Ketika Punk dan Grunge Bersatu Suarakan Perlawanan

Lejen Kaya Dia Aja Takut Sama Gua, Hahaha!
Lejen Kaya Dia Aja Takut Sama Gua, Hahaha!

Malam Jumat. Pemakaman umum Jeruk Purut. Marjinal dan Navicula. Kelar hidup lo!

Jam delapan malam dan hujan masih mengguyur. Malam itu (11/8), Joglo Beer yang terletak persis di samping pemakaman umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan, disesaki anak punk, grunge, dan orang-orang yang peduli kelestarian lingkungan.

Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang dibahas dalam diskusi dan pidato kebudayaan Rocky Gerung sore harinya di lokasi yang sama. Forum yang digagas oleh Rudolf Dethu itu, sejauh yang saya pahami, membangun gerakan kedewasaan berpikir, mulai dari upaya untuk menanggapi isu tekanan institusi agama pada keberagaman masyarakat Indonesia sampai kampanye untuk membebaskan diri menikmati alkohol dengan cara yang bertanggung jawab. Singkat kata, Dethu mengajak orang Indonesia untuk memakai pikiran dan otaknya sendiri, dan berhenti menjadi kerbau yang dicocok hidungnya.

Back to music.

Marjinal sudah melantunkan lagu pertamanya ketika saya menaiki tangga dari kedai di bawah menuju area pertunjukan. Harap disadari, saya sama sekali tidak pernah mengikuti karya dan sepak terjang punk band legendaris itu. Dalam kepala saya, Marjinal adalah suara orang-orang yang disingkirkan. Punk garis keras. Sangar.

Asyik Bergoyang Menikmati Marjinal
Asyik Bergoyang Menikmati Marjinal

Ternyata, setelah saya berdiri nyaris satu jam penuh menikmati semua lagu yang mereka bawakan malam itu, Marjinal adalah punk band yang luar biasa bagus! Lagu-lagu mereka, uniknya, terdengar merdu dan punya nuansa optimisme tinggi. Liriknya, cerdas dan lugas. Bernas.

Keras mereka menyanyikan Lagu Untuk Anjing Tirani. Bersama penonton yang tak henti bergoyang, Marjinal meneriakkan lirik “Kami marah melihat saudaraku yang tertindas di halaman rumah, ladang sendiri…” Di lain kesempatan, mereka menertawai kenyataan. “Maling-maling kecil dihakimi… Maling-maling besar dilindungi…” demikian mereka menyanyikan Hukum Rimba.

Audiens, yang dipastikan adalah fans garis keras mereka, menyambut semua lagu dengan koor penuh semangat dan tarian khas punk. Tabrak sana sini dan joget kiri kanan. Seru!

Kalau tidak salah ingat, Marjinal menutup penampilannya malam itu dengan lagu Rencong Merencong.

Jelang jam 9, Marjinal memberikan panggung kepada dewa distorsi dari Bali, Navicula.

Tampil dengan kekuatan penuh dan mood yang bagus, Navicula menghantam audiens yang menyesaki Joglo Beer. Seolah menyesuaikan diri dengan tema diskusi, malam itu Navicula tidak memulai konser dengan Menghitung Mundur seperti biasanya, melainkan membawakan Everyone Goes to Heaven. Robi, sejak detik pertama, sudah ceramah soal keberagaman agama, budaya, dan kekayaan local wisdom masyarakat Indonesia.

Navicula di Joglo Beer
Navicula di Joglo Beer

Malam itu, melalui gayanya masing-masing, Marjinal dan Navicula menyuarakan perlawanan. Punk dan grunge, di Joglo Beer malam itu, sama-sama meneriakkan semangat kebebasan manusia.

Berturut-turut kemudian meluncur Menghitung Mundur, Mafia Hukum, Aku Bukan Mesin, Orangutan, Harimau! Harimau!, Love Bomb, Busur Hujan, Kartini, Tomcat, Bali Berani Berhenti, Refuse to Forget, dan Metropolutan.

Moshing, crowd surfing, dan koor massal pecah sejak lagu pertama. Audiens Jakarta seolah menuntaskan dahaganya akan Navicula malam itu. Bibir panggung bergejolak. Tubuh-tubuh terlempar ke udara. Teriakan kebebasan memecah udara malam yang terus saja membawa butiran hujan di musim kemarau.

Saya sendiri akhirnya terseret ke bibir panggung saat Aku Bukan Mesin menghantam. Satu dua kali kepala saya terkena ujung sepatu audiens yang asyik crowd surfing. Tak apa. Inilah konser rock sesungguhnya. Panas. Penuh energi. Liar. Heavy as fuck.

Berbeda dari biasanya, malam itu audiens perempuan terbilang banyak. Kejanggalan yang patut kita syukuri tersebut juga ditangkap Robi yang kemudian berseloroh, “Sudah terlihat kesetaraan gender di kancah penonton rock. Tapi belum di kancah musisinya.”

Dankie, Leanna, dan Saya yang Separuh Teler
Dankie, Leanna, dan Saya yang Separuh Teler

Kejanggalan itu diperkuat dengan hadirnya sosok musisi folk/rock cantik bersuara merdu, Leanna Rachel. Sempat menonton penampilannya di Kompas TV beberapa hari lalu, malam itu saya melihat sosoknya sungguh berbeda. Kalau di televisi dia terlihat feminim dan “rapuh” dengan gitar kopongnya, bersama Navicula malam itu Leanna Rachel tampil tough khas lady rocker, membawakan Love Bomb.

Ledakan energi Navicula malam itu usai bersama raungan gitar Dankie di pengujung Metropolutan. Tepat jam sepuluh malam, konser selesai.

Omong-omong soal Dankie, malam itu permainan gitarnya sungguh aduhai. Solo guitar-nya di Aku Bukan Mesin, Orangutan, Busur Hujan, dan Love Bomb, asyik berat!

Distorsi memang sudah berhenti. Namun saya masih melanjutkan malam. Dua gelas tequila dan 2 botol bir dingin mengalir bersama cerita-cerita dari Leanna, Dankie, Robi, Made, Gembul, dan beberapa kawan lainnya.

Alhasil, pagi ini saya hangover. Sial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *