Batman-nya Sudah Move On

Move on. Rasanya itulah salah satu pesan terbesar dalam “The Dark Knight Rises (2012)”. Dari pedihnya ditinggal kekasih hingga dikhianati orang kepercayaan, Bruce Wayne akhirnya memilih move on. Menanggalkan ke-Batman-annya dan menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih baik.

 

 

Tema faith, keyakinan kuat pada sebuah ide, juga sangat menonjol. Film yang merupakan penutup dari trilogi Batman versi Nolan ini menyajikan, dengan sangat gamblang, bahwa pada akhirnya kehidupan manusia bergantung pada benang tipis bernama faith. Keyakinan.

Baik, buruk, benar, atau salah, semua hanyalah masalah keyakinan saja.

Dan keyakinan-keyakinan kuat yang berbeda itulah yang saling bentrok dalam film dengan bujet US $ 250 juta berdurasi 165 menit ini. Bentrok dalam bentuk yang paling ekstrim. Saling melukai. Saling membunuh. Saling meniadakan.

Bagi saya, cukup menyenangkan bahwa akhirnya Nolan menyajikan cerita yang tidak segelap pendahulunya, “The Dark Knight (2008)”. Dari keseluruhan trilogi Batman versi Nolan, saya rasa “The Dark Knight Rises (2012)” adalah yang paling enteng. Bisa dibilang, paling ‘Hollywood’.

Tidak ada efek tertekan yang melelahkan sebagaimana yang saya rasakan ketika menonton “The Dark Knight (2008)” dengan The Joker-nya yang kelewatan sakit jiwa.

Banyak sekali orang yang memuji pemilihan cerita yang mengangkat kembali Ra’s al Ghul, sehingga “The Dark Knight Rises (2012)” terasa sempurna sebagai penutup trilogi Batman versi Nolan ini. Ada benarnya juga.

Namun bagi saya, yang memang bukan fans berat Nolan, “The Dark Knight Rises (2012)” terasa seperti gabungan yang agak dipaksakan dari ide “memulai tatanan baru dengan menghancurkan tatanan lama” di “Batman Begins (2005)” dan “agent of chaos” di “The Dark Knight (2008)”.

Dalam beberapa kesempatan, pidato Bane bahkan terdengar seperti sosok yang tak bisa menentukan apakah dirinya adalah pejuang sosialis atau penganut teori chaos. Bane, diluar penampilan fisiknya yang memukau, tidak mampu keluar sebagai sosok antagonis yang jelas seperti The Joker.

Bagaimanapun, saya angkat topi untuk Nolan, yang akhirnya memilih untuk menyajikan akhir yang manis bagi Batman. Sebuah akhir yang sangat melegakan. Yang membuat kita semua bisa dengan santai move on dari sosok Batman versi Nolan, menuju sosok lainnya yang pasti akan datang, suatu hari nanti…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *