So Long, Chris!

Tidak banyak suara manusia yang bisa masuk ke telinga, menggugah jiwa, dan kemudian selamanya bersemayam di dalam hati. Suara Chris Cornell adalah salah satunya. Kamu boleh tidak menyukai lagunya karena terlalu keras atau kelewat aneh, tapi saya berani bertaruh, saat kamu dengar dia bernyanyi, apalagi seperti yang terekam dalam album akustik berjudul Unplugged in Sweden, kamu pasti jatuh hati. Tak heran kalau kemudian, setelah mengetahui kematiannya yang sangat mendadak pada 18 Mei 2017, semua media massa dunia dan fans mencuplik lirik Black Hole Sun sebagai bentuk penghargaan sekaligus rasa kehilangan mendalam. “No one sings like you anymore…”

Saya terpaksa setuju. Tidak akan ada lagi yang bisa bernyanyi seperti dia.

Chris Cornell bukan rock star biasa. Ketika membubarkan Soundgarden pada bulan April 1997, dia menemui anggotanya satu per satu, mengucapkan selama tinggal dan memastikan mereka mendapatkan hak kekayaan intelektual dari semua kolaborasi yang pernah dijalani. Dan beberapa jam sebelum mati, dia baru saja menyelesaikan satu konser bersama Soundgarden di Detroit, AS, yang berkumpul lagi dalam sebuah tur. Dia, kalau boleh disebut demikian, adalah rock star yang memiliki hati nurani.

Demikian lembut hatinya, bertolak belakang dengan tampilannya yang sangar (jangkung, gondrong kriwil, dan kerap berkumis serta memelihara janggut), dia tak sungkan meneteskan air mata ketika bercerita tentang kematian Andy Wood. Semua itu terekam dengan sangat emosional di film dokumenter Pearl Jam Twenty. Dalam film itulah dia mengeluarkan pernyataan yang membuat gusar banyak penggemar grunge di dunia. “Kematian grunge terjadi jauh sebelum Kurt Cobain meledakkan kepalanya sendiri,” demikian Chris Cornell berkata. “Itu terjadi ketika Andy Wood meregang nyawa di rumah sakit, dengan semua mesin pendukung kehidupan melekat di tubuhnya.”

Grunge, secinta apa pun saya kepada genre musik tersebut, sepertinya sudah memasuki pintu kematiannya. Kurt Cobain, Layne Staley, dan Chris Cornell sudah pergi. Dari Empat Dewa Grunge, tersisa satu nama saja. Eddie Vedder. Nama yang seumur hidupnya justru menolak dilabeli grunge, karena merasa istilah itu adalah akal-akalan industri musik untuk mendongkrak penjualan. Untuk memperkosa insan kreatif di dalamnya. Musisi seperti dirinya dan tiga sohibnya yang semua, dengan rumor soal penyebab kematian Chris Cornell sejauh ini, mati bunuh diri.

Well, semua akan mati. No one here gets out alive. Saya, juga kamu. That’s the truth.

Dengan musiknya, Chris Cornell sudah menginspirasi jutaan jiwa. Pertanyaannya, dengan sisa umur kita, apa yang sudah kita perbuat? Apakah sudah memberi manfaat?

One thought on “So Long, Chris!”

  1. Entah kenapa, meskipun dia ga kenal saya, dan saya juga ngga setiap hari denger lagunya, tapi ada rasa kehilangan yang sangat waktu denger berita kematiannya, seperti ada kehilangan yang besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *