Jurus Tanpa Bentuk

Dari semua lagu yang pernah ditulis Dialog Dini Hari (DDH), setidaknya yang pernah saya dengar atau lihat, “Oksigen” adalah yang paling luwes dan tanpa pretensi. Ibarat jurus silat, “Oksigen” adalah apa yang ditulis Seno Gumira Ajidarma sebagai “Jurus Tanpa Bentuk”. Ia bisa mengambil bentuk apapun dan tetap sama mematikannya.

 

 

Saya pernah menyaksikan “Oksigen” dibawakan dalam bentuk rock progresif, dengan Eman (additional player) memainkan iPad-nya (difungsikan sebagai keyboard) seperti orang gila, menyemburkan solo yang bertahan nyaris semenit penuh, di konser tunggal mereka di The Phoenix, tahun 2011 lalu.

Pernah juga si Pohon Tua membawakannya dalam sosok blues yang muram, sunyi, diawali sebuah lolongan menyayat, di sebuah konser kecil di coffeewar. Malam itu seolah hanya ada dirinya, gitar kopong, dan kepedihan.

Dalam Joyland 2012, “Oksigen” menjadi kerangka bagi pameran kebolehan Deny memainkan drum. Senja berangin di kawasan Senayan menjadi saksi betapa di dalam dirinya bersemayam kehebatan seorang drummer yang memukau.

Dan semalam (Jumat, 13/7), di konser “Langkah Lengkung Langit” yang mengambil tempat di bilangan Menteng, DDH menyuguhkan “Oksigen” yang sedikit terlalu liar, bahkan untuk ukuran mereka sendiri.

Improvisasi yang mereka selipkan di tengah lagu tersebut seolah berjalan dalam dua arah yang berbeda. Pohon Tua ke satu tujuan, duet Deny-Zio ke arah yang lainnya. Meskipun, tentu saja, di chorus penutup, mereka bertiga kembali menyatu di jalan yang benar dan semua orang bertepuk tangan sekeras-kerasnya. Kagum!

Pohon Tua, dengan segenap kedigjayaannya, seperti membentur dinding. Dalam cabikan dan tepukan, ia hilang.

Dalam beberapa kesempatan, Pohon Tua memang pernah mengungkapkan kepada saya tentang kekagumannya pada kemampuan musikal Deny dan Zio. Bermain bersama mereka, demikian katanya, seperti terus-menerus mengadu jurus. Berkelahi, untuk selalu berupaya menjadi seorang musisi yang lebih baik. Sepanjang waktu.

Dan demikianlah perkelahian, pengembaraan musikal ketiga orang itu berlangsung seru di ruang rumah nan asri di Jl. Situbondo No. 10, Menteng, yang semalam dipadati Sahabat Pagi (sebutan bagi fans DDH).

Korbannya, tentu saja, kita semua. Para penikmat musik yang terpukau, terpana, dan diam mematung. Menikmati keindahan DDH dan rasanya, jika bisa, enggan membiarkan malam itu berakhir…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *