Quality Audience

Kita hidup pada era ketika hampir semua hal gratis. Setidaknya, sangat murah. Ambil contoh social media. Dengan beragam fiturnya yang bagus, Facebook, Twitter, dan platform lainnya disodorkan kepada kita tanpa memungut biaya.

Tentu saja kita tahu, tidak ada barang gratis di dunia ini. Uang tidak tumbuh di pohon. Kalau ada produk gratis, itu artinya kitalah – para penggunanya – produk yang dijual. Mereka menjual kita.

Produk gratis melahirkan kelompok pengguna gratisan. Iya. Memang ada kelompok yang berkualitas. Orang-orang yang menggunakan produk itu dengan intens dan rela membayar. Tapi selama produk itu gratis, sebagian besar penggunanya pastilah bermental gratisan. Coba saja tebak, seandainya untuk mengakses Facebook kita harus bayar Rp10.000 per bulan, apa masih ada yang mau?

Produk gratis selalu mampu menghasilkan pengguna gratisan yang jumlahnya besar. Sangat besar. Maka kemudian datanglah pengiklan. Dengan naif, para pengiklan berkantung tebal itu kemudian menggelontorkan iklan dan berharap pengguna produk gratis tersebut melirik iklan mereka. Syukur-syukur membeli apa yang ditawarkan.

Pengguna produk gratis yang memang bermental gratisan, apa iya mau beli barang dan jasa yang ditawarkan dalam iklan? Entahlah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *