Acoustic Tribute to Chris Cornell

Ini hasil jepretan siapa? Let me know! Thx.

Setelah tiga botol bir dingin, segelas arak Bali, dan lebih dari 20 lagu berlalu, tidak banyak yang bisa saya ingat. Yang jelas, malam itu kami tak henti bernyanyi. Nomor-nomor dari Soundgarden, Audioslave, proyek solo, hingga cover songs yang pernah dibawakan Chris Cornell sepanjang karirnya disuguhkan. Paviliun 28, malam itu (23/5), berubah menjadi altar pemujaan bagi dewa grunge yang tutup usia sepekan lalu.

Dandi Ukulele

Tribut akustik dibuka oleh Dandi Ukulele sekitar jam 21.30. Sesuai namanya, dia memainkan lagu-lagu gubahan Cornell dalam aransemen ukulele.

Dracill

Berikutnya adalah Dracill. Separuh mabuk, dia menyuguhkan sesuatu yang tak terduga. Empat lagu yang dia mainkan dengan gitar kopong malam itu bernuansa Britrock. Oasis dan Beatles.

Ini adalah kali kedua saya melihat Dracill tampil solo di panggung. Dibanding penampilan pertamanya dua tahun lalu di bedah lagu Jiwa Yang Berani di Studio Sang Akar, Tebet, penampilannya malam itu terasa lebih jujur dan rileks. Bir dingin memang membantu.

Hot Rod (Nito-Andi) feat Amank

Sesi ketiga adalah salah satu yang ditunggu. Nito, Andi, Hendra, dan Amank bersatu menyuguhkan nomor-nomor legendaris macam Fell On Black Days, Be Yourself, Hunger Strike, hingga River of Deceit. Dengan gitar kopong hitamnya, Nito menunjukkan dengan sangat ciamik betapa tinggi teknik dan cita rasa permainan gitar dalam lagu-lagu gubahan Cornell.

Nito. The best, dah!

Tidak diduga, setidaknya oleh saya, Fadly Padi menggabungkan diri. Bersama Amank dia membawakan Can’t Change Me dengan apik. Sejurus kemudian, Che sumbang suara di nomor Black Hole Sun.

Che-Amank-Fadly-Nito

Sudah sejak tadi audiens turut bernyanyi. Ketika kemudian The Weekend Rockstar menutup malam dengan rendisi luar biasa dahsyat dari Like A Stone, You Know My Name, dan Sunshower, semua merasa lepas. Lega. Kesedihan biarlah tanggal dari hati dan kita kubur jadi kenangan saja.

The Weekend Rockstar

Amar yang malam itu kelewat banyak menenggak Arak, memaksa setlist melampaui rencana semula. Asyik memainkan gitar sambil duduk, dia memaksa yang lain memainkan The Day I Tried to Live, Say Hello to Heaven, Spoonman, dan entah apa lagi. Semua tidak ada dalam rencana sebelumnya. Saya sendiri sudah agak kebanyakan minum bir sehingga sulit mengingat urutan lagu.

Amar sudah mabuk arak Bali

Nyaris jam dua belas malam dan keriangan itu pun usai. Dalam hati tentu masih terasa perih. Ditinggal mati musisi yang mengisi hari-hari remaja hingga dewasa seperti sekarang ini, tidak semua orang bisa mengerti. Biar saja. Saya dan kamu, kita semua tahu. Cornell adalah pahlawan kita. Dulu, sekarang, dan selamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *