Mendaki Gunung Itu Perlu

Bagi saya, gunung terindah yang pernah saya naiki adalah Rinjani. Tak ada keraguan soal itu. Padang rumputnya, puncak gunungnya, cuacanya, danau vulkaniknya, monyet-monyet usilnya, segalanya. Rinjani adalah definisi keindahan alam dalam bahasa yang sempurna!

 

Gunung Rinjani (foto oleh Sony)

 

Nyaris lima tahun penuh saya aktif mendaki gunung di Jawa, Sumatera, dan Nusa Tenggara. Selama masa kuliah dulu, tentu saja. Dan ya, kuliah saya lama. Gak usah dibahas.

Mendaki gunung. Ngapain sih? Kurang kerjaan amat!

Hingga hari ini, sejujurnya, saya tidak tahu pasti kenapa dulu saya begitu tergila-gila dengan pendakian gunung. Bahkan sempat terpikir untuk terjun menjadi pendaki gunung salju. Tentu saja saya tidak mampu. Secara fisik, lebih-lebih secara finansial.

Jawaban paling keren dari pertanyaan menyebalkan itu, menurut saya, adalah yang disemburkan oleh George Malory. “Because it’s there!” tukasnya. Karena gunungnya ada!

Sudah ada gunung, kenapa tidak dinaiki? Demikian pikir Malory. Bahasa motivator jaman sekarang sih, “Why? Why not!”

Yang jelas, George Malory kemudian mati ketika mendaki Everest, gunung tertinggi di dunia, tahun 1924. Ketika itu belum ada seorang pun penghuni bumi yang berhasil menapakkan kaki di puncak Everest. Setidaknya, menurut catatan sejarah peradaban Eropa.

Bersama Andrew Irvine, keduanya tersungkur dan terkubur selamanya dalam pelukan salju abadi.

Mendaki gunung adalah sebuah pengalaman spiritual. Semacam dialog antara kita dengan diri kita sendiri. Sebuah media untuk berkaca.

Selama mendaki gunung, kita bisa tahu seperti apa sesungguhnya kita. Karena sehari-hari, di kehidupan kota yang sibuk ini, kita terlampau sering memakai topeng, sehingga kadang-kadang lupa mana topeng mana wajah kita yang sebenarnya.

Gunung itu jujur.

Dia tidak peduli apa profesi kita. Dia tidak mau tahu bagaimana kita memperlakukan orang di sekitar kita. Dia tak ambil pusing dengan berapa uang yang kita hasilkan setiap bulannya.

Gunung hanya punya satu aturan: hormati aku, kau akan selamat. Datanglah dengan pongah, mati kau dicabik angin beku dan diterkam runcingnya tebing yang tak kenal belas kasihan!

Berada di gunung rasanya seperti telanjang. Dan telanjang adalah yang saat ini kita perlukan. Telanjang dalam kejujuran.

Toh kita semua lahir ke dunia sebagai bayi yang jujur. Lalu kenapa kita mesti mati sebagai orang yang suka berdusta?

7 thoughts on “Mendaki Gunung Itu Perlu”

  1. Agustus 2000, ketua GMC saat itu bercerita dengan ekspresif kecintaannya pada gunung..
    Dan sampe skarang gw masih ngerasain kecintaannya di tulisan di atas

  2. Subhanallah….
    Atas nama Langit dan Bumi serta semua isi yg terkandung di dalamnya…
    saya hanya bisa berkata..?
    Mas…??? Sampean koq keren bangt sih..?? jujur ini keren…

  3. Keren bgt nih mas wustuk, ada lagi mas quote tentang gunung.
    Kenapa sih mendaki gunung, “Karna saya mencintai hidup”. Sukses terus mas

    1. Betul sekali! Kalo gak salah itu dari puisinya Gie tentang Pangrango ya?
      Ah, saya kangen sepinya Pangrango. Juga hembusan angin dinginnya

  4. walau pernah tersasar, tapi kalau fisik dan finansial memungkinkan, tetep naik gunung,,

    kenapa naik gunung? ya naik aja dulu, bis sampe puncak, diem sebentar trus turun lagi,, 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *