Review Film: Joker (2019)

Joker. Apa lagi yang dapat diceritakan tentang dia? Rasanya, tidak ada.

Setelah Heath Ledger tahun 2008, sosok paling ikonik di semesta Batman itu seperti tak mungkin lagi dibawakan ulang. Ledger, dengan rambut berantakan, bahu lebar, suara kesal, dan senyum hampa-maniaknya, menjadi langit. Terlampau tinggi untuk dijangkau.

Setidaknya, sampai kemudian Joaquin Phoenix menyuguhkan sosok Joker yang lebih multi-dimensi. Dan, tentu saja, jauh lebih mengerikan.

Apa yang berhasil disuguhkan Phoenix, menurut saya, adalah wujud nyata dari ungkapan “di atas langit ada langit”. Di atas Ledger, jelas, ada Phoenix.

Menonton Joker (2019) seperti menyaksikan dari dekat perubahan jiwa seorang komedian yang kesepian dan sedikit gila menjadi anarkis-maniak yang sepenuhnya gila. Arthur Fleck, dalam kesepiannya yang terlunta-lunta dari satu kepedihan hidup ke kepedihan berikutnya, akhirnya memutuskan untuk menari bersama kegilaannya dan menghancurkan siapa pun yang berdiri menghadang. Arthur akhirnya menjadi Joker dengan meninggalkan jejak tumpahan darah yang panjang. Sangat panjang. Dan bisa dipastikan tidak akan segera berakhir.

Sudah lama saya tidak terpesona dengan film berbasis tokoh komik. Rasanya sudah demikian bosan mengikuti cerita komik yang dipindahkan ke layar lebar, karena biasanya berkutat pada perjuangan seorang pahlawan dengan segala macam kekuatan supernya saja. Paling-paling dibumbui sedikit krisis identitas. Film Joker, dengan keindahannya yang luar biasa mengerikan, telak melahirkan pesona yang tiada banding.

Tidak ada yang dapat saya ceritakan soal Joker. Tonton saja sendiri. Kalau boleh kasih saran, saya mohon kamu tidak bawa anak di bawah umur menonton film ini.

Dan, tolong, jangan bawa-bawa pertanyaan “apa pesan moral dari film ini?”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *