Robusta yang Kampungan

Mari bicara soal kopi robusta. Ya, betul! Jenis kopi yang banyak dihasilkan negeri ini, namun ternyata tidak beken di luar negeri. Jenis kopi yang, katanya, hanya cocok dikonsumsi oleh peminum kopi dari kalangan bawah, di kedai-kedai butut di pinggiran kota.

Robusta tidak disukai orang Eropa dan Amerika. Buntutnya, ya kita (generasi masa kini) juga ikut-ikutan tidak suka. Toh, hampir di semua aspek kehidupan, kita berkiblat ke Eropa dan Amerika.

 

 

Robusta punya dua karakter utama yang bikin keki orang bule: pahit dan kandungan kafeinnya tinggi. Itulah alasan dibalik rendahnya minat dunia pada kopi jenis robusta.

Peminum kopi asli Indonesia (terutama yang sudah cukup usia), tentu saja, lebih gemar robusta. Ketika lidah mereka bertemu secangkir kopi arabika yang asam dan lembut, rata-rata komentar yang akan muncul adalah: “Ah, kopinya gak berasa! Kurang keras!”

Maksudnya sih, kurang pahit. Gitu.

Lalu apakah berarti kita, demi pergaulan, perlu segera meninggalkan robusta dan beralih ke kopi arabika?

Tentu saja itu terserah selera kita masing-masing!

Yang doyan nongkrong di kedai-kedai kopi kampung pasti tetap memilih robusta. Pahit dan keras. Kopinya lelaki, begitu katanya.

Sementara yang gemar keluyuran di kedai-kedai kopi bermerek dagang internasional, pastinya akan semakin terbiasa dengan arabika yang asam dan lembut. Minum kopi dengan elegan, begitu barangkali konsepnya.

Apapun pilihannya, minum kopi itu sepatutnya adalah tetap merupakan sebuah kesenangan.

Jika kamu mulai sering minum kopi dengan alasan selain kesenangan, berarti kamu sudah menempuh jalan yang salah. Kamu sudah melakukan penghujatan pada keindahan rasa dari secangkir kopi.

Untungnya, bagi pecinta kopi robusta, sekarang sudah lumayan banyak kedai kopi modern yang menjual berbagai kopi robusta khas Indonesia. Mulai dari kopi Aceh, Jawa, Flores, hingga Papua. Ada coffeewar di Kemang, Anomali Coffee dan Javva Coffee di Senopati, Warkop Nusantara di Mampang, dan banyak lagi yang lainnya.

Harga sih lumayan mencekik. Namun dibalik itu semua, gengsi juga ikut terdongkrak, karena kopi-kopi itu disajikan di kedai-kedai modern yang tak kalah pamor dibanding kedai-kedai bermerek dagang internasional yang masih kekeh jualan kopi arabika saja.

Ah, ngopi aja kok repot!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *