bergizi tinggi. Saya hanya bisa berdo’a semoga suguhan seperti ini bakal semakin marak dan jamak untuk kita nikmati.

3 thoughts on “Parahita Nan Sempurna”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *